Perkuat Upaya Konservasi di Kawasan Wallacea, YKL Indonesia Luncurkan 3 Buku Praktik Baik di Makassar

  • Whatsapp
Nirwan Dessibali, Direktur Yayasan Konservasi Laut Indonesia (dok: Pelakita.ID)

Bagi YKL, laporan kegiatan saja tidak cukup. Program yang berhasil perlu diterjemahkan menjadi buku yang bercerita—agar mudah dipahami, menyentuh sisi kemanusiaan, dan memungkinkan untuk direplikasi di tempat lain.

Nirwan Dessibali, Direktur YKL Indonesia

PELAKITA.ID – Upaya pelestarian laut tidak hanya membutuhkan kerja lapangan, tetapi juga dokumentasi pengetahuan agar praktik baik dapat diwariskan dan direplikasi.

Berangkat dari kesadaran tersebut, Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia menggelar kegiatan Launching dan Bedah Buku Karya YKL Indonesia pada Sabtu, 28 Februari 2026.

Bertempat di Hotel Aston Makassar, acara ini berlangsung dalam suasana hangat dan penuh makna, sekaligus dirangkaikan dengan buka puasa bersama para pemangku kepentingan di sektor kelautan dan perikanan.

Momentum ini menjadi ruang pertemuan antara refleksi ilmiah, pengalaman lapangan, dan silaturahmi antarpegiat konservasi.

Merekam Praktik Baik di Jantung Wallacea

YKL Indonesia dikenal sebagai organisasi non-pemerintah yang berfokus pada wilayah pesisir, laut, dan pulau-pulau kecil di Kawasan Wallacea—sebuah kawasan dengan kekayaan hayati laut tertinggi di dunia.

Dalam perjalanannya, sebagaimana disampaikan Direktur YKL Indonesia, Nirwan Dessibali, YKL mengembangkan lima program utama: perlindungan dan pemulihan keanekaragaman hayati, pengelolaan kawasan konservasi laut, pemberdayaan perikanan skala kecil, advokasi hak kelola masyarakat pesisir, serta pengembangan usaha kecil dan kewirausahaan komunitas.

Dalam sambutannya, Nirwan menegaskan bahwa penerbitan buku-buku ini bukan sekadar dokumentasi, melainkan bagian dari proses pembelajaran bersama.

“Pengalaman lapangan yang selama ini tersimpan dalam praktik program diharapkan dapat diakses lebih luas, menjadi rujukan, dan memantik inspirasi bagi berbagai pihak yang peduli pada keberlanjutan laut,” harapnya.

Momentum ini menjadi ruang pertemuan antara refleksi ilmiah, pengalaman lapangan, dan silaturahmi antarpegiat konservasi.

Tentang substansi isi dan pesan buku

Merekam Pengetahuan dari Pesisir: Langkah YKL Indonesia Membangun Tradisi Dokumentasi Konservasi

Upaya konservasi laut tidak hanya berhenti pada kerja-kerja lapangan. Ia memerlukan dokumentasi yang kuat agar pengalaman, pembelajaran, dan praktik baik tidak hilang begitu saja.

Kesadaran inilah yang mendorong Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia meluncurkan tiga buku sebagai bagian dari pendokumentasian inisiatif program yang telah mereka jalankan sejak 2021, khususnya di Pulau Langkai, Pulau Lanjukang, dan Pulau Bone Tambung di kawasan Spermonde.

Bagi YKL, laporan kegiatan saja tidak cukup. Program yang berhasil perlu diterjemahkan menjadi buku yang bercerita—agar mudah dipahami, menyentuh sisi kemanusiaan, dan memungkinkan untuk direplikasi di tempat lain.

Pendekatan ini menjadi strategi penting untuk memperluas dampak program konservasi berbasis masyarakat.

Tak hanya dalam bentuk buku, dokumentasi program Spermonde juga telah diwujudkan dalam enam film, termasuk seri dokumenter Octopus Hunter. Langkah ini menunjukkan bahwa produksi pengetahuan dapat dikemas dalam berbagai medium agar menjangkau audiens yang lebih luas.

Tiga Buku, Tiga Perspektif Konservasi

Menurut Nirwan, tiga buku yang diluncurkan menghadirkan perspektif berbeda tentang laut dan masyarakat pesisir di Kawasan Wallacea yang meliputi wilayah tengah Indonesia yang kaya sumber daya alam.

Buku Profil Perikanan Gurita di Pulau Bone Tambu memotret kondisi perikanan gurita melalui pendekatan naratif. Buku ini lahir dari kesadaran bahwa sejak 2021 referensi tentang gurita—baik ilmiah maupun populer—masih sangat terbatas.

Dengan gaya bertutur, buku ini memberi gambaran konkret mengenai praktik perikanan, dinamika sosial, serta tantangan keberlanjutannya.

Sementara itu, buku Keanekaragaman Hayati Kota Makassar menghadirkan potret utuh kekayaan hayati wilayah kepulauan Makassar sebagai miniatur Spermonde.

