Membaca Masa Depan dari Profil Kesehatan Makassar 2024

  • Whatsapp
Iustrasi (Data 2024, Dinkes Makassar)

PELAKITA.ID – Di peta Indonesia, Makassar selalu memiliki posisi yang unik. Ia bukan sekadar ibu kota provinsi di tepi laut. Kota ini adalah simpul besar yang menghubungkan pulau-pulau di kawasan timur Nusantara—sebuah gerbang tempat arus manusia, barang, ide, dan layanan publik bertemu dengan intensitas tinggi.

Tidak berlebihan jika Makassar sering disebut sebagai Gerbang Utama Indonesia Timur.

Sebagai kota terbesar keempat di Indonesia dan pusat aktivitas paling dominan di kawasan timur, Makassar berkembang dengan kecepatan yang hampir menyerupai kota metropolitan besar.

Pelabuhan, bandara, kampus, rumah sakit, dan pusat perdagangan menjadikannya magnet bagi penduduk dari berbagai wilayah. Namun di balik dinamika itu, tersimpan satu tantangan yang jauh lebih kompleks: bagaimana mengelola kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dalam kota yang terus tumbuh dan semakin padat.

Profil Kesehatan Makassar 2024 memberikan gambaran yang menarik tentang bagaimana kota ini menghadapi tantangan tersebut. Angka-angka statistik di dalamnya tidak hanya mencerminkan kondisi kesehatan masyarakat, tetapi juga memperlihatkan cara sebuah kota besar menata ulang strategi pembangunan sosialnya.

Salah satu realitas paling mencolok adalah apa yang bisa disebut sebagai jurang kepadatan kota.

Jika dilihat secara rata-rata, kepadatan Makassar tercatat sekitar 8.695 jiwa per kilometer persegi. Namun angka rata-rata sering kali menyembunyikan cerita yang lebih dramatis.

Di Kecamatan Wajo, kepadatan melonjak hingga sekitar 74.376 jiwa per kilometer persegi. Ini adalah lingkungan yang sangat padat, di mana jarak antar rumah begitu dekat sehingga pencegahan penyakit menular maupun penanganan keadaan darurat membutuhkan sistem layanan kesehatan yang sangat cepat dan responsif.

Sebaliknya, di Kecamatan Rappocini, kepadatan hanya sekitar 2.695 jiwa per kilometer persegi, menciptakan lanskap yang jauh lebih longgar.

Perbedaan ini menciptakan teka-teki tersendiri bagi para perencana kota. Di wilayah seperti Wajo, tantangan utamanya adalah tekanan terhadap infrastruktur dan risiko penularan penyakit yang lebih cepat.

Sementara di wilayah yang lebih luas seperti Rappocini, persoalan utamanya adalah memastikan masyarakat tetap mudah mengakses layanan kesehatan meskipun permukiman lebih tersebar.

Jurang kepadatan inilah yang mendorong Makassar untuk mengembangkan pendekatan layanan kesehatan yang tidak seragam, tetapi disesuaikan dengan karakter tiap wilayah.

Di tengah dinamika tersebut, Makassar juga menunjukkan satu keberhasilan penting dalam layanan kesehatan dasar.

Dengan jaringan 47 Puskesmas yang melayani sekitar 1,45 juta penduduk, kota ini berhasil memenuhi standar nasional rasio pelayanan kesehatan primer. Artinya, secara rata-rata satu Puskesmas melayani sekitar 30.000 orang.

Rasio ini bukan sekadar angka administratif. Ia berfungsi sebagai fondasi sistem kesehatan kota. Puskesmas menjadi garis depan pelayanan, tempat masyarakat mendapatkan perawatan dasar sebelum dirujuk ke rumah sakit.

Dalam konteks kota yang menjadi magnet migrasi seperti Makassar, keberadaan jaringan pelayanan primer yang kuat sangat penting untuk mencegah rumah sakit kewalahan menangani kasus-kasus yang sebenarnya dapat diselesaikan di tingkat pertama.

