Benua Maritim Indonesia dan Relevansinya dengan Fakultas di Universitas Hasanuddin

  • Whatsapp
Rektor Universitas Hasanuddin, Prof Jamaluddin Jompa adalah juga Guru Besar Kelautan Universitas Hasanuddin (dok: Pelakita.ID)

Tujuan utama pembahasan secara terus menerus relevansi Benua Maritim Indonesia adalah demi memastikan setiap program studi di Unhas mampu menemukan peran strategisnya dalam visi besar universitas.

PELAKITA.ID – Indonesia bukan sekadar negara kepulauan, melainkan sebuah Benua Maritim Indonesia (BMI)—ruang hidup raksasa tempat darat, laut, udara, manusia, budaya, dan pengetahuan saling bertaut.

Kesadaran inilah yang menjadi fondasi visi Universitas Hasanuddin (Unhas): menjadi pusat unggulan pengembangan insani, ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, dan budaya berbasis Benua Maritim Indonesia.

Visi ini bukan slogan simbolik, melainkan mandat strategis yang harus diterjemahkan hingga ke ruang-ruang paling konkret: program studi dan fakultas.

Terkait “Relevansi BMI dengan Program Studi atau Fakultas”, telah dijelaskan dalam dokumen perencanaan Unhas sebagai kunci pembumian visi tersebut.

Kali ini Pelakita.ID me-refresh untuk membuka lanskap peluang pengembangan Fakultas ke depan.

Di sinilah BMI diposisikan bukan sebagai tema tambahan, tetapi sebagai platform akademik bersama—landasan berpikir, merancang kurikulum, menentukan profil lulusan, dan mengarahkan riset serta pengabdian, di tengah status Universitas Hasanuddin sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum.

Ilustrasi oleh Pelakita/AI

Membumikan Visi: Dari Gagasan ke Ekosistem Akademik

Tujuan utama pembahasan secara terus menerus relevansi BMI adalah demi memastikan setiap program studi di Unhas mampu menemukan peran strategisnya dalam visi besar universitas.

Rencana Jangka Panjang Unhas 2030 menegaskan bahwa keunggulan program studi tidak boleh berdiri sendiri, melainkan harus berakar pada kespesifikan ekologi, sosial, dan budaya Benua Maritim Indonesia.

Pembumian visi ini bergerak melalui tiga misi utama. Pertama, penciptaan lingkungan belajar inovatif, di mana materi pembelajaran tidak lepas dari hasil-hasil riset terkait BMI.

Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi diajak membaca realitas maritim Indonesia sebagai laboratorium hidup.

Kedua, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (ipteks) yang lahir dari keragaman ekosistem dan sistem sosial-budaya BMI, terutama kawasan Wallacea yang kaya keunikan hayati dan sosial.

Di sini, ilmu tidak sekadar diadopsi dari luar, tetapi dikembangkan dari pengalaman dan konteks sendiri.

Ketiga, penerapan ipteks bagi kemaslahatan masyarakat, melalui pengabdian yang menyentuh langsung persoalan masyarakat pesisir, pulau-pulau kecil, dan wilayah terpencil. Ilmu dituntut hadir sebagai solusi, bukan sekadar wacana.

BMI sebagai Kerangka Bersama Lintas Fakultas

Salah satu kekuatan utama pendekatan BMI di Unhas adalah sifatnya yang lintas-disiplin.

BMI tidak direduksi menjadi isu kelautan semata, melainkan dipahami sebagai ruang kompleks kehidupan manusia—di darat, laut, dan dirgantara. Karena itu, hampir seluruh rumpun keilmuan menemukan relevansinya.

Dalam rumpun Ekonomi dan Bisnis, misalnya, BMI diterjemahkan melalui pengembangan ekonomi maritim dan konsep Blue Economy.

Program studi diarahkan melahirkan lulusan yang mampu mengelola kewirausahaan berbasis potensi laut, sekaligus menyusun sistem pelaporan keuangan yang mengintegrasikan dimensi ekonomi dan lingkungan—termasuk pengembangan akuntansi kelautan.

