Penulis : Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
PELAKITA.ID – Suatu malam di penghujung Ramadhan, seorang murid bertanya kepada gurunya yang dikenal sebagai seorang sufi:
“Guru, kapan aku tahu bahwa ibadahku diterima?”
Sang guru tidak langsung menjawab. Ia hanya mengajak muridnya ke dalam masjid yang hampir kosong. Di sudut, seorang lelaki tua tampak bersujud lama sekali. Tubuhnya renta, pakaiannya sederhana, tetapi tangisnya pecah dalam diam.
“Lihatlah dia,” kata sang guru pelan.
“Apa yang kau lihat?”
“Seseorang yang sangat khusyuk,” jawab murid itu.
Sang guru menggeleng perlahan.
“Aku melihat seseorang yang takut sujudnya tidak diterima.”
Murid itu terdiam.
“Dan ketahuilah,” lanjut sang guru, “orang yang takut amalnya tidak diterima, justru sedang didekatkan kepada penerimaan. Sedangkan mereka yang merasa telah sampai, sering kali berhenti sebelum benar-benar tiba.”
Malam itu, murid itu belajar satu hal penting. Bahwa ukuran ibadah bukan pada panjangnya sujud, tetapi pada getaran hati yang menyertainya.
Ada yang selalu berbeda pada sujud terakhir di ujung Ramadhan. Ia tidak sekadar gerak tubuh yang menempelkan dahi ke bumi, melainkan semacam bisikan antara kefanaan manusia dan keabadian Tuhan. Di titik itu, waktu seperti melambat, napas terasa lebih berat, dan hati menjadi lebih jujur dari biasanya.
Ramadhan adalah laboratorium batin. Selama sebulan, manusia diajak menjalani eksperimen kesadaran. M
enahan lapar untuk memahami cukup, menahan amarah untuk merawat makna sabar, dan menahan diri untuk menemukan jati diri.
Ini bukan sekadar ritual, tetapi proses rekalibrasi jiwa. Mengembalikan manusia ke frekuensi fitrahnya. Namun, seperti semua yang fana, Ramadhan pun menuju ujungnya.
Di ujung itu, sujud terakhir menjadi semacam simpul refleksi. Ia merangkum seluruh perjalanan. Dari hari pertama yang penuh tekad, hingga hari-hari pertengahan yang mungkin mulai goyah, hingga malam-malam akhir yang dipenuhi harap dan cemas. Apakah ibadah ini diterima? Apakah diri ini benar-benar berubah?
Dalam sujud itu, tubuh merunduk, tetapi kesadaran justru meninggi. Ada kesadaran eksistensial yang muncul. Bahwa manusia, dengan segala pencapaiannya, tetaplah makhluk yang rapuh. Bahwa segala ambisi duniawi pada akhirnya akan kembali pada satu titik. Tanah. Tempat dahi bersentuhan.
Sujud terakhir di ujung Ramadhan juga adalah momen epistemologis. Cara manusia mengetahui dirinya melalui Tuhan. Dalam keheningan itu, kita menyadari bahwa pengetahuan terdalam bukanlah yang lahir dari logika semata, melainkan dari pengalaman tunduk yang total. Sebuah pengetahuan yang tidak ditulis dalam buku, tetapi diukir dalam rasa.
Di saat yang sama, ada nuansa kehilangan. Ramadhan akan pergi. Ia datang membawa cahaya, dan kini akan meninggalkan dengan sebuah tanya.
Apakah cahaya itu akan tetap menyala, atau perlahan redup tertelan rutinitas? Sujud terakhir menjadi jawaban yang belum selesai.
Ia bukan akhir, melainkan jembatan. Dari bulan suci menuju sebelas bulan berikutnya. Dari kesadaran yang terbangun menuju ujian kehidupan yang nyata. Di titik ini, sujud bukan lagi sekadar ibadah ritual, tetapi komitmen eksistensial. Menjadi manusia yang lebih sadar, lebih jernih, dan lebih dekat pada nilai-nilai ilahiah.
Dalam tradisi sufistik, sujud adalah simbol fana—lenyapnya ego di hadapan Yang Maha Ada. Maka, sujud terakhir di ujung Ramadhan adalah latihan perpisahan dengan diri lama. Sebuah pelepasan diam-diam terhadap kesombongan, kerakusan, dan segala yang selama ini membelenggu jiwa. Namun, tidak semua orang benar-benar “sampai” pada makna itu.
Ada yang hanya menyelesaikan Ramadhan biasa saja: berpuasa, tarawih, zakat, tetapi tidak menyentuh transformasi batin. Di sinilah sujud terakhir menjadi cermin paling jujur.
Ia memantulkan sejauh mana Ramadhan benar-benar bekerja dalam diri kita.
Apakah kita hanya menahan lapar, atau juga menahan ego?
Apakah kita hanya memperbanyak ibadah, atau juga memperdalam makna?
Di ujung pertanyaan-pertanyaan itu, sujud terakhir menjadi doa yang paling sunyi sekaligus paling lantang. Ia tidak selalu diucapkan dengan kata-kata, tetapi terasa dalam getaran hati. Harapan agar segala yang telah dilakukan tidak sia-sia, dan ketakutan bahwa mungkin semua itu belum cukup.
Dan ketika dahi itu akhirnya terangkat dari sajadah, ada satu kesadaran yang tertinggal. Bahwa perjalanan belum selesai.
Ramadhan mungkin berakhir, tetapi sujud tidak. Ia akan terus ada dalam setiap fase kehidupan, sebagai pengingat bahwa manusia selalu punya tempat untuk kembali. Tempat di mana segala beban bisa ditanggalkan, segala luka bisa disembuhkan, dan segala kesalahan bisa diakui tanpa topeng.
Sujud terakhir di ujung Ramadhan, pada akhirnya, adalah awal yang baru. Sebuah titik sunyi yang melahirkan harapan agar kita tidak hanya menjadi manusia yang pernah ber-Ramadhan, tetapi manusia yang terus hidup dalam nilai-nilai Ramadhan.
Karena mungkin, yang paling penting bukanlah bagaimana kita menutup Ramadhan, melainkan bagaimana kita melanjutkannya.
____
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban”









