PELAKITA.ID – Hari itu saya berada di Palu. Jumat siang. Matahari menggantung seperti lampu besar di langit Teluk. Saya melangkah ke masjid dekat tempat menginap.
Seperti biasa, khatib naik ke mimbar, menyampaikan pesan takwa, mengingatkan tentang kemuliaan membaca Al-Qur’an di bulan Ramadan. Sampai di satu bagian, suaranya mengeras. Sambil memandang jamaah dia mengingatkan bahwa jangan banyak mendengar musik, nanti hati menjadi keras.
Kalimat itu meluncur begitu saja. Jamaah diam. Saya pun diam. Dalam salat Jumat, kita memang lebih banyak menjadi pendengar daripada penanya. Tetapi di dalam batin, pertanyaan tetap tumbuh.
Apa yang dimaksud dengan musik?
Apakah ia nada? Lirik? Instrumen? Irama? Atau suasana yang lahir dari perpaduan semuanya? Jika sekadar bunyi yang teratur dan berirama disebut musik, bukankah tilawah Al-Qur’an juga bergerak dalam tangga nada?
Bukankah qari membaca dengan maqamat, dengan lengkung suara yang naik-turun, dengan getar yang menyentuh relung batin? Apakah qasidah dan lagu Arab yang memuji Nabi bukan bagian dari musik? Atau kita sedang membedakan antara “yang kita sukai” dan “yang kita curigai”?
Dalam tradisi Islam, diskusi tentang musik tidak pernah tunggal. Ada yang membatasi, ada yang membolehkan dengan syarat, ada yang melihatnya sebagai medium netral: ia menjadi baik atau buruk bergantung pada isi dan dampaknya.
Musik, dalam pengertian ilmiah, adalah susunan bunyi dalam pola tertentu. Ia adalah bahasa emosi yang melampaui kata. Tetapi hati yang mengeras bukan semata akibat bunyi; ia lahir dari keterputusan makna.
Hati menjadi keras bukan karena telinga mendengar nada, melainkan karena jiwa kehilangan arah. Seseorang bisa rajin membaca Al-Qur’an, tetapi jika bacaannya hanya berhenti di bibir dan tidak menetes ke laku, bukankah itu juga berisiko melahirkan kekeringan?
Sebaliknya, ada orang yang mendengar syair pujian, lalu hatinya luluh, air matanya jatuh, dan langkahnya berubah menjadi lebih lembut.
Ramadan adalah bulan suara-suara suci: azan, tilawah, doa yang bergetar di ujung malam. Semua itu bergerak dalam irama. Bahkan detak jantung kita pun adalah ritme.
Maka persoalannya bukan pada bunyi semata, tetapi pada orientasi. Apakah bunyi itu menjauhkan kita dari ingat kepada Allah, atau justru mengantarkan?
Di sinilah kita perlu kejernihan. Mengharamkan tanpa definisi yang jelas sering kali membuat agama terdengar sempit. Padahal Islam datang sebagai rahmat, bukan ketakutan yang dibunyikan berulang-ulang. Hati yang keras lebih sering lahir dari kesombongan, dari merasa paling benar, dari menutup ruang dialog—bukan sekadar dari sepotong melodi.
Saya meninggalkan masjid siang itu dengan langkah pelan. Angin Palu berembus ringan. Di kejauhan, terdengar anak-anak melantunkan ayat dengan suara terbata namun tulus.
Itu juga bunyi. Itu juga nada. Dan hati saya tidak merasa mengeras karenanya.
Mungkin yang perlu kita jaga bukan hanya apa yang masuk ke telinga, tetapi apa yang tumbuh di dalam dada. Karena pada akhirnya, yang menghidupkan atau mengeraskan hati bukanlah musik atau bukan musik—melainkan makna yang kita izinkan tinggal di sana.









