Membaca Denyut Penghidupan Masyarakat Laikang dari Kacamata Kasim

  • Whatsapp
Muhammad Kasim (dok: Pelakita.ID)
  • Di seberang desa berdiri sebuah pembangkit listrik. Kehadirannya membuat sebagian warga bertanya-tanya, terutama ketika mereka merasa ada perubahan pada kondisi laut.
  • Meski begitu, Laikang tidak sepenuhnya tenggelam dalam kecemasan. Di tengah tantangan itu, warga mulai melakukan berbagai upaya kecil untuk menjaga lingkungan mereka.

PELAKITA.ID -Pagi itu, Desa Laikang di pesisir Kabupaten Takalar tampak seperti desa nelayan pada umumnya. Angin laut berhembus pelan, menyapu deretan bentangan tali rumput laut yang dijemur di halaman-halaman rumah warga.

Di beberapa sudut desa, perempuan-perempuan duduk berkelompok, jari-jari mereka cekatan mengikat bibit rumput laut pada tali kecil. Bibit-bibit itu nantinya akan dibawa ke laut oleh para suami mereka, dipasang pada bentangan tali yang mengapung mengikuti irama ombak.

Di tengah kunjungan peserta lokakarya jurnalis tentang isu perubahan iklim ke Desa Laikang, Kepala Desa Laikang, Daeng Lingka, membuka percakapan dengan gambaran sederhana tentang ekonomi desa.

Menurutnya, ada dua komoditas utama yang selama ini menjadi penopang kehidupan warga: rumput laut dan lobster.

Dua komoditas ini bukan sekadar hasil laut, melainkan sandaran ekonomi yang telah berlangsung turun-temurun.

Kawasan Laikang, kata Daeng Lingka juga menjadi lokasi PSN atau Proyek Srategis Nasional semacam Kawasan Industri bernama KITA, Kawasan Industri Takalar.

Apapun itu, kini, kata Daeng Lingka, ketenangan itu mulai dibayangi ketidakpastian.

Perubahan ekosistem pesisir dan laut semakin terasa. Warga mulai merasakan perubahan pada kualitas perairan yang selama ini menjadi ladang kehidupan mereka. Bahkan, ada kekhawatiran bahwa laut yang dulu begitu bersih kini mulai tercemar oleh buangan limbah.

Apa yang disampaikan Daeng Lingka segera mendapat respons dari Muhammad Kasim, warga Puntondo yang ikut berdiskusi dengan para jurnalis.

Dari sudut pandangnya sebagai warga yang hidup sehari-hari dengan laut, perubahan itu bukan sekadar wacana. Ia menyebut kualitas perairan di sekitar Puntondo—yang juga dikenal sebagai wilayah penghasil rumput laut dan lobster—kini semakin mengkhawatirkan.

Bagi Kasim, laut bukan sekadar ruang geografis. Laut adalah nadi kehidupan. Ia memperkirakan hampir 90 persen warga Laikang menggantungkan hidup pada sektor perikanan. Ada yang menjadi pemancing, ada pembudidaya, ada pula yang terlibat dalam pengolahan hasil-hasil perikanan. Rantai ekonomi itu terbentang dari laut hingga ke halaman rumah.

Jika berjalan menyusuri desa, mudah melihat bagaimana ekonomi rumput laut bekerja. Tumpukan rumput laut kering terlihat di halaman rumah.

Para perempuan bekerja mengikat bibit dengan sabar dan teliti, sementara para lelaki menyiapkan perahu untuk membawa bentangan tali ke laut.

Dalam diam, jaringan bisnis rumput laut telah terbentuk dengan rapi. Ada pengepul, ada pedagang, ada jalur distribusi yang menghubungkan desa dengan pasar yang lebih luas. Meski begitu, harga rumput laut tetap saja fluktuatif, naik turun mengikuti pasar yang tidak selalu berpihak pada petani.

