Sastra Maritim | Lelaki dari Teluk Taipa

  • Whatsapp
Lelaki dari Teluk Taipa (dok: Pelakita/AI)
  • Ayahku bukan hanya seorang nelayan. Ia juga seorang pembudidaya rumput laut, seperti banyak orang di Teluk Taipa. Laut bagi kami bukan sekadar tempat menangkap ikan, tetapi juga ladang yang ditanam dengan harapan.
  • Pendidikan, bagiku, seperti belajar membaca pasang surut laut. Tanpa memahaminya, seorang nelayan bisa berlayar di waktu yang salah dan pulang tanpa hasil. Tetapi dengan pengetahuan, ia dapat memilih waktu dan arah yang tepat.

PELAKITA.ID – Teluk Taipa tidak pernah benar-benar sunyi. Bahkan sebelum matahari terbit, ketika langit masih berwarna biru gelap dan garis cakrawala hampir tak terlihat, air laut berbisik pelan menyentuh lambung lepa kayu kecil.

Aroma asin laut bercampur dengan bau samar rumput laut yang hanyut bersama arus.

Garam, solar perahu, dan aroma tanaman laut yang tertebas musim. 

Di tempat itulah aku dilahirkan—di antara suara ombak dan irama para nelayan yang bersiap memulai hari baru di laut.

Keluargaku sederhana, seperti kebanyakan keluarga yang tinggal di sepanjang pesisir.

Rumah kami berdiri di atas tiang-tiang kayu yang menghadap langsung ke laut.

Lantai papan rumah itu telah halus oleh jejak kaki telanjang selama bertahun-tahun.

Ketika air pasang datang, laut seakan berada tepat di bawah rumah kami, membawa suara tiang bambu yang berderit dan percikan ikan di air.

Ayahku adalah seorang nelayan. Bukan nelayan yang memiliki kapal besar atau mesin mahal.

Ia bekerja dengan perahu kayu kecil yang selalu ia perbaiki sendiri setiap kali kayunya mulai retak atau catnya memudar karena garam laut. Tangannya kasar, selalu berbau tali, minyak, dan laut.

Sejak kecil aku sudah mengikutinya ke laut.

Pada awalnya aku hanya mengamati. Aku duduk diam di ujung perahu ketika ia memeriksa perangkap atau mengurai tali pancing yang kusut. Lama-kelamaan ia mengizinkanku membantu.

Aku belajar menarik perangkap kepiting dari dasar laut yang berlumpur, mencari lobster yang bersembunyi di sela-sela karang, dan melempar jala dengan hati-hati agar terbentang lebar di atas air.

Laut adalah ruang kelas pertamaku. Taipa, lalu bentang Laut Flores di selatan kemudian berputar di Selat Makassar di sekitar Tanakeke.

Ayah jarang berbicara panjang. Namun setiap tindakannya selalu mengandung makna. Ia mengajarkanku kesabaran ketika jala kami terangkat kosong.

Ia mengajarkanku kerendahan hati ketika badai memaksa kami pulang lebih cepat. Dan ia mengajarkanku rasa syukur ketika perangkap kami penuh kepiting dan keranjang ikan terasa berat.

“Ingat,” katanya suatu kali sambil mengemudikan perahu di laut yang tenang, “laut memberi kita makan, tetapi laut tidak pernah menjadi milik kita.”

Pagi-pagi seperti itu adalah saat-saat paling bahagia dalam masa kecilku.

Matahari terbit di Teluk Taipa melukis langit dengan warna-warna yang sulit kulukiskan—jingga, merah muda, dan emas yang memantul di permukaan air.

Burung-burung laut berputar di atas kepala kami menunggu sisa ikan, sementara perahu-perahu lain perlahan muncul di garis cakrawala.

Denyut kehidupan di teluk tidak selalu damai.

Banyak keluarga hidup dalam kesulitan. Ada hari-hari ketika para nelayan pulang dengan keranjang kosong. Saat itu terjadi, orang-orang mulai cemas memikirkan bagaimana membeli beras atau memperbaiki jala mereka. Kemiskinan hidup diam-diam di antara kami, seperti bayangan yang mengikuti setiap rumah.

Ketika aku mulai beranjak dewasa, aku mulai melihat hal-hal yang dulu tidak kupahami saat kecil.

