Di Satu Meja, 29 Tahun YKL dan Tuntutan Kolaborasi Pengelolaan Benua Maritim Indonesi

  • Whatsapp
Kiri-kanan, Nirwan Dessibali (YKL Indonesia), Kamaruddin Azis (The COMMIT Foundation/Pelakita.ID), Slash (Jaring Nusa), Awaluddin (Romang Celebes), Risky (Jaring Nusa) Syafriman Ali (Blue Forest), Yamin (YKL Indonesia), Ramlan Jamal (Nypah), Dr Rijal Idrus (Unhas), Ocha Fatimah Saleh (YKL), Adi Zulkarnain (UNM Makassar), Subhan Uya (Flora Fauna Indonesia), Wachyu Candra (Fisip Unhas/Mongabay), Urban Elfatih (Climate Change Expert), Yusran Nurdin Massa (Blue Forest Expert), Fachril Muhajir (Nypah Expert), Akhsan (Blue Forest), Yusbi (DKP Sulsel)

Kami beruntung, dapat undangan merayakan ulang tahun ke 29 YKL Indonesia. Organisasi yang dibesut sejumlah alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan di tahun pertengahan 90-an ini menempati posisi strategis dalam upaya membangun maritim Indonesia dari wilayah yang sering disebut sebagai jantung keanekaragaman hayati laut dunia: Kawasan Wallacea.

PELAKITA.ID – Bagi penulis, foto ini merekam lebih dari sekadar momen kebersamaan. Di sekeliling satu meja bundar, para pegiat konservasi kelautan dan perikanan duduk tanpa sekat—akademisi, aktivis LSM, pendamping masyarakat, hingga mitra pembangunan.

Ada wajah-wajah lama yang kembali bertemu, ada generasi baru yang ikut bergabung. Reuni ini bukan nostalgia semata, melainkan penanda perjalanan panjang dan tantangan ke depan dalam menjaga laut Indonesia.

Di antara mereka, hadir jejaring yang selama bertahun-tahun bekerja di garis depan konservasi: Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia, Fauna & Flora International, Blue Forests, The COMMIT Foundation, hingga Jaring Nusa. K

ehadiran akademisi dari Universitas Hasanuddin AbangaDr. Rijal Idrus, ketua Pusat Studi Perubahan Iklim Universitas Hasanuddin mempertegas bahwa ruang ini adalah simpul penting antara praktik, refleksi ilmiah, dan arah masa depan.

Karena pertimbangan itu pula, penulis mencoba mengelaborasi makna di balik momen langka tersebut.

Posisi Strategis YKL dalam Lanskap Maritim Indonesia

Kami beruntung, dapat undangan merayakan ulang tahun ke 29 YKL Indonesia. Organisasi yang dibesut sejumlah alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan di tahun pertengahan 90-an ini menempati posisi strategis dalam upaya membangun maritim Indonesia dari wilayah yang sering disebut sebagai jantung keanekaragaman hayati laut dunia: Kawasan Wallacea.

Senang sekali menyaksikan bahwa kerja-kerja YKL tidak berhenti pada intervensi lapangan, tetapi terus berevolusi menjadi produksi pengetahuan yang mandiri dan terstruktur.

Mereka baru saja merilis tiga buku dan sedang menyiapkan lima berikutnya – apa yang disebut Rijal Idrus sebagai produksi pengetahuan.

Dengan lima program utama—perlindungan keanekaragaman hayati, pengelolaan kawasan konservasi, pemberdayaan perikanan skala kecil, advokasi hak kelola masyarakat, serta pengembangan kewirausahaan komunitas—YKL memperkuat fondasi pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil, khususnya di Spermonde.

Status YKL sebagai penerbit resmi ber-ISBN menandai sebuah lompatan penting: organisasi masyarakat sipil tidak lagi hanya menjadi pelaksana proyek, tetapi produsen pengetahuan yang mampu memberi rujukan bagi kebijakan dan praktik konservasi di tingkat nasional maupun internasional.

