Reuni Literasi di Rumata Artspace: Merawat Jejak Blogger dan Pewarta Warga di Era Digital

  • Whatsapp
Ilustrasi oleh Denun/Canva

Tidak ada satu pihak pun yang dapat bekerja sendiri dalam membangun ekosistem digital yang aman dan sehat. Senang sekali karena di momen itu hadir pula sahabat Lusia Palulungan yang selama ini aktif berinteraksi di Proyek INKLUSI Yayasan BaKTI serta Ita Ibnu, sosok yang pernah kerja sama atas nama Rumata Artspace – ISLA Unhas untuk bersama-sama mempromosikan Literasi Maritim — Alfatihah untuk mentorku, Lily. 

PELAKITA.ID – Pertemuan dalam Dialog Advokasi Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) yang digelar oleh Jaringan Gender Indonesia di Rumata Artspace pada 8 Maret 2026 bukan sekadar forum diskusi.

Bagi penulis, momen itu terasa seperti sebuah ruang reuni—sebuah pertemuan kembali dengan kawan-kawan lama yang pernah bersama-sama menapaki jalan literasi digital sejak awal berkembangnya internet di Makassar pada era 2000-an.

Kegiatan ini sendiri merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari Pemerintah Kota Makassar, jaringan media, hingga Pusat Studi Gender Universitas Hasanuddin.

Tema yang diangkat—advokasi terhadap kekerasan berbasis gender online—memang relevan dengan dinamika dunia digital hari ini.

Di balik tema itu, ada cerita lain yang terasa personal: pertemuan kembali dengan orang-orang yang dahulu menjadi bagian penting dari perjalanan literasi digital di Makassar.

Di ruangan diskusi itu, penulis bertemu kembali dengan sejumlah kawan lama. Beberapa di antaranya adalah rekan seperjalanan saat aktif sebagai blogger di Komunitas Blogger Anging Mammiri maupun saat menjadi citizen reporter di Komunitas Panyingkul.com—sebuah komunitas jurnalisme warga yang pada awal 2000-an menjadi ruang belajar menulis, berbagi informasi, sekaligus mengasah keberanian menyampaikan suara publik melalui media digital.

Nama-nama yang hadir seakan membuka kembali album kenangan itu.

Ada Luna Vidya, yang dahulu sama-sama aktif di Panyingkul.com. Penulis bahkan masih mengingat bagaimana kami pernah menulis kisah perjalanan bersama di Tanah Aceh, sebuah pengalaman yang memperkaya perspektif tentang keberagaman dan realitas sosial di Indonesia.

Kini Luna tetap berada di jalur pemberdayaan masyarakat, aktif sebagai fasilitator dalam berbagai program penguatan kapasitas warga.

Kepada Luna, penulis sempat bilang: Mari kita doakan keselamatatan untuk almarhum Lily Yuliantif Farid, sosok di balik Panyingkul dan Rumat Artspace.

Selain Luna, hadir pula Winarni alias I-nart yang dulu aktif bicara arsitektur. Kini sibuk mempromosikan fotografi kuliner.

Kemudian ada Daeng Ipul, juga bagian dari komunitas Panyingkul.com di masa lalu. Kini ia dikenal luas sebagai aktivis literasi media dan keamanan digital melalui SAFEnet.

Dalam dialog tersebut, ia menjadi salah satu narasumber yang menjelaskan secara mendalam mengenai ancaman kekerasan berbasis gender di ruang digital serta pentingnya membangun kesadaran keamanan siber bagi masyarakat.

Penulis juga berjumpa dengan Mamie Lily, yang kini memegang peran strategis sebagai Direktur Jaringan Gender Indonesia.

Perjalanan kariernya menunjukkan bagaimana pengalaman di komunitas literasi dan jaringan sipil serta bisnis seperti smelter di Bantaeng dapat berkembang menjadi kerja advokasi yang lebih luas dalam isu kesetaraan gender dan perlindungan terhadap kelompok rentan di ruang digital.

Ada pula Ndy—yang dahulu dikenal sebagai blogger aktif—yang kini menjadi aparatur sipil negara di Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia.

Ia bertugas di bidang keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di Kota Makassar, dengan wilayah kerja yang melayani berbagai daerah di Indonesia Timur.

Tak ketinggalan Mugniar Marakarma, penulis yang aktif mempromosikan pentingnya literasi untuk kaum perempuan. Siapa sangka alumni Teknik Elektro Unhas ini adalah motivator penulisan yang telah wara-wiri di sejumlah event literasi dan aktif di sejumlah komunitas hingga Yayasan BaKTI.

