Ketika Duka Menjadi Konten: Kontroversi Vlog Sule dan Etika Era Digital

  • Whatsapp
Ilustrasi oleh ChatGPT AI

Menurut laporan media daring Suara.com, video tersebut viral karena memperlihatkan momen ketika Sule membuat vlog di rumah duka sementara Afgan tampak menoleh dengan ekspresi dingin sebelum akhirnya menghindari kamera. Reaksi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa peristiwa ini cepat menyebar dan menuai perdebatan di media sosial.

PELAKITA.ID – Pelakita.ID menyoroti kasus komedian Sule yang merekam vlog di rumah duka keluarga penyanyi Vidi Aldiano memicu perdebatan luas di ruang publik.

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan Sule merekam suasana pelayat yang datang melayat, sementara penyanyi Afgan yang berada di belakangnya tampak menunjukkan ekspresi tidak nyaman dan berusaha menghindari kamera.

Peristiwa ini kemudian menjadi sorotan warganet. Banyak yang menilai tindakan tersebut tidak pantas dilakukan dalam suasana berkabung.

Kritik yang muncul bukan hanya berkaitan dengan aktivitas merekam, melainkan menyentuh persoalan yang lebih dalam: etika sosial, empati terhadap duka, serta bagaimana budaya digital mengubah cara orang berperilaku di ruang publik.

Menurut laporan media daring Suara.com, video tersebut viral karena memperlihatkan momen ketika Sule membuat vlog di rumah duka sementara Afgan tampak menoleh dengan ekspresi dingin sebelum akhirnya menghindari kamera.

Reaksi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa peristiwa ini cepat menyebar dan menuai perdebatan di media sosial.

Ketegangan antara budaya konten dan etika berkabung

Fenomena ini memperlihatkan adanya ketegangan antara budaya produksi konten digital dengan norma sosial yang selama ini berlaku dalam situasi berkabung.

Dalam era media sosial, membuat vlog telah menjadi praktik umum bagi banyak figur publik. Dokumentasi aktivitas sehari-hari, termasuk saat menghadiri acara tertentu, kerap dijadikan materi konten untuk dibagikan kepada pengikut di berbagai platform digital.

Namun rumah duka memiliki norma sosial yang berbeda dengan ruang publik lainnya. Dalam tradisi sosial Indonesia, melayat bukan sekadar kunjungan biasa. Ia merupakan bentuk penghormatan terakhir kepada almarhum sekaligus ungkapan empati kepada keluarga yang ditinggalkan.

Ketika seseorang merekam konten di tempat berkabung, sebagian masyarakat melihatnya sebagai pergeseran prioritas—dari empati terhadap keluarga yang berduka menuju produksi konten pribadi.

Dalam konteks ini, kritik muncul karena publik menilai momen duka seharusnya tidak dijadikan bahan konten digital.

Selain persoalan etika, kritik juga berkaitan dengan privasi. Rumah duka sering dipandang sebagai ruang yang relatif privat. Banyak orang datang melayat tanpa keinginan untuk menjadi bagian dari dokumentasi publik, apalagi konten yang berpotensi menyebar luas di internet.

Dalam video yang viral, kamera Sule tampak diarahkan ke area tempat para pelayat berkumpul, termasuk ke arah Afgan.

Ketika menyadari dirinya terekam kamera, Afgan terlihat menunjukkan ekspresi tidak nyaman dan kemudian menghindari sorotan kamera.

Bagi sebagian warganet, reaksi tersebut mewakili perasaan banyak orang yang tidak ingin momen emosional mereka terekam atau dipublikasikan tanpa persetujuan. Di era digital, persoalan ini menjadi semakin sensitif karena rekaman yang diunggah dapat menyebar dengan sangat cepat dan sulit dikendalikan.

Sensitivitas emosional dalam budaya melayat

Dalam konteks budaya Indonesia, suasana rumah duka biasanya diwarnai oleh sikap tenang dan penuh penghormatan. Norma sosial yang berkembang dalam situasi berkabung antara lain menjaga ketenangan, menghormati keluarga yang ditinggalkan, serta menghindari tindakan yang dianggap mencolok atau mengganggu suasana.

Aktivitas vlogging—yang umumnya melibatkan interaksi dengan kamera, berbicara, atau menyorot suasana sekitar—dapat dianggap bertentangan dengan norma tersebut.

Bagi sebagian orang, aktivitas itu berpotensi mengalihkan fokus dari penghormatan kepada almarhum menjadi perhatian terhadap pembuat konten.

Hal inilah yang membuat banyak warganet menilai tindakan tersebut tidak sensitif terhadap situasi emosional yang sedang terjadi.

Sebagai figur publik yang dikenal luas, Sule juga berada dalam posisi yang berbeda dibandingkan orang biasa. Tindakannya tidak hanya dipandang sebagai perilaku pribadi, tetapi juga sebagai contoh yang dapat ditiru oleh penggemarnya.

Karena itu, reaksi publik terhadap figur publik sering kali lebih kuat ketika mereka dianggap melanggar norma sosial.

Masyarakat cenderung berharap tokoh publik menunjukkan tingkat empati dan kepekaan sosial yang lebih tinggi, terutama dalam situasi yang menyangkut kesedihan atau tragedi.

Dalam kasus ini, sebagian kritik muncul karena publik merasa bahwa seorang tokoh terkenal seharusnya lebih berhati-hati dalam bertindak di ruang yang sensitif seperti rumah duka.

Ekspresi Afgan sebagai simbol reaksi sosial

Salah satu faktor yang membuat peristiwa ini cepat viral adalah ekspresi Afgan yang terekam kamera. Gestur sederhana—seperti menoleh dengan ekspresi tidak nyaman lalu menghindari kamera—diinterpretasikan oleh banyak warganet sebagai tanda bahwa situasi tersebut memang tidak pantas.

Reaksi nonverbal seperti ini sering kali memiliki kekuatan simbolik di ruang digital. Tanpa perlu pernyataan verbal, ekspresi tersebut dianggap sebagai representasi dari norma sosial yang dilanggar.

Dalam banyak diskusi di media sosial, ekspresi Afgan bahkan menjadi simbol kritik terhadap praktik membuat konten di tempat yang dianggap sakral atau sensitif.

Kontroversi ini pada akhirnya mencerminkan dilema yang lebih luas di era media sosial. Batas antara dokumentasi pribadi, konten publik, dan etika sosial menjadi semakin kabur. Kemudahan merekam dan membagikan momen kehidupan sehari-hari sering kali membuat orang lupa bahwa tidak semua situasi layak dijadikan konten.

Kasus ini menunjukkan bahwa ruang digital tidak sepenuhnya menghapus norma sosial yang telah lama berlaku dalam masyarakat.

Justru sebaliknya, publik masih memiliki ekspektasi kuat bahwa nilai empati, penghormatan terhadap duka, serta perlindungan privasi harus tetap dijaga—bahkan di tengah budaya konten yang semakin masif.

Kontroversi mengenai vlog di rumah duka ini mungkin akan segera berlalu dari perhatian publik. Namun ia meninggalkan pertanyaan penting bagi masyarakat digital: sampai di mana batas antara berbagi momen dan menghormati perasaan orang lain.

Di tengah dunia yang semakin terdokumentasi, pertanyaan tentang etika mungkin justru menjadi semakin relevan.

Jika Pelakita.ID ditanya berdiri di pihak mana, tentu rela berdiri bersama Afgan. Pembaca di mana?

___
Gowa, 9 Maret 2026