“Fokusnya tidak semata pada angka dan statistik spesies, melainkan pada kisah di balik fauna yang terancam punah, seperti dugong dan dua jenis penyu. Buku ini disusun melalui kolaborasi dengan akademisi, memperkuat basis ilmiah sekaligus menjaga daya tarik naratifnya,” ucap Nirwan.

Adapun buku “Menggurita” di Pulau,  menawarkan pendekatan storytelling yang unik. Kata “menggurita” yang kerap diasosiasikan secara negatif diubah menjadi narasi positif tentang dampak ekonomi dan ekologi bagi masyarakat.

“Buku ini merupakan hasil kolaborasi dengan jurnalis Wahyu Candra, yang menyusun perjalanan program YKL sejak 2021 menjadi kronologi cerita yang hidup dan mudah dipahami,” sebut Nirwan.

Lima Buku dalam Proses

Tidak berhenti pada tiga judul tersebut, YKL Indonesia tengah memproses lima buku lain yang akan dirilis melalui situs web mereka.

Proses ini melibatkan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk mahasiswa magang, sebagai bagian dari upaya membangun regenerasi pengetahuan konservasi.

Buku Mangrove Terakhir Kota Makassar akan membandingkan kondisi mangrove dua dekade lalu dengan situasi terkini di pesisir selatan dan utara kota. Sementara itu, Perikanan Rajungan Latebung membahas wilayah tangkap serta strategi pelestarian rajungan di Lantebung.

Ada pula Buka Tutup Gurita, sebuah panduan teknis dan taktis bagi pihak yang ingin mereplikasi program konservasi gurita berbasis masyarakat.

Buku Penyu Lalombi mendokumentasikan program yang dijalankan di Sulawesi Tengah.

Sedangkan Mangrove dan Tsunami Palu disusun berdasarkan hasil tesis yang menunjukkan bahwa ketebalan mangrove 75 meter di Teluk Palu mampu meredam 65–90 persen energi tsunami—sebuah temuan penting dalam konteks mitigasi bencana berbasis ekosistem.

Mandiri sebagai Penerbit Pengetahuan

Langkah YKL dalam mendokumentasikan kerja-kerja lapangan semakin kuat setelah dalam tiga tahun terakhir mereka terdaftar sebagai penerbit resmi yang dapat menerbitkan ISBN secara mandiri.

Status ini memungkinkan YKL untuk mendesain, mencetak, dan menerbitkan buku hasil produksi pengetahuan mereka sendiri tanpa bergantung pada penerbit eksternal.

“Kemandirian ini bukan sekadar capaian administratif. Ia menandai lahirnya tradisi baru dalam gerakan konservasi: bahwa organisasi masyarakat sipil tidak hanya menjadi pelaksana program, tetapi juga produsen pengetahuan,” jelas Nirwan.

Dengan demikian, pengalaman lokal dari Spermonde dan kawasan Wallacea dapat terdokumentasi secara sistematis, disebarluaskan, dan menjadi inspirasi bagi wilayah pesisir lainnya.

“Pada akhirnya, dokumentasi bukan sekadar arsip. Ia adalah jembatan antara praktik dan masa depan—antara pengalaman hari ini dan kemungkinan replikasi esok hari,” kunci Nirwan.

Peserta kegiatan

Kehadiran beragam pemangku kepentingan dalam acara ini menegaskan bahwa konservasi laut adalah kerja kolaboratif. Dari unsur pemerintah, hadir perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan serta Dinas Perikanan dan Pertanian Kota Makassar.

Dari kalangan akademisi, diskusi diperkaya oleh para pakar dari Universitas Hasanuddin dan Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.

Sementara itu, jejaring organisasi masyarakat sipil dan mitra pembangunan turut meramaikan forum, mulai dari Blue Forests, Fauna & Flora International (FFI), Save the Children, hingga mitra sektor swasta seperti Mars Sustainable Solutions dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk.

Keberagaman aktor ini mencerminkan satu kesadaran bersama: perlindungan ekosistem laut tidak dapat berjalan sendiri-sendiri, melainkan memerlukan sinergi lintas sektor dan lintas disiplin.

Hadir pada bedah buku sebagai narasumber adalah Alief Fachrul Raazy dan F. Rafiq dari YKL Indonesia dan ditanggapi oleh Muhammad Imran Lapong, S.Kel, M.Sc, Wachyu Candra penulis dan akademisi Antropologi dari Universitas Hasanuddin serta Nurdwiasma dari Politeknik Pangkep.

Sebagai moderator adalah Adi Zulkarnain, akademisi Departemen Geografi, Universitas Negeri Makassar.

Acara yang berlangsung sejak pukul 16.00 hingga 19.30 WITA ini pun menjadi ajang refleksi bersama—bahwa menjaga Wallacea bukan hanya tentang melindungi alam, tetapi juga tentang merawat pengetahuan, membangun jejaring, dan memastikan masa depan masyarakat pesisir tetap berkelanjutan.