Perang, Simfoni Kebodohan Manusia

  • Whatsapp
Ilustrasi

PELAKITA.ID – Dalam sejarah panjang umat manusia, ada satu bab yang terus terulang dengan wajah yang sama, hanya berganti nama dan latar yakni PERANG.

Ia adalah simfoni kebodohan yang dimainkan dengan dentuman meriam, jerit anak-anak yang kehilangan orang tuanya, dan doa-doa panjang dari yang berduka, doa yang mengering di udara.

Ia tak pernah belajar dari masa lalu, tak pernah matang oleh pengalaman. Seolah-olah peradaban ini, seberapa pun majunya teknologi dan tingginya menara-menara keangkuhan, tetap tak mampu memutus tali purba yang menghubungkan kekuasaan dengan kehancuran.

Perang bukanlah mahkota kejayaan sebagaimana dikisahkan dalam buku sejarah yang penuh glorifikasi. Ia bukan puisi keberanian atau lambang keperkasaan bangsa. Tidak. Perang, sejatinya, adalah pengakuan manusia akan kegagalan dirinya sendiri—gagal berdialog, gagal mengendalikan ego, gagal menjadi bijak, dan lebih menyedihkan lagi: gagal menjadi manusia.

Lihatlah kota-kota yang hancur, rumah sakit yang luluh lantak, sekolah yang berubah jadi puing, dan wajah-wajah trauma yang mengendap di balik mata anak-anak kecil.

Semua itu bukan hasil dari bencana alam. Itu adalah karya tangan manusia. Itu adalah hasil keputusan yang diteken dalam ruangan ber-AC oleh mereka yang jauh dari medan perang, tapi mampu mengirim jutaan rakyatnya menuju kematian.

Dan yang lebih mengerikan dari kehancuran fisik adalah kehancuran nilai. Perang membuat orang lupa bahwa hidup adalah anugerah. Perang menjadikan pembunuhan sebagai keharusan.

Seolah membunuh bukan lagi pelanggaran moral, melainkan tugas patriotik. Padahal siapa pun yang jujur menatap luka itu, akan tahu: tidak ada pemenang dalam perang. Yang menang hanyalah keputusasaan. Yang merayakan hanya ego.

Seandainya Bumi bisa berbicara—tanah yang diinjak oleh para serdadu, yang diwarnai darah, yang dibelah tank dan misil—mungkin ia akan bersuara lirih, “Menjauhlah dari punggungku.” Bumi bukan medan laga. Ia adalah rumah.

Ia diciptakan untuk ditanami, bukan untuk diledakkan. Tapi lihatlah bagaimana manusia memperlakukan rumahnya: ladang gandum disulap jadi medan tempur, lembah hijau diubah jadi parit-parit pertahanan. Hutan terbakar bukan karena musim, tapi karena perang. Sungai-sungai memerah bukan karena senja, tapi karena darah.

Bumi, yang setiap hari menopang hidup manusia tanpa pamrih, kini harus memanggul kehancuran yang manusia ciptakan sendiri. Seandainya ia bisa mengeluh, barangkali ia akan bertanya, “Mengapa kalian menyakiti satu-satunya tempat tinggal yang kalian punya?”

Dan ironi perang tak berhenti pada penderitaan fisik dan moral. Ada absurditas yang lebih diam-diam tapi mematikan: biaya. Lihatlah betapa dunia bersedia menggelontorkan triliunan dolar untuk membeli peluru, bom pintar, jet tempur, rudal jarak jauh, dan sistem pertahanan canggih.

Negara-negara saling berlomba menciptakan senjata yang lebih akurat, lebih cepat, lebih mematikan. Mereka menyebutnya inovasi militer, padahal pada hakikatnya itu hanyalah peradaban yang menciptakan alat-alat untuk saling membunuh dengan lebih efisien.

Setiap peluru yang ditembakkan adalah satu piring nasi yang tak sampai ke meja orang miskin. Setiap jet tempur yang terbang adalah satu sekolah yang tidak dibangun.

Setiap rudal yang diluncurkan adalah satu rumah sakit yang dibiarkan sekarat. Perang membuat dunia memilih untuk membayar darah, bukan pendidikan. Memilih untuk membangun bunker, bukan rumah bagi tunawisma. Memilih untuk mendanai riset kematian daripada pengobatan dan kelangsungan hidup.

Bayangkan jika dana yang dihabiskan untuk perang digunakan untuk membangun air bersih di Afrika, pendidikan gratis bagi semua anak, atau penanganan krisis iklim.

Dunia bisa menjadi tempat yang sangat berbeda. Tapi manusia lebih memilih menanam ladang ranjau ketimbang ladang gandum. Dan yang paling menyakitkan, egoisme ini sering kali bukan milik bersama.

