PELAKITA.ID – Momentum tahun 90-an. Di pesisir Pantai Galesong, Takalar, subuh belum benar-benar terjaga ketika sepuluh armada perahu balolang mulai merobek hening.
Dengan layar yang terkembang gagah menangkap angin, para nelayan ini memulai ritual yang telah mereka warisi turun-temurun. Mereka bukan sekadar melaut; mereka sedang menjemput takdir bagi ribuan keluarga di pedalaman.
Perjalanan itu panjang dan menantang. Dari Galesong, dari Batubatu, Bontosunggu, Bayowa hingga Mangindara di Selatan, mereka mengarungi ganasnya Selat Makassar di musim Barat, menyisir tepian perairan Tanakeke, lalu membelah gelombang menuju Selayar hingga akhirnya masuk ke ketenangan mistis Laut Flores.
Tujuan mereka satu: gugusan Pulau Rajuni di kawasan Taka Bonerate. Pulau Rajuni Kecil, Rajuni Besar hingga Tibano adalah ruaya pencarian mereka.
Penulis bersaksi, mereka ada di sana setidaknya ditemukan tahun 90-an akhir saat penulis bekerja untuk Proyek COREMAP I Coral Reef Rehabilitation and Management Program.
Kembali ke nelayan-nelayan pemberani itu. Setibanya di sana, kesibukan baru dimulai. Jaring-jaring ditebar untuk menjemput simbula, ikan tembang, dan sardin yang berenang dalam kawanan.

Di sisi selatan Pulau Rajuni Kecil, para nelayan ini membangun pondok-pondok sementara. Di sanalah “alkimia” dimulai.
Kaleng-kaleng besar diletakkan di atas tungku kayu bakar, dipenuhi ikan, dan ditaburi garam dalam jumlah yang berlimpah. Inilah proses kelahiran pallu ce’la—ikan pindang khas yang ketahanannya ditempa oleh api dan kristal garam.
Setelah berhari-hari memasak, ribuan ikan dalam kaleng ‘pallu ce’la’ siap dibawa pulang.
Perjalanan kembali ke Galesong memakan waktu satu hari satu malam, terkadang dua hari jika ombak sedang tidak bersahabat. Namun, saat perahu-perahu itu akhirnya bersandar di Dusun Pa’la’lakkang hingga Kampong Beru di Galesong Utara, lelah mereka seketika luruh.
Di pelabuhan inilah, rantai distribusi pun berdenyut.
Para pedagang atau middle men telah menunggu. Ikan-ikan ini kemudian berpindah tangan, masuk ke dalam mobil-mobil bak terbuka yang akan menempuh perjalanan darat jauh.

Pallu ce’la mulai menjelajah. Ia dibawa ke pasar-pasar di Makassar, Maros, hingga ke jantung Sungguminasa. Namun, perjalanan sejatinya justru terjadi saat ikan-ikan ini menanjak ke dataran tinggi: Malino, Tombolo Pao, Malakaji, hingga lereng-lereng Rumbia di Jeneponto di punggung Lompobattang hingga masuk ke pedalaman Bawakaraeng.

Bahkan, wangi garam laut dari Taka Bonerate ini merambah jauh ke utara, ke pasar-pasar tradisional di Palopo, Rantepao, hingga ke dinginnya Enrekang.
Di musim barat, saat hujan mengguyur dan akses ke pasar menjadi sulit, pallu ce’la menjadi penyelamat. Di dapur-dapur rumah warga pegunungan, ikan pindang ini ditumis dengan irisan cabai rawit yang pedas dan tomat yang segar.
Rasanya yang asin—yang bisa disesuaikan dengan selera—menjadi teman makan nasi hangat yang tak tergantikan.
Demikianlah jejak pallu ce’la dari Pulau Rajuni Taka Bonerate.
Ia bukan sekadar lauk pauk, melainkan bukti ketangguhan pelaut Galesong yang menghubungkan kekayaan laut dengan kebutuhan masyarakat pegunungan, merajut harmoni antara pesisir dan dataran tinggi dalam satu sajian yang sederhana namun penuh makna.