Sosodara, sekali lagi, bagi penulis, transformasi ini menunjukkan bahwa keterampilan literasi digital dan komunikasi publik yang tumbuh dari komunitas blogger ternyata dapat menjadi bekal penting dalam berbagai bidang profesi.

Pertemuan itu juga mempertemukan penulis dengan Unga, yang tetap aktif dalam gerakan pemberdayaan perempuan, serta Mansyur Rahim yang terus konsisten bergerak dalam advokasi literasi media dan penguatan kesadaran publik terhadap informasi yang sehat.

Bagi penulis, pertemuan itu menghadirkan kesadaran bahwa gerakan literasi digital tidak pernah benar-benar berhenti. Ia hanya berubah bentuk dan ruang.

Dulu, diskusi-diskusi panjang tentang blog, jurnalisme warga, dan media alternatif berlangsung di warung kopi atau mailing list komunitas.

Hari ini, isu yang dibahas telah berkembang menjadi lebih kompleks—dari keamanan digital hingga perlindungan terhadap korban kekerasan berbasis gender di internet.

Yang pasti, semangat dasarnya tetap sama: keinginan untuk berbagi pengetahuan, memperluas pesan, dan membangun ruang publik yang lebih sehat melalui literasi.

“Tidak terasa dih, adami 20-an tahun,” kata penulis ke Ndy, Unga dan Ancu Mansyur Rahim terkait pertemuan kami.

“Apa kabar Rara? Sibuk apa sekarang dih?” tanyaku ke Ndy.

“Ada tempat praktiknya toh, kan dokter gigi di Jakarta,” balas Ndy. Rara yang penulis maksud adalah perintis Komunitas Blogger Anging Mammiri, seorang dokter gigi yang rumahnya di Jalan Pelita kerap jadi tempat ngumpul anak-anak Blogger Makassar.

Oh ya, hemat penulis, Komunitas seperti Blogger Anging Mammiri dan Panyingkul.com dahulu memainkan peran penting sebagai “sekolah informal” bagi banyak orang untuk belajar menulis, memahami etika informasi, serta menyuarakan pengalaman warga yang sering tidak mendapat tempat di media arus utama.

Dari ruang-ruang belajar informal itulah lahir banyak individu yang kemudian berkiprah dalam berbagai sektor—mulai dari advokasi sosial, pemberdayaan masyarakat, hingga birokrasi pemerintahan.

Pertemuan di Rumata Artspace seolah mengingatkan bahwa jejaring yang dibangun melalui literasi digital memiliki daya tahan yang panjang.

Ia tidak hanya menghasilkan tulisan, tetapi juga melahirkan relasi, solidaritas, dan kepercayaan yang terus hidup meski waktu telah berjalan jauh.

Di tengah dunia digital yang semakin kompleks—ditandai dengan banjir informasi, disinformasi, hingga meningkatnya kekerasan di ruang daring—kolaborasi menjadi semakin penting.

Tidak ada satu pihak pun yang dapat bekerja sendiri dalam membangun ekosistem digital yang aman dan sehat. Senang sekali karena di momen itu hadir pula sahabat Lusia Palulungan yang selama ini aktif berinteraksi di Proyek INKLUSI Yayasan BaKTI serta Ita Ibnu, sosok yang pernah kerja sama atas nama Rumata Artspace – ISLA Unhas untuk bersama-sama mempromosikan Literasi Maritim — Alfatihah untuk Lily. 

Di sinilah makna penting dari pertemuan-pertemuan seperti ini. Ia bukan hanya forum diskusi tematik, tetapi juga ruang untuk merawat silaturahmi, memperbarui semangat berbagi pengetahuan, serta memperkuat kolaborasi antarindividu dan komunitas yang memiliki kepedulian yang sama terhadap literasi dan keadilan sosial di ruang digital.

Bagi penulis, momen reuni kecil itu menghadirkan rasa syukur tersendiri.

Mengetahui bahwa kawan-kawan lama tetap bergerak di jalannya masing-masing—namun dengan semangat yang sama untuk memberdayakan masyarakat—memberikan harapan bahwa gerakan literasi digital yang pernah tumbuh di Makassar tidak pernah benar-benar padam.

Ia terus hidup, berkembang, dan menemukan bentuk-bentuk baru untuk menjawab tantangan zaman. Dan mungkin, seperti yang terasa pada pertemuan di Rumata Artspace itu, gerakan tersebut akan selalu dimulai dari hal sederhana: bertemu, berbagi cerita, dan saling menguatkan.

Terakhir, sayangnya, Nhie, Rara, Nanie, Anbhar, om Bisot, Dentaq, Demap dkk tidak hadir belaaa…rindutami. 

___
Tamarunang, 10 Maret 2026