Bang Akbar Faizal atau kusebut The Larry King -nya Indonesia sempat menyarut #NarasiAno seri7. “Mengapa harus menulis kota kota yang sudah hancur? buatlah tulisan di mana kota kota seperti Sicilia, Singapura, Zenchen, Sillicom Valey, Dubai dan Songdo yang maju karena imajinasi”.
PELAKITA.ID – Saat itu abad ke 13, Baghdad bukan sekadar kota, bukan kota biasa, sebuah kota yang melampau makna tentang kota itu sendiri. Dia berdiri megah di tengah masa keemasan Dunia Islam.
Walaupun, Baghdad telah hancur kini tetapi kota tersebut pernah menjadi “surga” -nya dunia, pernah menjadi mercusuar ilmu pengetahuan, ramah para filsuf, ilmuwan dan penyair.
Pembaca #NarasiAno yang budiman.
Bridging sejenak!
Bang Akbar Faizal atau kusebut The Larry King -nya Indonesia sempat menyarut #NarasiAno seri7
“mengapa harus menulis kota kota yang sudah hancur? buatlah tulisan di mana kota kota seperti Sicilia, Singapura, Zenchen, Sillicom Valey, Dubai dan Songdo yang maju karena imajinasi”.
Ingin kusampaikan seperti ini. NarasiAno mengulik kembali kota kota peradaban Islam itu seperti Baghdad misalnya, sebab kota ini dibangun melalui imajinasi dan visioner yang kuat oleh pemimpin mereka pada masa itu.
Pesan yang #NarasiAno ini kemukakan ke publik adalah agar para pemimpin pemimpin di Indonesia dari Presiden, Gubernur hingga bupati, berempati pada imajinasi dan ilmu pengetahuan.
Misal Sulawesi Selatan. provinsi ini terkenal dengan dunia maritim yang elok, handal dan kuat. Dilewati oleh jalur ALKI II, teknologi perkapalan yang kuat, sebagai gerbang yang menghubungkan Barat dan Timur.
Bahkan wilayah udara Sulawesi – Selatan (termasuk Makassar) merupakan jalur strategis di Asia Tenggara sehingga dapat menjadi hub penerbangan global. (Sayang kita kalah dengan Singapura yang memiliki infrastruktur efisiensi layanan).
Dalam hal keunggulan untuk maju menjadi provinsi berperadaban dunia maka daerah ini sangat pantas melaju kencang bagai Jet MiG-29 dan Su-35 dari Rusia.
Betapa wilayah ini memiliki “perahu” untuk menggairahkan imajinasi dalam menciptakan peradaban baru.
Balik lagi ke Baghdad..
Pada masa keemasan, Baghdad menjadi pusat pemerintahan Kekhalifahan Abbasiah era Harun al-Rasyid dan Al-Ma’mun.
Suara azan berbaur dengan diskusi diskusi tentang ilmu pengetahuan, ilmu hukum, filsafat, matematika, astronomi, kedokteran.
Pemerintahannya membangun Baitul Hikmah (House of Wisdom) lembaga ini berfungsi sebagai perpustakaan raksasa, pusat penerjemahan naskah Yunani, Persia, dan India, serta observatorium astronomi.
Selain House of Wisdom, Baghdad juga dibekali Fasilitas Intelektual, di mana Kota ini menjadi rumah bagi pabrik kertas pertama, yang mempermudah penyebaran buku dan ilmu pengetahuan, serta perguruan tinggi seperti An-Nidzamiyah.
Andai pemimpin pada masa itu tak memiliki imajinasi dan impian, tak melahirkan ilmuwan dan sarjana yang menerjemahkan karya-karya Yunani Kuno maka kemungkinan besar banyak pengetahuan kuno akan hilang.
Aljabar, yang berasal dari kata Arab (al-jabr) dikembangkan pada abad 8 hingga 13 di Baghdad. Dokter membuat kemajuan dalam diagnosis kanker dan bahkan melakukan operasi kompleks selama periode itu. Bintang yang tak terhitung jumlahnya ditemukan dan teori astronomi juga dikembangkan oleh para sarjana selama Zaman Keemasan Islam.
