Impresi di Balik 3 Buku Produk Pengetahuan YKL Indonesia

  • Whatsapp
Dalam sesi pembuka yang dipaparkan Direktur YKL Indonesia, Nirwan Dessibali, YKL Indonesia hari itu meluncurkan tiga buku penting: Keanekaragaman Hayati Laut Kota Makassar sebagai Miniatur Kepulauan Spermonde, Profil Perikanan Gurita Skala Kecil di Pulau Bone Tambu, dan “Menggurita” di Pulau.

Pendekatan ini dianggap penting bagi dunia akademik. Buku tersebut dinilai layak menjadi referensi kurikulum, khususnya bagi mahasiswa kelautan dan perikanan. Data kuantitatif tersedia, namun dijelaskan dengan pendekatan deskriptif yang kuat.

Pegiat Konservasi Kelautan, Muhammad Imran Lapong, M.Sc pada bedah 3 buku karya YKL Indonesia

PELAKITA.ID – Bedah Buku yang digelar dan dirangkaikan buka puasa Ramadan ini menjadi ruang refleksi bersama antara aktivis lapangan, akademisi, dan pegiat konservasi untuk membaca ulang wajah laut Kota Makassar dan Kepulauan Spermonde—bukan hanya sebagai bentang alam, tetapi sebagai ruang hidup yang penuh dinamika sosial, ekonomi, dan ekologi.

Nirwan Dessibali, Direktur Yayasan Konservasi Laut Indonesia (dok: Pelakita.ID)

Dalam sesi pembuka yang dipaparkan Direktur YKL Indonesia, Nirwan Dessibali, YKL Indonesia hari itu meluncurkan tiga buku penting: Keanekaragaman Hayati Laut Kota Makassar sebagai Miniatur Kepulauan Spermonde, Profil Perikanan Gurita Skala Kecil di Pulau Bone Tambu, dan “Menggurita” di Pulau.

Ketiganya, sebut Nirwan, lahir dari praktik lapangan sejak 2021, khususnya di Pulau Langkai, Pulau Lanjukang, dan Pulau Bone Tambu.

Disebutkan Nirwan, ketiganya tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung oleh satu benang merah: mempertemukan konservasi dan kepentingan ekonomi masyarakat pesisir.

Buku Pertama: Miniatur Spermonde dari Kota Makassar

Pada bedah buku yang dimoderatori Adi Zulkarnain, akademisi Universitas Negeri Makassar yang juga alumni YKL Indonesia, salah satu penulis, Alif Fachrul Razy, menjelaskan bahwa buku Keanekaragaman Hayati berangkat dari program penguatan ekonomi dan konservasi gurita di Kepulauan Spermonde.

”Program ini berbasis pada sistem “buka-tutup”—sebuah pendekatan tata kelola yang memungkinkan perlindungan ekosistem berjalan beriringan dengan peningkatan ekonomi masyarakat,” sebut alumni Kelautan Unhas itu.

“Selama ini konservasi dan ekonomi sering dianggap sulit dipertemukan. Tapi sejak 2021, kami melihat keduanya bisa berjalan bersama,” ungkapnya.

Bagi dia, buku ini tidak sekadar menyajikan angka spesies atau daftar organisme terancam. Ia menangkap keterlibatan masyarakat dalam tata kelola sumber daya.  Makassar diposisikan sebagai miniatur Spermonde—artinya, tekanan yang terjadi di Makassar akan berdampak pada pulau-pulau lain di sekitarnya.

Narasi buku menampilkan dua perspektif, ancaman ekologis akibat urbanisasi dan tekanan pesisir dan praktik-praktik tata kelola masyarakat yang dapat direplikasi di wilayah lain.

Dengan kata lain, buku ini mengajak pembaca melihat laut bukan hanya sebagai objek statistik, tetapi sebagai sistem sosial-ekologis yang hidup.

Buku Kedua: Gurita sebagai Komoditas dan Motor Konservasi

Buku Perikanan Gurita Skala Kecil di Pulau Bone Tambu, menurut pembicara kedua, M. Fauzi Rafiq memotret perjalanan nelayan gurita sejak 1960-an hingga kini.

Pulau Bone Tambu, yang berjarak sekitar satu jam perjalanan laut dari Makassar, menjadi contoh bagaimana komoditas gurita berkembang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat.

Disebutkan, nelayan di pulau tersebut awalnya menangkap ikan secara sederhana menggunakan perahu layar. Pada awal 2000-an, mereka belajar teknik penangkapan gurita dari wilayah lain seperti Wakatobi.

”Dari situ, gurita berkembang menjadi komoditas utama. Menariknya, nelayan gurita di Bone Tambu hampir seluruh hasil tangkapannya dijual, bukan untuk konsumsi rumah tangga. Gurita menjadi bagian dari rantai nilai global. Buku ini mengulas secara rinci musim tangkap, rantai pasok, hingga tantangan keberlanjutan,” ungkap Fauzi.