Di tengah kehidupan yang bergantung pada laut itu, perubahan iklim menjadi tantangan yang semakin nyata. Kasim menyebut abrasi pantai kini semakin terasa di beberapa titik pesisir.

Ada pula perubahan suhu air laut yang tiba-tiba meningkat. Perubahan suhu itu dapat membuat rumput laut mati atau lobster tidak berkembang dengan baik.

Selain faktor alam, ada pula kegelisahan lain yang tersimpan di benak warga.

Di seberang desa berdiri sebuah pembangkit listrik. Kehadirannya membuat sebagian warga bertanya-tanya, terutama ketika mereka merasa ada perubahan pada kondisi laut.

Apakah perubahan oseanografi yang dirasakan warga berkaitan dengan aktivitas industri? Ataukah itu murni akibat dinamika alam?

Jawabannya masih membutuhkan kajian ilmiah yang lebih mendalam. Namun bagi warga seperti Kasim, pertanyaan-pertanyaan itu muncul dari pengalaman sehari-hari berhadapan dengan laut yang terasa semakin berubah.

Meski begitu, Laikang tidak sepenuhnya tenggelam dalam kecemasan. Di tengah tantangan itu, warga mulai melakukan berbagai upaya kecil untuk menjaga lingkungan mereka.

Salah satunya adalah pembentukan bank sampah plastik di desa. Inisiatif ini muncul dari kesadaran bahwa sampah plastik—botol air mineral, bungkus makanan, dan berbagai limbah rumah tangga lainnya—pada akhirnya akan bermuara ke laut jika tidak dikelola dengan baik.

Langkah itu mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi desa pesisir seperti Laikang, mengurangi tekanan sampah terhadap laut adalah bagian penting dari menjaga keberlanjutan sumber daya mereka.

Di balik berbagai kekhawatiran itu, Kasim juga membawa kabar yang lebih optimistis. Ia bercerita tentang potensi budidaya lawi-lawi, atau Caulerpa spp, yang dikenal pula sebagai sea grapes.

Rumput laut jenis ini memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi jika dikelola dengan baik.

Kasim membaca realitas bahwa beberapa warga telah mulai mengembangkan budidaya lawi-lawi dengan memanfaatkan empang atau tambak. Hasilnya cukup menjanjikan.

Bahkan, ada seorang warga yang disebutnya mampu memperoleh pendapatan hingga sekitar dua ratus juta rupiah dalam setahun dari usaha tersebut.

Pasarnya pun tidak kecil. Lawi-lawi yang dihasilkan dari tambak-tambak itu dikirim hingga ke Makassar dan daerah sekitarnya, menjadi komoditas yang semakin diminati.

Cerita Kasim seolah membuka jendela lain untuk melihat Laikang. Tentang dinamika kawasan, tentang rencana pembangunan Kawasan Industri Takalar, tentang status lahan warga, tentang penghidupan mereka dan tentang masa depan budidaya perikanan seperti rumput laut dan lobster.

Bagi kacamata Kasim, desa ini bukan hanya tentang kerentanan terhadap perubahan iklim, abrasi, atau kualitas perairan yang menurun.

Ia juga tentang ketahanan masyarakat pesisir yang terus mencari cara untuk bertahan, beradaptasi, dan menemukan peluang baru di tengah rangsekan hasrat membangun seperti KITA itu.

Untuk saat ini, kita hanya bisa menyimpulkan, dari halaman rumah tempat rumput laut dijemur, dari tangan-tangan perempuan yang mengikat bibit, hingga tambak-tambak yang mulai menumbuhkan lawi-lawi, Laikang memperlihatkan wajah masyarakat pesisir yang hidup di antara harapan dan kekhawatiran.

Melalui cerita Kasim, Laikang terbaca bukan sekadar sebagai sebuah desa di tepi laut, melainkan sebagai ruang kehidupan yang terus bernegosiasi dengan perubahan zaman—dengan laut sebagai halaman depan, sekaligus masa depan mereka.

Wallahu a’lam bishawab.

___
Penulis Denun