Orang-orang mulai berkenalan gawai, pulsa data hingga medsos.

Beberapa dari kami yang muda, berhenti berusaha. A

lih-alih ikut memperbaiki perahu ayah atau belajar cara menangkap ikan yang lebih baik, mereka menghabiskan malam main game online, Tiktokan saban malam, dan juga ngonten. 

Keluarga-keluarga mulai retak. Anak-anak berhenti sekolah terlalu dini karena orang tua mereka percaya bahwa laut saja sudah cukup untuk menghidupi mereka.

Aku ingat seorang tetangga yang dahulu memiliki perahu kuat dan peralatan tangkap yang baik. Ia dihormati di kampung. Namun perlahan ia berubah. Malam-malamnya dipenuhi minuman. Utang datang satu demi satu. Akhirnya perahunya dijual, dan keluarganya meninggalkan teluk.

Menyaksikan kisah-kisah seperti itu membuat hatiku perih.

Teluk yang mengajariku begitu banyak hal juga menunjukkan bahaya hidup tanpa harapan.

Ayah jarang menghakimi orang lain. Namun kadang ia berbicara pelan ketika kami pulang dari laut.

“Menjadi nelayan saja tidak cukup,” katanya suatu malam sambil memperbaiki jala di bawah cahaya lampu minyak yang redup. “Dunia sedang berubah.”

Saat itu aku belum sepenuhnya memahami maksudnya. Namun aku mulai melihat bahwa kampung kami berdiri di antara dua dunia—dunia lama para nelayan tradisional dan dunia baru yang dibentuk oleh pembangunan dan modernisasi.

Teknologi baru mulai muncul di kota-kota dekat pantai. Kapal-kapal yang lebih besar berlayar di pelabuhan yang jauh. Pasar berubah. Harga ikan naik turun. Cuaca menjadi semakin sulit diprediksi.

Sebagian nelayan mampu beradaptasi, tetapi banyak yang kesulitan mengikuti perubahan.

Aku mulai bersekolah di sebuah bangunan kecil dekat masjid desa.

Ruang kelasnya memiliki meja-meja kayu dan jendela retak yang membiarkan angin laut masuk dengan bebas. Kadang kami bisa mendengar suara ombak ketika guru menjelaskan matematika atau geografi.

Bagiku, sekolah adalah samudra yang lain.

Buku-buku membuka pintu menuju dunia yang jauh melampaui Teluk Taipa. Aku belajar tentang negara-negara di seluruh dunia, tentang ilmu pengetahuan, tentang sejarah peradaban manusia.

Aku menyadari bahwa laut tidak hanya menghubungkan para nelayan, tetapi juga bangsa-bangsa dan kebudayaan.

Setiap sore setelah pulang sekolah, aku kembali ke pantai untuk membantu ayah. Hidupku seakan berjalan di antara dua dunia—ruang kelas dan laut.

Terkadang itu terasa melelahkan.

Beberapa temanku berhenti sekolah karena lebih memilih mendapatkan uang cepat dari melaut.

Yang lain percaya bahwa pendidikan tidak diperlukan bagi anak-anak nelayan.

“Untuk apa belajar terlalu banyak?” seorang teman pernah bertanya. “Laut sudah ada di depan kita.”

Namun ada sesuatu dalam diriku yang menolak menerima pemikiran itu.

Aku telah melihat terlalu banyak keluarga terjebak dalam lingkaran yang sama—bekerja keras tetapi tidak pernah benar-benar maju, mengulangi kesulitan yang sama dari tahun ke tahun.

Hidup mereka hanya dibentuk oleh hari ini, jarang oleh mimpi tentang masa depan.

Aku menyadari bahwa kemiskinan bukan hanya soal uang.

Kemiskinan juga lahir dari kurangnya pengetahuan, disiplin, dan visi hidup.

Pendidikan, bagiku, seperti belajar membaca pasang surut laut. Tanpa memahaminya, seorang nelayan bisa berlayar di waktu yang salah dan pulang tanpa hasil. Tetapi dengan pengetahuan, ia dapat memilih waktu dan arah yang tepat.

Ayah mendukung pendidikanku meskipun itu tidak mudah bagi keluarga kami.