Rumpun Hukum memainkan peran strategis dalam penguatan kedaulatan maritim.

Fokus kajian mencakup Hukum Laut dan Politik Kelautan, mulai dari penarikan garis batas wilayah negara sesuai UNCLOS 1982, penanganan kejahatan lintas batas seperti illegal fishing dan human trafficking, hingga penyelesaian sengketa internasional di wilayah perairan.

Pada rumpun Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, BMI menjadi lensa untuk membaca tata kelola masyarakat adat maritim, sistem politik lokal kepulauan, dan diplomasi maritim.

Administrasi publik didorong agar lebih adaptif terhadap karakter wilayah kepulauan, sementara ilmu komunikasi mengkaji dinamika lintas etnik di kawasan pesisir yang multikultural.

Rumpun Ilmu Budaya memperkaya perspektif BMI melalui kajian sejarah maritim, arkeologi bawah air, dan linguistik maritim.

Bahasa, sastra daerah, dan sastra asing diarahkan untuk memperkuat identitas budaya maritim sekaligus membangun kemampuan komunikasi dalam jejaring perdagangan dan interaksi global.

Di rumpun Tekno-Sains (Teknik dan MIPA), BMI menjadi medan inovasi teknologi.

Mulai dari rekayasa kapal dan sistem transportasi laut, pembangunan infrastruktur pesisir yang adaptif terhadap perubahan iklim, hingga eksplorasi sumber daya mineral samudera.

Ilmu MIPA berkontribusi melalui pemodelan matematika ekosistem laut, kimia bahan alam bahari, serta konservasi flora dan fauna endemik Wallacea.

Rumpun Agro-Complex—pertanian, kehutanan, dan peternakan—mengembangkan pendekatan pertanian tropis berkelanjutan yang selaras dengan ekosistem kepulauan.

Perlindungan mangrove dan hutan pesisir menjadi bagian tak terpisahkan, demikian pula pengembangan plasma nutfah ternak khas Sulawesi sebagai kekayaan genetik nasional.

Sementara itu, rumpun Medikal-Sains menempatkan BMI sebagai konteks tantangan kesehatan.

Fokusnya mencakup kedokteran bencana, penanganan penyakit tropis di wilayah kepulauan, hingga eksplorasi biodiversitas laut sebagai sumber obat-obatan baru. Pelayanan kesehatan dirancang adaptif melalui ambulans laut, bidan pulau, dan sistem layanan yang menjangkau wilayah terluar.

Nilai Ke-Unhas-an: Karakter Maritim dalam Pendidikan Tinggi

Integrasi BMI dalam program studi tidak berhenti pada kurikulum dan riset, tetapi juga pada pembentukan karakter. Nilai dasar Ke-Unhas-an—Integritas, Inovatif, Katalitik, dan Arif—menjadi cerminan etos maritim: jujur menghadapi tantangan, berani berinovasi, mampu menjadi penggerak perubahan, dan bijaksana dalam mengambil keputusan.

Nilai-nilai ini menegaskan bahwa lulusan Unhas diharapkan bukan hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan keberanian moral untuk berkontribusi bagi bangsa kepulauan.

Pada akhirnya, relevansi Benua Maritim Indonesia dengan program studi di Universitas Hasanuddin adalah upaya integrasi holistik antara takdir geografis Indonesia dan arah pengembangan pendidikan tinggi.

BMI menjadi jembatan antara ilmu dan realitas, antara kampus dan masyarakat, antara pengetahuan dan kemaslahatan.

Dengan menjadikan BMI sebagai platform bersama, Unhas tidak hanya memperkuat identitasnya sebagai universitas maritim, tetapi juga menegaskan perannya dalam merancang masa depan Indonesia—sebuah bangsa yang hidup, tumbuh, dan berdaulat di atas samudra.

Redaksi