Dr. Nana Saleh dan Jejak Kolaborasi Riset Indonesia–Australia

  • Whatsapp
Dr. Hasanwati 'Nana' Saleh 9dok: Istimewa)

PELAKITA.ID – Di tengah upaya memperkuat ekosistem riset di Indonesia, nama Hasnawati Saleh atau akrab disebut Nana Saleh menonjol sebagai salah satu ilmuwan yang berperan penting dalam membangun jembatan kolaborasi antara Indonesia dan Australia.

Kiprahnya terutama terlihat melalui keterlibatannya dalam program PAIR Project (Partnership for Australia–Indonesia Research), sebuah inisiatif kerja sama riset yang dikelola oleh The Australia‑Indonesia Centre.

Program PAIR dirancang untuk memperkuat hubungan penelitian antara kedua negara dengan cara yang lebih strategis: bukan hanya melalui proyek akademik, tetapi juga melalui kolaborasi yang melibatkan pemerintah, universitas, industri, dan komunitas. Dalam konteks ini,

Nana memainkan peran penting sebagai penghubung antara berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam program tersebut, khususnya di wilayah Indonesia Timur.

Sebagai ilmuwan yang memiliki latar belakang pendidikan internasional, perjalanan akademik Nana Saleh mencerminkan karakter peneliti global yang tetap berakar pada kebutuhan pembangunan nasional.

Ia meraih gelar doktor di bidang biomedis dari University of Melbourne, salah satu universitas riset terkemuka di Australia. Sebelumnya ia juga menempuh studi magister di University of Queensland. Pengalaman akademik lintas negara ini kemudian membentuk perspektifnya mengenai pentingnya jejaring riset internasional bagi kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia.

Kontribusinya tidak berhenti pada dunia akademik semata. Dalam berbagai peran profesionalnya, dia aktif mendorong lahirnya sistem riset yang lebih kolaboratif.

Ia pernah terlibat dalam pengembangan lembaga-lembaga penting yang mendukung ekosistem penelitian nasional, termasuk perannya sebagai salah satu tokoh awal dalam Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI), sebuah organisasi yang menghimpun ilmuwan muda Indonesia untuk memperkuat peran sains dalam pembangunan.

Dalam konteks PAIR, kontribusi Nana sangat terlihat dalam upaya memperluas kolaborasi riset di Sulawesi.

Program PAIR Sulawesi sendiri menghubungkan berbagai universitas, termasuk Universitas Hasanuddin, dengan mitra riset di Australia untuk mengembangkan penelitian yang relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah.

Salah satu fokus penting dari program ini adalah pengembangan ekonomi berbasis sumber daya lokal, seperti industri rumput laut di Sulawesi Selatan.

Melalui penelitian kolaboratif, para peneliti dari Indonesia dan Australia berupaya memperkuat rantai nilai industri tersebut—mulai dari aspek produksi, teknologi pengolahan, hingga kebijakan yang mendukung keberlanjutan sektor tersebut.

Pendekatan yang dibangun dalam PAIR tidak hanya menempatkan universitas sebagai pusat produksi pengetahuan, tetapi juga sebagai mitra strategis bagi pemerintah daerah dan pelaku industri.

Dalam model ini, riset tidak berhenti pada publikasi akademik, tetapi diharapkan dapat berkontribusi langsung terhadap kebijakan publik dan pembangunan ekonomi.

Warisan penting dari kerja-kerja yang dilakukan Nana Saleh terletak pada cara pandang yang ia dorong: bahwa riset seharusnya tidak berdiri sendiri.

Ia harus terhubung dengan kebutuhan masyarakat, dengan proses pengambilan kebijakan, serta dengan inovasi yang dapat diterapkan secara nyata.

Di era ketika tantangan pembangunan semakin kompleks—mulai dari perubahan iklim, transformasi ekonomi, hingga pembangunan wilayah pesisir—kolaborasi lintas negara menjadi semakin penting. Dalam konteks ini, model kerja sama yang dikembangkan melalui PAIR menjadi contoh bagaimana riset dapat menjadi platform diplomasi pengetahuan antara dua negara.

Selain itu, kiprah Nana juga mencerminkan pentingnya kepemimpinan ilmiah perempuan dalam dunia riset yang selama ini sering didominasi oleh laki-laki.

Melalui perannya dalam berbagai jaringan ilmiah internasional, ia menunjukkan bahwa ilmuwan Indonesia dapat berperan aktif dalam percakapan global mengenai ilmu pengetahuan dan inovasi.

Warisan lain yang tidak kalah penting adalah kemampuannya membangun jejaring lintas generasi peneliti. Dalam berbagai kegiatan PAIR, ia mendorong keterlibatan peneliti muda, akademisi daerah, serta pemangku kepentingan lokal untuk bersama-sama terlibat dalam proses riset.

Dengan cara ini, kolaborasi tidak hanya menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga memperkuat kapasitas riset di daerah.

Pada akhirnya, kontribusi Dr. Nana Saleh dapat dilihat sebagai bagian dari upaya yang lebih besar untuk menempatkan Indonesia dalam peta kolaborasi riset global.

Melalui jejaring yang ia bangun—baik di dalam negeri maupun di tingkat internasional—ia membantu membuka ruang bagi ilmuwan Indonesia untuk berkolaborasi, bertukar gagasan, dan menghasilkan pengetahuan yang relevan bagi masa depan.

Warisan tersebut mungkin tidak selalu terlihat dalam bentuk proyek tunggal atau institusi tertentu. Tetapi ia hadir dalam jejaring kolaborasi yang terus berkembang, dalam generasi peneliti yang terhubung lintas negara, serta dalam gagasan bahwa ilmu pengetahuan dapat menjadi jembatan yang mempertemukan kepentingan pembangunan dengan semangat kerja sama internasional.

___
Penulis Denun

Gowa, 10 Maret 2026