Setelah Menonton ‘Endgame’ Gita Wirjawan | Mearsheimer: Perang Iran Bisa Berkepanjangan karena Ancaman Eksistensial

  • Whatsapp
John J. Mearsheimer adalah seorang teoritikus hubungan internasional yang menganut aliran realisme. Ia pernah menjabat sebagai R. Wendell Harrison Distinguished Service Professor di Departemen Ilmu Politik University of Chicago, tempat ia mengajar sejak tahun 1982. Gita Wirjawan adalah seorang pengusaha dan pendidik asal Indonesia. Ia merupakan pendiri sekaligus mitra utama Ikhlas Capital serta menjabat sebagai Ketua Ancora Group. Saat ini, ia juga mengajar di Stanford University sebagai visiting scholar pada Stanford Precourt Institute for Energy.

PELAKITA.ID – Dalam sebuah wawancara terbaru, ilmuwan politik hubungan internasional John J. Mearsheimer menilai konflik antara Iran di satu sisi dan aliansi Amerika Serikat serta Israel di sisi lain berpotensi berkembang menjadi perang yang jauh lebih panjang dari perkiraan awal.

Menurut Mearsheimer, dinamika perang tersebut sangat berbeda dengan asumsi sebagian pengambil kebijakan di Washington dan Tel Aviv. Bagi Iran, konflik ini bukan sekadar persaingan geopolitik biasa, melainkan ancaman eksistensial terhadap kelangsungan negara mereka.

“Dari sudut pandang Iran, ini adalah ancaman terhadap keberadaan mereka sebagai negara. Karena itu, menyerah bukan pilihan,” ujarnya.

Pelajaran dari Perang 12 Hari

Mearsheimer mengingatkan bahwa pengalaman “perang 12 hari” sebelumnya memberikan gambaran penting tentang keseimbangan kekuatan yang sebenarnya. Konflik tersebut pada akhirnya berhenti bukan karena Iran kalah, tetapi karena Israel dan Amerika Serikat memilih menghentikannya.

Pada saat itu, Israel mulai menghadapi kesulitan mempertahankan sistem pertahanan rudalnya dari serangan balistik Iran. Seiring berjalannya waktu, Iran juga semakin efektif menembus sistem pertahanan tersebut karena proses pembelajaran militer yang terjadi selama perang.

“Negara belajar ketika berperang,” jelasnya. “Pada awal konflik, Iran mungkin masih meraba-raba. Tetapi seiring waktu mereka menjadi semakin efektif dalam menembus pertahanan Israel.”

Selain tekanan militer, ada faktor strategis lain yang membuat Washington tidak ingin konflik berlanjut terlalu lama. Amerika Serikat khawatir Iran akan menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global yang dapat memicu krisis ekonomi internasional.

Mengapa Iran Tidak Akan Menyerah

Dalam situasi saat ini, Mearsheimer berpendapat bahwa Iran hampir pasti akan terus bertahan. Jika mereka kalah atau berhenti berperang, risiko yang dihadapi bukan sekadar pergantian pemerintahan, tetapi kemungkinan kehancuran negara atau fragmentasi wilayah.

Ia menilai sebagian strategi Barat didasarkan pada asumsi keliru bahwa rezim Iran rapuh dan akan runtuh jika pimpinan mereka dilumpuhkan. Strategi yang dikenal sebagai “decapitation strategy”—menghilangkan pimpinan tertinggi dengan harapan sistem politik runtuh—menurutnya tidak memiliki rekam jejak keberhasilan yang kuat.

Sebaliknya, serangan terhadap pemimpin negara atau serangan terhadap warga sipil sering kali justru memicu efek sebaliknya: masyarakat yang sebelumnya kritis terhadap pemerintah malah bersatu menghadapi ancaman dari luar.

“Ketika pemimpin dibunuh dan masyarakat sipil ikut menjadi korban, bahkan mereka yang tidak menyukai pemerintah akan cenderung ‘rally around the flag’,” kata Mearsheimer.

Pertanyaan Besar bagi AS dan Israel

Jika Iran hampir pasti tidak akan menyerah, pertanyaan yang lebih penting menurutnya justru terletak pada pihak Amerika Serikat dan Israel: seberapa lama mereka bersedia mempertahankan konflik tersebut.

Ia menilai kemampuan Iran untuk terus bertahan cukup besar, sementara Amerika Serikat dan Israel memiliki batasan politik, ekonomi, dan militer dalam mempertahankan perang yang panjang.

“Pertanyaannya bukan apakah Iran akan berhenti. Pertanyaannya adalah kapan Amerika dan Israel memutuskan bahwa perang ini sudah cukup,” ujarnya.

Dalam pandangan Mearsheimer, perang yang diperkirakan berlangsung singkat berpotensi berubah menjadi konflik berkepanjangan dengan konsekuensi geopolitik yang jauh lebih luas, baik di Timur Tengah maupun di panggung global.

Prospek Perang Iran dan Pilihan Sulit Amerika Serikat

Menurut Mearsheimer, pertanyaan kunci dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran adalah kapan Washington dan Tel Aviv memutuskan bahwa perang ini sudah cukup.

“Sulit untuk mengatakan kapan titik itu akan datang,” ujarnya. “Perang ini bisa berlangsung beberapa bulan, bahkan lebih dari satu tahun.”

