Para Jurnalis Mengamati Dampak dan Bentuk Resiliensi Warga di Desa Laikang

  • Whatsapp
Kunjungan lapangan jurnalis peserta workshop AIC Lab Unhas - Monash University di Desa Laikang (dok: Nana Saleh/AIC Lab Unhas)

Kunjungan Lapangan Peserta Workshop AIC Lab Unhas dan Monash University di Takalar

Daeng Tamangi, perempuan usia mendekati 60 duduk di atas bangku kecil sembari memegang tali kecil lalu mengikat bibit rumput laut jelas Euchema cottoni. Dua perempuan lainnya melakukan hal yang sama. Sejumlah jurnalis hadir di samping mereka sembari mengemukan pertanyaan tentang dampak perubahan ekologi pada sistem budidaya rumput laut mereka. 

PELAKITA.ID – Seperti itulah gambaran kunjungan lapangan untuk memperkaya pemahaman mengenai isu perubahan iklim digelar di Desa Laikang, Kabupaten Takalar.

Kegiatan ini merupakan bagian dari workshop dan field visit yang digelar Universitas Hasanuddin melalui Australia – Indonesia Center AIC Lab dan Monash University, 10 dan 11 Maret 2026.

Kegiatan ini menghadirkan para jurnalis, aktivis, dan peserta pelatihan yang ingin melihat secara langsung bagaimana dampak perubahan iklim dirasakan oleh masyarakat pesisir.

Menurut Dr Nana Saleh dari AIC Lab Unhas, selain menjadi ruang belajar bersama. “Kunjungan ini juga menjadi kesempatan bagi peserta untuk berdialog dengan pemerintah desa dan masyarakat setempat mengenai perubahan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir,” jelas Nana.

Kepala Desa Laikang, Daeng Lingka, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Desa Laikang merupakan salah satu desa yang terletak di ujung timur selatan Kabupaten Takalar.

“Wilayah ini dikenal sebagai kawasan pesisir yang sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup pada sektor budidaya perikanan seperti budidaya rumput laut dan lobster serta aktivitas kelautan lainnya,” kata dia.

Menurutnya, berbagai jenis usaha budidaya berkembang di desa ini, termasuk budidaya rumput laut dan usaha tambak yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Dia menyebut, dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat mulai merasakan perubahan yang cukup signifikan.

Daeng Lingka menjelaskan bahwa sekitar tiga tahun terakhir hasil budidaya yang biasanya stabil mulai mengalami penurunan. Kondisi ini diduga berkaitan dengan perubahan iklim yang memengaruhi kondisi perairan, pola musim, serta dinamika lingkungan pesisir.

“Perubahan tersebut dirasakan langsung oleh para pelaku usaha budidaya yang selama ini bergantung pada kondisi alam yang relatif stabil,: ucapnya.

Ketua Pusat Studi Kebencanaan Unhas, Ilham Alimuddin saat memberikan penjelasan dampak perubahan iklim ke jurnalis peserta Kunjungan Lapangan di Desa Laikang, Takalar (dok: Nana Saleh)

Ia juga menekankan bahwa sebagian masyarakat masih membutuhkan edukasi lebih lanjut mengenai perubahan iklim dan dampaknya terhadap ekosistem laut.

Banyak warga yang merasakan perubahan pada hasil budidaya atau kondisi laut, tetapi belum sepenuhnya memahami penyebabnya.

Oleh karena itu, kegiatan seperti kunjungan lapangan dan diskusi bersama dinilai penting untuk membuka ruang pemahaman baru bagi masyarakat maupun para peserta yang datang belajar.

Setelah sambutan kepala desa, peserta berkunjung ke Dusun Pontodo. Peserta melakukan observasi pesisir, lokasi tambak, kondisi tepi pantai, tanggul dan pembibitan rumput laut. Sejumlah jurnalis melakukan wawancara dan pendalaman topik dengan sejumlah perempuan pekerja budidaya.

Bertempat di Cottage Monroe, Muhammad Kasim warga Puntondo, memberikan penjelasan mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat Desa Laikang.

Ia menjelaskan bahwa sekitar seratus kepala keluarga di desa tersebut bergantung pada usaha budidaya tambak.

Dia juga mengungkap adanya penurunan produksi dalam beberapa tahun terakhir secara langsung berdampak pada pendapatan keluarga, terutama bagi rumah tangga yang menggantungkan penghasilan harian dari hasil budidaya.

Menurutnya, sebelumnya para pembudidaya dapat memperoleh hasil hampir setiap hari. Dari aktivitas tambak atau budidaya, mereka bisa mendapatkan pemasukan rutin untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Bahkan dalam beberapa sistem budidaya lawi-lawi atau Caulerpa spp., hasil panen dapat mulai diambil sekitar dua puluh hari setelah penanaman bibit. Pola ini memungkinkan masyarakat memperoleh perputaran ekonomi yang relatif cepat.

“Namun belakangan kondisi tersebut tidak selalu terjadi. Beberapa tambak mengalami penurunan produktivitas, bahkan ada lokasi tertentu yang sebelumnya subur tetapi kini sulit menghasilkan,” ungkapnya.

Sebaliknya, kata Kasim, ada pula tambak lain yang masih dapat berproduksi dengan baik.

Perbedaan kondisi ini menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat mengenai faktor-faktor lingkungan yang memengaruhi keberhasilan budidaya, termasuk eksisten instalasi pengungkit listrik di Punaga Jeneponto yang berdampak ke pesisir dan laut Laikang.

Pelakita.ID berkunjung ke Lokasi Bank Sampah di Dusun Puntondo (dok: Rusdin Tompo)

Para peserta kunjungan lapangan—termasuk sejumlah jurnalis smerespons paparan tersebut dengan berbagai pertanyaan. Diskusi berkembang mengenai dampak ekonomi yang dialami keluarga pembudidaya, terutama terhadap perempuan dan anak-anak dalam rumah tangga nelayan.

Ketika hasil tambak menurun, keluarga harus mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk biaya pendidikan dan kebutuhan rumah tangga.

Dialog yang berlangsung memperlihatkan bagaimana perubahan iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada struktur sosial dan ekonomi masyarakat pesisir.

Penurunan produksi tambak berarti berkurangnya pendapatan keluarga yang sebelumnya bergantung pada hasil harian.

Bagi banyak rumah tangga, kondisi ini memerlukan strategi adaptasi baru agar tetap dapat bertahan di tengah perubahan lingkungan yang semakin tidak menentu.

Peserta juga menyaksikan tempat yang berfungsi sebagai Bank Sampah di Dusun Puntondo. Bank sampah eksis sebagai jawaban atas banyaknya sampah plastik yang mencemari pesisir dan laut.

Kunjungan lapangan di Desa Laikang ini memberikan gambaran nyata tentang bagaimana isu perubahan iklim dirasakan langsung oleh masyarakat pesisir.

Melalui interaksi antara pemerintah desa, masyarakat, dan para peserta, kegiatan ini tidak hanya memperkaya pemahaman tentang kondisi lokal, tetapi juga membuka ruang refleksi tentang pentingnya adaptasi, edukasi, dan kolaborasi dalam menghadapi tantangan perubahan iklim di wilayah pesisir.

Redaksi