PELAKITA.ID – Aktivisi LSM, Judy Rahardjo membagikan pengalaman dan pandangannya tentang satu buku yang menginspirasi. Buku bergenre etonografi. Mari simak sebagaimana dibagikan di laman Facebook-nya.
Kawan saya, Haekal Muhammad, membuka percakapan tentang pohon lontar, nira, dan gula merah seusai kelas Cultural Studies beberapa waktu lalu. Percakapan itu membuat saya kembali teringat pada sebuah buku lama karya James J. Fox berjudul Panen Lontar.
Buku ini pertama kali dicetak sekitar 30 tahun lalu, diterjemahkan dari disertasinya yang terbit pada 1977. Karya profesor antropologi dari Australian National University tersebut cukup menggoda untuk dibaca kembali.
Saya merasa tidak ada salahnya mengarsipkan ingatan tentang buku ini di Facebook. Pertama, karena kita bisa belajar tentang pendekatan grounded research atau grounded theory.
Pada awal hingga pertengahan 1990-an, metode ini—bersama participatory action research—sangat populer di kalangan aktivis dan penggiat perubahan sosial.
Kedua, buku ini menghadirkan konteks perubahan ekologi yang menarik, sekaligus menunjukkan bagaimana perbedaan budaya memainkan peran penting dalam sejarah suatu kawasan.
James Fox memulai pembahasannya dengan mengutip novel Max Havelaar karya Multatuli yang menyebut Pulau Rote. Dalam kisah itu diceritakan seorang makelar kopi dari Amsterdam, Batavus Drystubble, yang membuka berkas demi berkas dokumen dan membaca judul-judulnya.
Salah satunya tentang penduduk yang tidak makan di Pulau Rote, dekat Timor. Dengan nada mengejek, Drystubble berkomentar bahwa hidup di sana pasti murah. Dalam penjelasan James Fox, orang-orang di sana “lebih banyak meminum makanannya.”
Ungkapan itu tidak hanya ditujukan kepada Rote, tetapi juga kepada pulau tetangganya, Sawu.
Bahkan ada komentar dari abad ke-19 yang dikutip dalam buku ini yang menyebut Sawu sebagai “sebongkah batu di tengah lautan luas.” Gambaran semacam itu menunjukkan bagaimana orang luar memandang Rote dan Sawu pada masa itu.
Kedua pulau tersebut merupakan bagian dari rangkaian pulau yang membentuk semacam busur di sebelah selatan Nusa Tenggara Timur. Selain Rote dan Sawu, terdapat pula Sumba, Raijua, Ndao, Semau, dan Timor.
James Fox menyebut kawasan ini sebagai outer arc atau busur luar Kepulauan Nusa Tenggara. Istilah ini digunakan untuk membedakannya dari pulau-pulau di busur dalam yang bersifat vulkanik dan lebih subur.
Pulau-pulau di busur luar memiliki iklim yang lebih kering, musim kemarau yang lebih panjang, dan tanah yang relatif gersang dibanding banyak pulau tropis lain di Indonesia. Di tujuh pulau ini hidup berbagai suku bangsa dengan bahasa dan budaya yang berbeda-beda.
Buku Panen Lontar tidak sekadar menguraikan cara produksi pangan dalam kondisi ekologis yang khas di kepulauan busur luar tersebut. Ia juga membahas proses perubahan ekologi yang terjadi, terutama di Rote dan Sawu.
Perubahan itu tidak hanya memengaruhi ekosistem, tetapi juga identitas dan tradisi masyarakatnya.
James Fox mencatat bagaimana kebijakan dari luar turut mengubah lanskap ekologis dan pola penghidupan masyarakat. Salah satunya adalah pengenalan ternak sapi pada masa kolonial, yang kemudian mengancam keberlangsungan pohon lontar sekaligus memicu periode paceklik.
Yang menarik, Fox menyebut apa yang terjadi di Rote dan Sawu sebagai semacam “kembali” pada cara hidup lama—dari bercocok tanam kembali ke aktivitas meramu melalui perekonomian lontar.
Di pulau-pulau busur luar ini terdapat kemandirian yang khas dalam pengelolaan pohon lontar dan sistem pengorganisasian masyarakat dalam aktivitas ekonominya. Masyarakat memiliki cara tersendiri untuk menghitung dan mengantisipasi kemungkinan kegagalan dalam produksi lontar. Prinsip yang mereka pegang sederhana tetapi penting: makanan tidak boleh putus.
Menarik sekali melihat bagaimana masyarakat Rote dan Sawu bersiasat menghadapi perubahan ekologi.
Hal itu mengingatkan saya pada pemikiran Raymond Williams, salah satu tokoh penting dalam Cultural Studies, tentang “siasat budaya” sebagai tindakan politik—bagaimana makna dibentuk dan bagaimana masyarakat dapat berubah melalui praktik-praktik kolektif.
Membaca kembali buku ini terasa seperti menemukan kembali cara lain untuk memahami hubungan antara budaya, alam, dan daya tahan masyarakat.
Karena itu saya pun kembali mencolek kawan sekelas saya, Selle Ks Dalle, untuk mengingatkan: betapa menariknya buku lama ini bila dibaca ulang hari ini.