Di sinilah sistem buka-tutup diperkenalkan sebagai pendekatan pengelolaan. Dengan jeda waktu tangkap tertentu, populasi gurita diberi ruang untuk pulih. Hasilnya, harga meningkat dan stok tetap terjaga.

Konservasi menjadi masuk akal karena berdampak langsung pada ekonomi.

Perspektif Akademik: Membaca Laut dalam Satu Buku

Akademisi Institut Kelautan Balik Diwa, Muhammad Imran Lapong, M.Sc, menilai buku tersebut seperti “membaca laut”. “Narasi yang dibangun tidak kaku seperti laporan teknis, tetapi mengalir dengan metafora dan cerita yang memudahkan pembaca memahami kompleksitas ekosistem,” ucapnya.

Alumni Kelautan Unhas ini menyoroti bagaimana buku ini memadukan data ekologis dengan interaksi sosial masyarakat. Tidak hanya berbicara tentang ikan karang, padang lamun, atau terumbu karang, tetapi juga bagaimana masyarakat berinteraksi dengan ruang hidupnya.

”Pendekatan ini dianggap penting bagi dunia akademik. Buku tersebut dinilai layak menjadi referensi kurikulum, khususnya bagi mahasiswa kelautan dan perikanan. Data kuantitatif tersedia, namun dijelaskan dengan pendekatan deskriptif yang kuat,” puji Imran.

Salah satu penanggap lainnya, Akademisi Politeknik Pangkep, Nurdwiana, S.Kel, M.Si pernah meneliti gurita dan mengakui bahwa minat penelitiannya lahir dari diskusi bersama YKL.

”Referensi tentang gurita di Indonesia masih sangat terbatas, sehingga buku ini menjadi salah satu pijakan awal yang penting,” ucapnya.

Bagi jurnalis Mongabay Indonesia Wachyu Candra, buku “Menggurita” di Pulau menghadirkan pendekatan storytelling. Ia mengubah kata “menggurita” yang kerap bernuansa negatif menjadi simbol dampak ekonomi dan perubahan sosial.

”Narasi ini memperlihatkan bahwa dokumentasi bukan sekadar arsip. Ia adalah jembatan antara praktik lapangan dan wacana akademik, antara pengalaman lokal dan kebijakan publik,” ucapnya.

Dia juga memberikan catatan kritis. ”Salah satunya, buku terasa terlalu singkat. Banyak data lapangan bertahun-tahun yang masih bisa dieksplorasi lebih dalam,” ucapnya.

Ada pula masukan agar ke depan isu gender, perubahan iklim, dan dimensi global lebih diperkuat.

“Sekarang kalau menulis tanpa memasukkan isu perubahan iklim, gender, dan ketahanan pangan, sulit masuk jurnal internasional,” ujar salah satu pembicara.

Namun secara umum, ketiga buku ini dipandang sebagai langkah penting. “YKL tidak lagi hanya menjadi pelaksana program, tetapi produsen pengetahuan. Buku-buku ini adalah aset intelektual jangka panjang—yang kelak bisa menjadi rujukan kebijakan, bahan perdebatan ilmiah, bahkan dokumentasi sejarah perubahan pesisir,” puji Wachyu yang juga pengajar Antropologi di Unhas ini.

Kiri-kanan, Nirwan Dessibali (YKL Indonesia), Kamaruddin Azis (The COMMIT Foundation/Pelakita.ID), Slash (Jaring Nusa), Awaluddin (Romang Celebes), Risky (Jaring Nusa) Syafriman Ali (Blue Forest), Yamin (YKL Indonesia), Ramlan Jamal (Nypah), Dr Rijal Idrus (Unhas), Ocha Fatimah Saleh (YKL), Adi Zulkarnain (UNM Makassar), Subhan Uya (Flora Fauna Indonesia), Wachyu Candra (Fisip Unhas/Mongabay), Urban Elfatih (Climate Change Expert), Yusran Nurdin Massa (Blue Forest Expert), Fachril Muhajir (Nypah Expert), Akhsan (Blue Forest), Yusbi (DKP Sulsel)

Lebih dari Sekadar Buku

Pembaca sekalian, impresi kita, bedah tiga buku YKL Indonesia menunjukkan bahwa konservasi bukan hanya soal menjaga spesies, tetapi merawat relasi antara manusia dan lautnya. Ia tentang tata kelola, tentang keberanian mencoba pendekatan baru, dan tentang membagikan pengalaman agar bisa direplikasi.
J
ika membaca buku ini sama dengan membaca laut, maka forum bedah ini adalah ruang untuk belajar menyelami kedalaman maknanya.

Dan mungkin, seperti yang disampaikan dalam diskusi, inilah awal dari babak baru: ketika praktik lapangan dan dunia akademik benar-benar berjalan berdampingan, merawat masa depan Benua Maritim Indonesia.

____
Denun, Tamarunang 1 Maret 2026