Kadang ia pulang dari laut dengan hasil tangkapan yang sangat sedikit, tetapi ia tetap membayar buku-buku sekolahku. Ketika aku mengucapkan terima kasih, ia hanya tersenyum.

“Kamu harus melangkah lebih jauh daripada ayah,” katanya.

Kata-kata itu tinggal lama dalam ingatanku.

Seiring waktu, aku semakin menyadari perubahan dunia di sekitar kami. Jalan-jalan mulai dibangun mendekati pantai. Pasar berkembang. Anak-anak muda dari desa mulai pergi ke kota mencari kesempatan yang lebih baik.

Modernisasi datang ke teluk secara perlahan, tetapi pasti.

Teluk Taipa di persimpangan jalan, cita-cita belum kelihatan hilalnya. 

***

Oh ya, saya ingin cerita lagi tentang ayahku.

Ayahku bukan hanya seorang nelayan. Ia juga seorang pembudidaya rumput laut, seperti banyak orang di Teluk Taipa. Laut bagi kami bukan sekadar tempat menangkap ikan, tetapi juga ladang yang ditanam dengan harapan.

Di pagi hari, ayah melaut mencari kepiting, lobster, atau ikan. Tetapi ketika musim rumput laut tiba, waktunya lebih banyak dihabiskan di perairan dangkal teluk.

Di sana, ia merentangkan tali-tali panjang yang diikat pada patok kayu. Pada tali itulah bibit rumput laut diikat satu per satu dengan sabar.

Ibuku selalu membantu.

Ia ikut menyiapkan bibit, mengikat potongan-potongan kecil rumput laut pada tali, lalu menjemurnya ketika panen tiba. Tangannya cekatan, bergerak cepat sambil sesekali bercakap dengan para ibu lain yang melakukan pekerjaan yang sama di tepi pantai.

Bagi kami, rumput laut bukan sekadar tanaman laut. Ia adalah harapan keluarga.

Ketika panen berhasil, halaman rumah kami penuh dengan rumput laut yang dijemur di atas para-para bambu. Warnanya berubah dari hijau menjadi kecoklatan ketika kering. Bau khasnya memenuhi udara pesisir.

Ibuku lalu menimbang hasil panen, mengikatnya dalam karung, dan membawanya ke pengepul yang datang dari kota.

Dari situlah kami membeli beras, buku sekolah, dan kebutuhan sehari-hari.

Namun keadaan mulai berubah ketika aku beranjak remaja.

Rumput laut yang dulu tumbuh subur perlahan mulai sakit. Batangnya menjadi pucat dan rapuh. Daunnya seperti dilapisi warna putih yang aneh.

Orang-orang di kampung menyebutnya penyakit “ice-ice.”

Tanaman yang terkena penyakit itu tidak bisa tumbuh dengan baik. Dalam beberapa hari saja, ia bisa membusuk dan putus dari tali.

Panen yang dulu bisa memenuhi halaman rumah kini semakin sedikit.

Ayah sering berdiri lama di tepi pantai memandangi bentangan tali-tali rumput laut yang mengapung di teluk.

Kadang ia mengangkat satu rumpun yang rusak, mengamatinya sejenak, lalu melemparkannya kembali ke laut dengan wajah murung.

“Airnya sudah berubah,” kata beberapa nelayan.

Ada yang mengatakan suhu laut semakin panas. Ada pula yang berbisik bahwa air di teluk mulai tercemar.

Di seberang teluk, kami bisa melihat sesuatu yang dulu tidak pernah ada di masa kecilku.

Sebuah cerobong asap tinggi menjulang di kejauhan.

Pada malam hari, kadang cahaya dari kawasan industri itu terlihat samar dari pantai. Siang hari, asap tipis sesekali keluar dari cerobongnya, melayang perlahan di langit.

Tak ada yang benar-benar tahu apakah itu berkaitan dengan penyakit rumput laut yang menyerang ladang-ladang kami.

Namun keberadaannya membuat banyak orang di teluk mulai merasa khawatir.

Para nelayan sering membicarakannya di warung kecil dekat pantai.

“Dulu laut kita tidak seperti ini,” kata seorang tetua kampung.

“Airnya lebih jernih, rumput laut tumbuh cepat.”

