PELAKITA.ID – Di ruang tunggu bandara, waktu terasa berbeda. Ia tidak berlari, tetapi juga tidak diam. Ia seperti menggantung di udara Orang-orang duduk berjajar dengan tujuan masing-masing.
Ada yang memeluk ransel, ada yang menatap layar keberangkatan, ada yang termenung seolah sedang menghitung jarak antara hari ini dan esok.
Tak ada yang benar-benar tinggal di sini. Semua hanya singgah.
Bandara mengajarkan satu hal yang terkadang kita lupakan bahwa hidup adalah transit. Kita datang dengan tiket di tangan, menunggu panggilan yang tak pernah kita tahu persis kapan terdengar. Tidak ada yang memasang fondasi rumah di ruang tunggu.
Tidak ada yang menanam pohon untuk dipanen bertahun-tahun kemudian. Semua sadar, ini hanya tempat persinggahan. Namun betapa sering kita memperlakukan dunia sebaliknya.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau dibandingkan akhirat yang kekal. Tetapi manusia kerap lupa.
Kita menghias ruang tunggu dengan ambisi, memperberat koper dengan keserakahan, bahkan berselisih hanya karena posisi kursi sementara.
Hari ini saya duduk di antara keberangkatan dan berbuka. Tubuh menahan lapar, tenggorokan belajar sabar dari dahaga. Puasa menjadikan ruang tunggu seperti memperlambat detak keinginan dan menajamkan kesadaran.
Tidak semua yang ingin kita raih harus segera digenggam.
Di bandara, ada batas berat bagasi. Yang berlebihan harus dikurangi. Bukankah hidup juga demikian? Terlalu banyak beban membuat perjalanan terganggu.
Dendam, iri, ambisi tanpa batas—semuanya hanya menambah timbangan yang memberatkan langkah ruhani. Puasa datang sebagai latihan mengurangi. Mengosongkan. Menyaring.
Menunggu boarding mengajarkan disiplin waktu. Tak seorang pun bisa memaksa pintu pesawat dibuka sebelum panggilan. Begitu pula berbuka. Ada saat menahan, ada saat menerima. Di antara keduanya, kita belajar percaya pada ketetapan.
Ketika azan magrib nanti terdengar, seteguk air akan terasa seperti anugerah tak terhingga. Bukan karena air itu berubah, tetapi karena jiwa telah ditempa oleh penantian. Di situlah rahasia puasa: ia tidak sekadar menahan, tetapi memurnikan makna menerima.
Kita semua sedang berada di antara boarding dan berbuka. Di antara keberangkatan yang dirahasiakan dan perjumpaan yang dijanjikan. Dunia adalah ruang tunggu; iman adalah tiket; waktu adalah panggilan yang pasti tiba.
Dan semoga ketika nama kita diumumkan, kita telah siap berangkat dengan koper yang ringan dan hati yang lapang.









