Oleh: Cinta Laura Kiehl, sebagaimana dikutip dari halaman Linkedin
PELAKITA.ID – Apa sebenarnya makna pemulihan beberapa bulan setelah sebuah bencana alam terjadi?
Pertanyaan itu menjadi refleksi penting ketika saya baru-baru ini mengunjungi Aceh sebagai bagian dari kegiatan sosial melalui yayasan yang saya dirikan, Act of Love Foundation.
Kunjungan ini dilakukan bekerja sama dengan WWF Indonesia untuk melihat langsung kondisi masyarakat pascabanjir besar yang melanda wilayah tersebut pada November lalu.
Beberapa upaya pemulihan memang telah berjalan. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa banyak komunitas masih menghadapi kondisi yang tidak mudah.
Di desa-desa seperti Salah Sirong Jaya dan Uning Mas, sejumlah keluarga masih tinggal di hunian sementara. Tempat tinggal darurat ini tetap rentan setiap kali hujan deras kembali turun, membuat rasa aman bagi warga belum sepenuhnya pulih.
Salah satu hal yang paling mengkhawatirkan adalah kondisi sekolah-sekolah di wilayah terdampak. Di beberapa tempat, anak-anak masih harus belajar di tenda-tenda darurat dengan fasilitas yang sangat terbatas. Banyak di antara mereka yang tidak memiliki meja, kursi, ataupun bahan belajar yang memadai.

Situasi ini mengingatkan kita bahwa memastikan anak-anak dapat kembali belajar di lingkungan yang aman dan layak harus menjadi prioritas utama dalam proses pemulihan.
Kunjungan ini juga mempertegas satu pelajaran penting: ketangguhan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari kesehatan lingkungan tempat mereka hidup. Bersama WWF Indonesia, saya berkesempatan mempelajari lebih jauh tentang kawasan bentang alam Peusangan Landscape, sebuah wilayah yang memiliki peran sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Hutan-hutan di kawasan ini berfungsi sebagai penyangga alami yang mengatur sistem air dan membantu mengurangi risiko banjir. Melindungi ekosistem hutan di wilayah tersebut bukan hanya berarti menjaga alam, tetapi juga melindungi masyarakat yang hidup di sekitarnya.
Di dalam ekosistem ini juga hidup berbagai satwa langka, termasuk Gajah Sumatra, yang keberadaannya semakin terancam jika hutan terus mengalami kerusakan.
Karena itu, pemulihan pascabencana tidak boleh dipahami semata sebagai pembangunan kembali infrastruktur yang rusak.
Pemulihan sejati harus mencakup penguatan ekosistem, pemulihan mata pencaharian masyarakat, serta peningkatan kesiapsiagaan menghadapi bencana di masa depan.
Perjalanan ini saya dokumentasikan sebagai upaya untuk menghadirkan lebih banyak perhatian terhadap realitas yang masih dihadapi banyak komunitas di Aceh.
Harapannya, semakin banyak orang yang memahami bahwa pemulihan pascabencana adalah proses panjang yang membutuhkan solidaritas, kepedulian, dan komitmen bersama.
Jika Anda ingin melihat langsung bagaimana perjalanan ini berlangsung, dokumentasi lengkapnya dapat disaksikan melalui tautan video yang saya bagikan.
Dengan memahami cerita di balik bencana, kita semua dapat menjadi bagian dari upaya membangun masa depan yang lebih tangguh bagi masyarakat yang terdampak.