Sekarang, panen sering gagal. Banyak keluarga mulai kesulitan. Ada yang meninggalkan budidaya rumput laut. 

Di rumah, aku sering melihat ayah dan ibu berbicara pelan pada malam hari.

Mereka menghitung hasil panen yang semakin sedikit, membandingkannya dengan kebutuhan hidup yang terus berjalan.

Aku tahu mereka berusaha kuat namun aku juga tahu bahwa masa depan kami tidak lagi sesederhana dulu. Teluk Taipa masih sama indahnya ketika matahari terbit. Ombak masih memukul pantai dengan irama yang sama. Burung-burung laut masih berputar di langit.

Tetapi kehidupan para nelayan perlahan berubah.

Dan dari perubahan itulah aku mulai memahami bahwa masa depan tidak bisa hanya bergantung pada laut seperti masa lalu.

Kami harus belajar lebih banyak.

Kami harus memahami dunia yang sedang berubah.

Dan bagi seorang anak yang lahir di teluk, kesadaran itu datang perlahan—bersama kekhawatiran, harapan, dan tekad untuk mencari jalan yang lebih baik.

***

Bagi sebagian keluarga, perubahan itu membawa kemajuan. Namun bagi yang lain, perubahan itu menimbulkan kebingungan.

Mereka yang menolak belajar keterampilan baru sering tertinggal. Perahu tanpa mesin tidak mampu bersaing dengan kapal yang lebih besar. Nelayan yang tidak memahami harga pasar mudah dipermainkan oleh para tengkulak.

Laut tetap murah hati, tetapi dunia di sekitarnya telah berubah.

Aku menyadari bahwa bertahan di masa depan membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan yang diwariskan. Ia membutuhkan pendidikan, disiplin, dan keberanian untuk beradaptasi.

Masa kecilku di Teluk Taipa memperlihatkan kepadaku keindahan sekaligus kerasnya kehidupan pesisir.

Ia mengajarkanku ketangguhan ketika badai mengancam perahu kecil kami. Ia mengajarkanku kesabaran ketika jala kami terangkat kosong. Dan ia mengajarkanku tanggung jawab ketika aku melihat keluarga-keluarga menderita karena pilihan hidup yang lahir dari keputusasaan.

Akhirnya aku memahami sesuatu yang lebih dalam.

Bagi keluarga miskin, mimpi bukanlah kemewahan—mimpi adalah kebutuhan.

Tanpa mimpi, orang berhenti bergerak. Tanpa pendidikan, mereka kehilangan alat untuk membentuk masa depan mereka sendiri. Tanpa sikap hidup yang baik dan saling menghormati, masyarakat perlahan akan runtuh.

Teluk itu telah menjadi guruku sejak awal.

Dari pagi-pagi sunyi di perahu ayah hingga malam-malam riuh di dermaga, setiap momen membawa pelajaran tentang kehidupan.

Kini ketika aku menoleh ke belakang, aku menyadari bahwa perjalananku tidak dimulai di ruang kelas atau kota besar. Ia dimulai di perairan sederhana Teluk Taipa.

Di sanalah aku pertama kali belajar arti kerja keras.

Di sanalah aku pertama kali menyaksikan akibat dari hilangnya harapan.

Dan di sanalah aku menemukan kekuatan tekad.

Hari ini, setiap kali aku kembali ke pantai dan melihat para nelayan menyiapkan perahu mereka sebelum matahari terbit, aku teringat pada anak kecil yang dulu duduk di samping ayahnya di sebuah perahu kayu kecil.

Ombak masih bergerak dalam irama yang sama. Laut masih memantulkan warna-warna fajar.

Namun di dalam diriku, sesuatu telah berubah.

Kini aku memahami bahwa masa depan yang lebih baik tidak hanya datang dari kemurahan laut. Ia datang dari pengetahuan, karakter, dan keberanian untuk bermimpi melampaui cakrawala.

Belajarlah dengan sungguh-sungguh.

Hormati orang lain.

Bangun nilai-nilai hidup yang kuat.

Itulah jangkar sejati dari kesejahteraan.

Sungguh, bagi seorang lelaki yang tumbuh dari teluk, nilai-nilai itulah yang menjadi kompas yang terus menuntun langkahnya menuju masa depan.

___
Tamarunang, 13 Maret 2026