Ia milik segelintir orang: para pemimpin, penguasa, diktator, atau bahkan individu dengan kuasa yang menyesatkan. Rakyat hanya menjadi angka. Mereka dipanggil untuk menjadi prajurit, dikirim ke perbatasan, ditugaskan dalam gelap, dan dilupakan ketika mereka tak kembali.

Para pemimpin duduk di ruang kendali dengan wajah datar, menekan tombol, membuat keputusan tentang nyawa seperti membagi buah catur. Mereka mengatakan ini demi bangsa, demi kehormatan, demi harga diri. Tapi kerap kali itu demi gengsi pribadi. Demi kekuasaan yang mereka takutkan runtuh. Demi ego yang tak pernah selesai tumbuh.

Sementara yang harus kehilangan adalah mereka yang tak pernah tahu mengapa perang dimulai. Anak yang kehilangan ayahnya. Ibu yang kehilangan putranya.

Seorang kekasih yang menerima peti jenazah tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal. Inilah harga dari keputusan yang dibuat tanpa nurani.

Perang tidak lahir dari kekuatan, tapi dari kelemahan. Lemah dalam menahan amarah. Lemah dalam memahami perbedaan. Lemah dalam memeluk damai.

Ia bukan solusi, tapi bentuk eskalasi. Dan dalam setiap eskalasi, akan selalu ada yang menjadi korban lebih besar. Rakyat jelata. Mereka yang tak punya senjata, tak punya kursi parlemen, tak punya akses ke meja negosiasi. Tapi mereka yang selalu jadi bahan bakar sejarah.

Seseorang pernah berkata: “Ketika dua gajah bertarung, rumputlah yang hancur.” Begitulah dunia politik dan militer bekerja. Perang bukan bentrokan dua bangsa. Ia adalah bentrokan dua ego yang membuat jutaan rakyat membayar dengan nyawa dan masa depan.

Kini, dalam dunia yang konon lebih modern, lebih beradab, lebih terdidik—mengapa perang masih terjadi? Bukankah teknologi informasi telah membuka tabir kebohongan, menghubungkan manusia dari seluruh penjuru dunia? Bukankah sains telah memperlihatkan bahwa bumi ini rapuh, dan kita saling membutuhkan?

Mungkin jawabannya bukan karena kita kekurangan ilmu, tapi karena kita kehilangan hikmah. Bukan karena kita tidak tahu, tapi karena kita tidak peduli. Kita hidup dalam dunia yang kaya informasi, tapi miskin empati.

Sudah saatnya manusia bertanya ulang: untuk apa semua ini? Untuk apa senjata yang bisa membunuh satu kota dalam hitungan menit? Untuk apa anggaran pertahanan yang lebih besar dari anggaran kesehatan dan pendidikan digabungkan? Untuk apa kekuatan militer yang membuat bangsa lain tunduk, tapi rakyat sendiri menderita?

Jika perang adalah bagian dari sejarah, biarkan ia tinggal sebagai pelajaran, bukan pengulangan. Jangan wariskan kehancuran kepada generasi mendatang hanya karena kita terlalu angkuh untuk mengaku salah.

Kita harus mendefinisikan ulang makna keberanian. Bukan pada mereka yang mampu menembak lebih cepat, tetapi pada mereka yang mampu menahan diri.

Bukan pada pemimpin yang menyerukan perang, tetapi yang berani duduk di meja perdamaian. Bukan pada bangsa yang membangun pangkalan militer, tetapi yang membangun jembatan kemanusiaan.

Karena perdamaian bukan utopia. Ia bukan mimpi orang lemah. Ia adalah tanda bahwa manusia telah matang. Bahwa kita telah memilih akal sehat daripada amarah, kasih daripada kekuasaan, masa depan daripada dendam.

Perang akan terus terjadi selama manusia lebih mencintai tanah daripada jiwa. Selama harga diri lebih penting daripada nyawa. Selama pemimpin-pemimpin dunia masih lebih nyaman membangun tembok pertahanan daripada pintu dialog.

Tapi dunia bisa berubah—jika manusia berani belajar dari luka. Jika kita mau mendengar rintihan bumi, jerit anak-anak, dan tangisan langit yang memerah oleh api pertempuran. Jika kita berhenti membanggakan senjata dan mulai membanggakan empati.

Sebab hanya manusia yang paling bodoh yang mengulang luka yang sama, dengan cara yang sama, dan mengira hasilnya akan berbeda.

Perang bukan takdir. Ia adalah pilihan. Dan manusia yang sejati adalah mereka yang memilih untuk tidak menjadikannya jalan keluar. Sebab satu peluru yang ditembakkan hari ini, bisa jadi mengubur ribuan harapan yang belum sempat tumbuh.

Mari, kita jaga dunia bukan dengan senjata, tapi dengan cinta. Bukan dengan kekuatan militer, tapi dengan kekuatan nurani. Karena jika bumi ini punya suara, ia pasti memohon kepada kita: “Hiduplah dalam damai, atau menjauhlah dari punggungku.”

___
Gerhana Alauddin, Juni 2025