Spiritualitas Rezeki bagi Jiwa Modern

  • Whatsapp
Ilustrasi pria masa kini (image by AI)

Penulis: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

PELAKITA.ID – Kini di zaman yang riuh oleh target. Kalender tak ada yang lowong, kepala penuh ambisi, tetapi hati sering kosong oleh rasa aman. Rezeki direduksi menjadi angka, pekerjaan menjadi identitas, dan masa depan terasa seperti medan perang yang harus ditaklukkan sendirian.

Di tengah kegelisahan itu, Surah Hud ayat 6 menghadirkan satu kalimat yang menenangkan. Tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan rezekinya dijamin Allah.

Ayat ini tidak berbicara hanya kepada orang beriman yang khusyuk di sudut masjid, tetapi kepada manusia modern yang terjebak dalam kecemasan struktural.

“Wa ma min dabbah”—tidak ada satu pun makhluk. Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menegaskan bahwa cakupan ayat ini universal.  Bahwa semua yang bernyawa berada dalam pemeliharaan Ilahi. Rezeki bukan sekadar materi, tetapi segala daya yang membuat hidup terus menyala.

Frasa ‘alallahi rizquha adalah deklarasi ketuhanan bahwa Allah menanggungnya. Al-Tabari memaknainya sebagai penegasan tanggung jawab Ilahi atas ciptaan-Nya.

Ia tidak menciptakan lalu membiarkan. Ia mengetahui mustaqarr dan mustauda‘—tempat tinggal dan tempat penyimpanan.

Dari rahim hingga kubur, dari awal hingga kembali, hidup manusia berada dalam pengetahuan yang sempurna.

Di sinilah spiritualitas rezeki menemukan maknanya. Rezeki bukan sekadar hasil kompetisi, tetapi bagian dari skenario kosmis yang telah tertulis dalam kitabin mubin—Kitab yang nyata.

Dalam horizon tasawuf, sikap ini disebut tawakkal. Al-Ghazali menjelaskan bahwa tawakkal adalah melepaskan ketergantungan hati dari sebab, tanpa meninggalkan ikhtiar.

Kita tetap bekerja, tetapi hati bersandar pada Yang Maha Mengatur. Sebab hanyalah jalan; Allah adalah tujuan.

Jiwa modern letih bukan karena kurang bekerja, tetapi karena merasa sendirian. Hud 6 memulihkan kesadaran bahwa hidup ini dipelihara. Burung tetap terbang mencari makan, tetapi ia tidak pernah meragukan langit.

Maka mungkin yang perlu disembuhkan bukan dompet kita, melainkan cara kita memandang takdir. Semua telah tertulis—bukan untuk melemahkan langkah, tetapi untuk menenangkan hati.