Di tingkat militer, terdapat klaim dari sebagian pihak di Barat bahwa Iran mulai kehabisan persenjataan, khususnya rudal. Namun Mearsheimer meragukan asumsi tersebut. Ia menilai Iran masih memiliki berbagai jenis senjata, mulai dari drone, rudal jarak pendek, hingga rudal jarak jauh.

Dalam klasifikasi sederhana, rudal jarak jauh digunakan untuk menyerang Israel, sementara rudal jarak pendek dan drone banyak diarahkan ke target di kawasan Timur Tengah, termasuk negara-negara Teluk dan wilayah seperti Azerbaijan.

Iran, menurutnya, memiliki persediaan besar rudal balistik jarak pendek dan drone. Hal ini terlihat jelas dari pengalaman perang di Ukraina, di mana drone buatan Iran memainkan peran penting bagi Rusia pada tahap awal konflik.

“Banyak negara yang berperang saat ini memiliki persediaan drone yang besar,” katanya. “Iran juga termasuk di dalamnya.”

Target Ekonomi yang Rentan di Teluk

Mearsheimer menjelaskan bahwa Iran tidak membutuhkan banyak rudal untuk memberikan dampak besar terhadap negara-negara Teluk. Target utama bukanlah militer, melainkan infrastruktur ekonomi strategis.

Serangan terhadap fasilitas minyak, kilang energi, atau instalasi desalinasi dapat memberikan dampak yang sangat besar terhadap ekonomi negara-negara seperti Arab Saudi atau Uni Emirat Arab.

“Tidak perlu banyak rudal atau drone untuk melumpuhkan negara-negara tersebut,” katanya.

Karena itu, Iran memiliki kemampuan untuk memainkan strategi jangka panjang terhadap negara-negara Teluk. Bagi Teheran, konflik ini bersifat eksistensial—menyangkut kelangsungan negara.

Apakah Iran Kehabisan Rudal?

Memang benar bahwa jumlah rudal balistik Iran yang diluncurkan ke Israel menurun dibandingkan hari-hari pertama konflik. Namun menurut Mearsheimer, hal itu tidak serta-merta menunjukkan bahwa persediaan rudal Iran menipis.

Ia mengingatkan bahwa dalam konflik sebelumnya, Iran juga mengurangi jumlah peluncuran rudal seiring waktu karena mereka semakin efektif menembus sistem pertahanan udara Israel.

“Negara belajar selama perang berlangsung,” katanya.

Selain itu, banyak rudal Iran disimpan di fasilitas bawah tanah atau dalam sistem peluncur bergerak, sehingga sulit dihancurkan melalui serangan udara.

“Sebagian rudal mungkin berhasil dihancurkan,” ujarnya, “tetapi kemungkinan besar tidak dalam jumlah besar.”

Apakah Akan Ada Pasukan Darat?

Mearsheimer juga membahas kemungkinan keterlibatan pasukan darat. Ia menyebut adanya laporan bahwa Barat mencoba memicu pemberontakan internal di Iran, terutama dengan melibatkan kelompok Kurdi.

Ia menduga bahwa sejumlah kecil personel operasi khusus dari badan intelijen seperti Central Intelligence Agency atau Mossad mungkin sudah berada di lapangan untuk membantu upaya tersebut.

Namun ia menilai sangat kecil kemungkinan Amerika Serikat melakukan invasi skala besar seperti yang pernah terjadi di Irak.

Iran jauh lebih besar, dengan populasi sekitar 93 juta orang dan medan geografis yang sulit.

“Orang Iran akan bertempur dengan sangat keras jika diserang,” katanya. “Ini soal nasionalisme.”

Ia juga mengingatkan bahwa pengalaman militer Amerika di Vietnam, Irak, dan Afghanistan menunjukkan bahwa intervensi militer sering kali berakhir dengan kegagalan jangka panjang.

Risiko Eskalasi Nuklir

Salah satu kekhawatiran terbesar adalah kemungkinan eskalasi menuju penggunaan senjata nuklir.

Jika perang berakhir tanpa kekalahan Iran dan rezim di Teheran tetap berkuasa, insentif bagi Iran untuk mengembangkan senjata nuklir akan meningkat drastis.

Menurut Mearsheimer, logika ini mirip dengan yang terjadi di Korea Utara, yang berhasil mengembangkan senjata nuklir sebagai alat penangkal terhadap intervensi militer.

Jika Iran akhirnya memperoleh senjata nuklir, Israel kemungkinan akan mempertimbangkan opsi ekstrem untuk mencegahnya.

Situasi ini, menurutnya, sangat berbahaya bagi stabilitas global.

Dunia Menuju Multipolaritas

Dalam perspektif yang lebih luas, Mearsheimer menilai dunia kini bergerak menuju sistem multipolar dengan kompetisi keamanan yang semakin intens.

Dalam kondisi seperti itu, insentif bagi negara-negara untuk memiliki senjata nuklir akan meningkat. Negara seperti Jepang, Korea Selatan, Turki, bahkan Arab Saudi mulai mempertimbangkan opsi tersebut.

“Senjata nuklir adalah bentuk penangkal tertinggi,” katanya.

Jika satu negara di kawasan memperoleh senjata nuklir, negara lain kemungkinan akan mengikuti—menciptakan efek domino yang sulit dikendalikan.

Sumber rujukan:

https://www.youtube.com/watch?v=oT4OcBYEZac