Mengapa Kolaborasi Menjadi Keniscayaan

Kembali ke foto di atas. Foto itu menjadi pengingat bahwa laut tidak pernah bekerja secara sektoral.

Ekosistem laut bersifat cair, saling terhubung, dan kompleks—sehingga upaya perlindungannya tidak mungkin dijalankan secara sendiri-sendiri. Inilah mengapa kolaborasi menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar jargon.

Pada pemikiran seperti itu, dokumentasi yang dilakukan YKL melalui buku dan film menunjukkan bahwa konservasi bukan hanya soal hasil, tetapi juga soal proses belajar bersama.

Pengetahuan yang tidak dibagikan akan terisolasi; praktik baik yang tidak didokumentasikan akan berhenti sebagai pengalaman lokal. Kolaborasi menjadikan dokumentasi sebagai jembatan: menghubungkan praktik hari ini dengan kemungkinan replikasi di masa depan.

Apa yang tergambar dalam pertemuan ini mencerminkan model pentahelix yang hidup—bukan sekadar konsep di atas kertas.

Pemerintah hadir melalui dinas kelautan dan perikanan provinsi Sulawesi Selatan, Pemerintah Kota Makassar, sementara akademisi memberi basis ilmiah dan refleksi kritis, sektor swasta menyumbang inovasi dan sumber daya, LSM serta masyarakat memastikan keberlanjutan sosial, sementara media dan jurnalis membantu menerjemahkan kerja-kerja teknis menjadi narasi yang menyentuh publik.

Dalam konteks ini, YKL berperan sebagai penghubung. Ia merajut kepentingan yang beragam agar bergerak ke arah yang sama: keberlanjutan laut dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Penulis ingin memberi garis tebal pada kolaborasi dengan perguruan tinggi, khususnya Universitas Hasanuddin, sebagai elemen kunci dalam memastikan bahwa kerja konservasi tidak kehilangan pijakan ilmiahnya.

Kehadiran Rijal Idrus, selain dianggap mewakili Unhas, menunjukkan pual bahwa para akademisi tidak hanya hadir sebagai pengamat, tetapi sebagai mitra dialog yang memberi umpan balik kritis atas praktik lapangan.

Keterlibatan mahasiswa magang mahasiswa Ilmu Kelautan FIKP Unhas dalam proses dokumentasi dan produksi buku memperlihatkan peran universitas sebagai ruang regenerasi pengetahuan konservasi.

“Di sinilah pengalaman lapangan bertemu dengan teori, dan idealisme mahasiswa bertemu dengan realitas pesisir. Sinergi ini penting agar Benua Maritim Indonesia dikelola dengan pendekatan yang ilmiah sekaligus membumi,” jelas Rijal Idrus terkait momentum kebersamaan itu.

Tak hanyamenggelar buka puasa, YKL Indonesia memberi sinyal bahwa produk pengetahuan sedang mereka bagikan, siap menjadi gizi bagi rencana perbaikan tata kelautan maritim di Indonesia dan dunia.

Nirwan Dessibali, menyatakan, ke depan, YKL Indonesia masih membuka banyak ruang kolaborasi melalui rencana penerbitan lima buku baru—tentang mangrove, perikanan rajungan, konservasi gurita, hingga mitigasi tsunami berbasis ekosistem. Setiap buku bukan sekadar produk, melainkan undangan untuk terlibat.

Bagi penulis, dan bagi kita semua, foto ini, pada akhirnya, adalah potret tentang harapan.

Bahwa perbaikan laut Indonesia membutuhkan daya gedor kolektif. Bahwa pengalaman lokal dari Spermonde dan Wallacea memiliki potensi memantik perubahan global.

Bahwa di momentum ulang tahun ke-29 YKL Indonesia, di tengah tantangan krisis ekologi, selalu ada ruang untuk duduk bersama, berbagi cerita, dan merancang masa depan laut yang lebih adil dan berkelanjutan.

___
Denun
Tamarunang, 1 Maret 2026