Saat ini LUCITA memproduksi tiga model utama alat tangkap gurita, yaitu model Cipo-Cipo, Udang-Udang, dan Ikan-Ikan. Ketiganya merupakan hasil adaptasi dari praktik penangkapan nelayan yang telah diuji di lapangan.
PELAKITA.ID – Industri alat penangkap ikan khusus gurita di Indonesia selama ini nyaris tak terlihat. Padahal, permintaan pasar terhadap komoditas gurita terus meningkat dan nelayan di berbagai daerah sangat bergantung pada alat tangkap yang efektif untuk mendapatkan hasil tangkapan yang optimal.
Di tengah kekosongan itulah, sebuah inisiatif baru lahir.
PT Perorangan Lure Cipo Gurita (LUCITA) resmi berdiri sebagai usaha penyedia Alat Penangkap Ikan (API) khusus gurita pertama di Indonesia yang memiliki status badan hukum.
Kehadiran LUCITA bukan sekadar usaha perdagangan alat tangkap, melainkan sebuah upaya yang lahir dari pengalaman lapangan serta kebutuhan nyata para nelayan.
LUCITA berangkat dari pengkajian sistemik terhadap berbagai program pengembangan perikanan gurita di Indonesia. Selama ini, banyak program peningkatan produksi gurita lebih menekankan pada pemberdayaan nelayan, tata kelola perikanan, hingga akses pasar.
Salah satu aspek penting sering luput dari perhatian: ketersediaan alat tangkap gurita yang berkualitas, terstandar, dan mudah diakses oleh nelayan.
Temuan lapangan menunjukkan kenyataan yang cukup mengejutkan. Di Desa Monsongan, salah satu lokasi kegiatan pengabdian masyarakat, tidak ditemukan toko ataupun industri yang secara khusus menyediakan alat tangkap gurita.
Pencarian kemudian diperluas melalui berbagai platform digital dan marketplace nasional. Hasilnya memperlihatkan bahwa di wilayah Indonesia Timur hampir tidak ada industri yang secara khusus memproduksi alat tangkap gurita.

Ada Zaman di baliknya
Keresahan tersebut kemudian mendorong Khoirul Zaman Dongoran untuk mengambil langkah konkret. Melihat tingginya permintaan dari nelayan serta potensi pasar yang besar, ia menginisiasi pembentukan sebuah badan usaha yang fokus pada penyediaan alat tangkap gurita.
“Pada 27 Februari 2026, usaha ini resmi terdaftar sebagai badan hukum dengan SK AHU-012430.AH.01.30 Tahun 2026 dan Nomor Induk Berusaha (NIB) 2702260115286,” ungkap pria yang akrab disapa Zaman itu.
Hingga kini, kata Zaman, alat tangkap gurita masih tergolong langka dan relatif mahal. Harga satu unit alat tangkap berkisar antara Rp200 ribu hingga Rp350 ribu.
“Di sisi lain, harga gurita di pasar saat ini berada pada kisaran Rp70 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram,” ucapnya.
Tingginya harga alat tangkap dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya proses produksi yang masih dilakukan secara manual serta keterbatasan tenaga kerja yang memiliki keterampilan khusus dalam pembuatan alat tersebut.
Proses produksi yang memakan waktu cukup lama juga menjadi tantangan tersendiri bagi pengembangan industri ini. Namun justru di situlah peluang besar terbuka.
Menurut Zaman, dengan inovasi desain, efisiensi produksi, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia, industri alat tangkap gurita berpotensi berkembang menjadi sektor baru yang dapat mendukung ekonomi nelayan.
“Produk LUCITA sendiri merupakan hasil dari berbagai tahapan inovasi yang berkembang di kalangan nelayan. Pada awalnya, nelayan menggunakan metode tradisional seperti keong atau umpan kayu,” ucap Zaman.
Kemudian berkembang menjadi model menyerupai udang. Dari proses evolusi inilah lahir desain terbaru yang dikenal sebagai Cipo-Cipo, yakni lure yang menyerupai sotong—salah satu makanan alami gurita di laut.
Dia menyebut, produk ini memiliki sejumlah keunggulan teknis yang dirancang untuk meningkatkan efektivitas penangkapan. Bahan baku yang digunakan adalah kayu pilihan yang ringan, cukup lunak namun tetap kuat sehingga efektif sebagai pemikat gurita.
“Teknik pewarnaan dilakukan tanpa proses pengecatan dengan konsep satu warna untuk satu produk, sehingga tampil lebih natural sekaligus lebih tahan lama,” sebutnya.
Selain itu, alat ini dilengkapi lima mata pancing yang dipasang dengan posisi yang telah diperhitungkan secara matang untuk meminimalkan risiko gurita terlepas.
Sistem Rolling Swivel juga dipadukan dengan lima lure pemikat yang terdiri dari tiga daun lure melebar dan dua daun memanjang, sehingga meningkatkan daya tarik bagi gurita di dalam air. Alat ini juga dirancang fleksibel, dapat digunakan baik di perairan dangkal maupun di laut yang lebih dalam.
Saat ini LUCITA memproduksi tiga model utama alat tangkap gurita, yaitu model Cipo-Cipo, Udang-Udang, dan Ikan-Ikan. Ketiganya merupakan hasil adaptasi dari praktik penangkapan nelayan yang telah diuji di lapangan.
Dalam waktu relatif singkat, produk LUCITA telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia. Pesanan datang dari banyak wilayah seperti Surabaya, Kolaka, Lombok Timur, Buton Utara, Mamuju, Luwuk Banggai, Kendari, Buton Selatan, Morowali Utara, Konawe Kepulauan, Banggai Laut, Bulukumba, Bombana, Jakarta Barat, Halmahera Tengah, Tenggarong di Jawa Timur, Palu, Morowali, Morowali Tengah, Buton Tengah, hingga Kota Baubau.
Seluruh proses pemesanan dilakukan melalui sistem Cash on Delivery (COD) melalui marketplace TikTok Shop by Tokopedia. Pola pemasaran digital ini memungkinkan nelayan dari berbagai daerah mengakses produk dengan lebih mudah.
Tidak hanya berfokus pada penjualan produk, LUCITA juga mengembangkan program penguatan kapasitas bagi nelayan. Beberapa layanan yang disediakan antara lain pelatihan pembuatan alat tangkap gurita, pelatihan penggunaan alat tangkap yang efektif, pendampingan penanganan gurita pasca tangkap, serta pendampingan akses pasar bagi nelayan.
LUCITA juga membuka peluang kerja sama dengan dinas perikanan, lembaga pendamping masyarakat pesisir, maupun berbagai program pemberdayaan yang ingin menyalurkan bantuan alat tangkap gurita kepada nelayan di berbagai daerah.
Ke depan, LUCITA memiliki visi besar untuk membangun industri alat tangkap gurita nasional yang mampu menyediakan produk berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau.
Harapannya, suatu hari nanti alat tangkap gurita produksi LUCITA dapat tersedia di berbagai toko perlengkapan nelayan di seluruh Indonesia, sehingga nelayan tidak lagi kesulitan mendapatkan alat tangkap yang mereka butuhkan.
Dengan dukungan dari berbagai pihak—baik pemerintah, lembaga donor, maupun mitra usaha—LUCITA optimistis industri alat tangkap gurita Indonesia dapat tumbuh kuat dan berkelanjutan.
Jika upaya ini berhasil, bukan hanya industri baru yang lahir, tetapi juga peluang ekonomi yang lebih luas bagi nelayan skala kecil di berbagai wilayah pesisir Nusantara.
___
Editor Denun