Namun perubahan paling menarik justru terlihat pada pergeseran strategi layanan kesehatan kota. Jika dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya, jumlah Puskesmas yang memiliki fasilitas rawat inap mengalami penurunan. Pada 2021 terdapat sekitar 12 Puskesmas dengan layanan tersebut, sementara pada 2024 hanya tersisa satu, yaitu Puskesmas di Pulau Barrang Lompo yang melayani wilayah kepulauan.

Sekilas, perubahan ini bisa disalahartikan sebagai pengurangan kapasitas layanan. Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Pemerintah kota mulai meninggalkan pendekatan lama yang berfokus pada jumlah tempat tidur, dan beralih pada konsep Paradigma Sehat yang menekankan akses cepat serta respons darurat.

Dalam pendekatan baru ini, banyak Puskesmas diarahkan untuk fokus pada layanan persalinan 24 jam dan penanganan kegawatdaruratan dasar. Artinya, setiap kecamatan memiliki titik stabilisasi medis yang mampu memberikan penanganan awal sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit. Pada saat yang sama, dua Puskesmas besar—Batua dan Jumpandang Baru—sedang dikembangkan menjadi rumah sakit penuh.

Dengan kata lain, Makassar tidak sedang mengurangi layanan kesehatan, melainkan mengubah struktur infrastrukturnya: Puskesmas dibuat lebih lincah dan responsif, sementara fasilitas yang lebih besar ditingkatkan menjadi rumah sakit yang lebih spesialis.

Transformasi ini juga tercermin dalam indikator pembangunan manusia. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di South Sulawesi pada 2024 mencapai 75,18, yang masuk kategori tinggi. Indikator ini menggabungkan tiga dimensi utama: kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak.

Harapan hidup masyarakat telah mencapai sekitar 73,83 tahun, sementara pengeluaran riil per kapita meningkat sekitar Rp434.000 dibanding tahun sebelumnya.

Dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,56 persen, tampak bahwa perkembangan ekonomi kota mulai diterjemahkan ke dalam peningkatan kualitas hidup masyarakatnya.

Di balik semua angka itu, Makassar juga menyimpan satu kekuatan besar: energi demografi muda. Piramida penduduk menunjukkan bahwa kelompok usia 15 hingga 19 tahun merupakan kelompok terbesar di kota ini. Sementara kelompok usia lanjut, seperti 70 hingga 74 tahun, jumlahnya jauh lebih kecil.

Kondisi ini sering disebut sebagai bonus demografi. Generasi muda tersebut bukan hanya kelompok yang membutuhkan layanan kesehatan, tetapi juga calon tenaga kerja, inovator, dan pengguna awal teknologi kesehatan digital. Jika dikelola dengan baik, mereka dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi dan sosial bagi kota ini dalam satu dekade ke depan.

Namun bonus demografi tidak otomatis menjadi keuntungan. Ia hanya akan menjadi kekuatan jika generasi muda tersebut sehat, berpendidikan, dan memiliki akses pada peluang ekonomi yang memadai.

Pada akhirnya, Profil Kesehatan Makassar 2024 menggambarkan sebuah kota yang sedang menyesuaikan arah layarnya. Dalam tradisi maritim Sulawesi Selatan, terdapat sebuah ungkapan yang sangat terkenal: “Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai.”

Ungkapan ini seolah mencerminkan perjalanan Makassar hari ini. Kota ini terus bergerak maju, menata ulang infrastrukturnya, memperkuat sistem kesehatannya, dan memanfaatkan energi generasi mudanya. Tantangan tetap ada—terutama dalam menghadapi kepadatan penduduk yang terus meningkat—tetapi arah perjalanannya tampak jelas.

Makassar bukan sekadar kota yang bertumbuh.

Ia adalah kota yang sedang berevolusi.