Pertumbuhan budaya, ilmu pengetahuan, dan politik selama Masa Keemasan Islam terjadi di seluruh dunia Muslim. Mulai dari Asia Tengah, Timur Tengah, Afrika Utara, dan hingga Spanyol.
Bagdad adalah pusat pengetahuan dan kemajuan. Mulai dari kebudayaan dan perdagangan. Banyak orang dari seluruh dunia melakukan perjalanan ke sana untuk belajar dan menulis di Rumah Kebijaksanaan.
Zaman itu di mana Eropa masih gelap gulita. Sementara Baghdad tetap memancarkan cahaya yang bersinar. Silih berganti temuan yang berasal dari ilmu pengetahuan bermunculan.
Banyak tokoh ilmuan yang kemudian memelopori The Golden Age of Islam lahir dari atmosfer di Rumah Baitul Hukmah.
Khawarizmi (Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi): Dikenal sebagai Bapak Aljabar dan Algoritma, ia mengembangkan sistem desimal dan angka nol di Baitul Hikmah. Ibnu Sina (Avicenna): Ilmuwan polimatik terkemuka yang berkontribusi dalam kedokteran (fisiologi dan patologi). Al-Kindi (Alkindus):
Filosof Arab pertama yang menerjemahkan dan mengembangkan filsafat Yunani dalam Islam. Al-Razi (Rhazes): Ahli kedokteran yang membedakan cacar dan campak serta ahli kimia yang menemukan alkohol.
Hunayn ibn Ishaq: Tokoh penerjemah karya medis Yunani (Galen dan Hippokrates) ke dalam bahasa Arab. Banu Musa Bersaudara: Teknisi dan ahli matematika yang bekerja di Baitul Hikmah. Al-Jahiz: Ilmuwan biologi dan penulis terkemuka.
Jauh sebelum kita kenal kota modern atau kota dunia saat ini, Baghdad berdiri megah, kosmopolitan, dan maju sehingga disebut sebagai “Kota Seribu Satu Malam” atau Madinatussalam (Kota Perdamaian).
Baghdad bukan sekadar pusat kota ilmu pengetahuan tetapi kota dengan Tata Kota dan Arsitektur Megah (The Round City). Kota Bundar Baghdad dirancang dengan bentuk melingkar (konstentris) yang unik, dikelilingi oleh tembok raksasa berlapis dan parit pertahanan.
Di titik pusat kota terdapat Masjid Agung dan Istana Khalifah yang memiliki kubah hijau ikonik. Baghdad juga telah dilengkapi teknologi modern dengan sistem kanal yang rumit dari Sungai Tigris, memudahkan irigasi dan transportasi air.
Kesibukan Baghdad juga terlihat dari pasar (bazar) sangat aktif, menjual barang mewah seperti sutra, rempah-rempah, permata, dan produk kerajinan.
Penduduknya sangat beragam, terdiri dari berbagai etnis dan agama (Muslim, Kristen, Yahudi, Zoroaster) yang hidup berdampingan.
Suasana kota digambarkan penuh warna, dengan kehidupan malam yang hidup, taman-taman indah, dan pertunjukan seni.
Baghdad menjadi salah satu kota terbesar dan terkaya di dunia saat itu. Semua berkat imajiner dan pemimpin yang visioner tentang wilayahnya dan warganya.
Apa yang dapat dipetik dari masa keemasan Baghdad bagi pemimpin pemimpin kita?
Begini. “Masa depan dibangun bukan hanya kebijakan tetapi visi yang memuliakan ilmu, melindungi pemikir dan memberi ruang bagi gagasan besar untuk lahir. Sebab peradaban selalu bermula dari imajinasi para pemimpin”
Selamat menjalankan Ibadah Puasa ke 9 Ramadan 1447 H. Perkuat doa, perbanyak literasi. Insha Allah, amalan melimpah untuk kita semua.
#Seri8
#Ramadan1447H
NarasiAno, Tenang Dibaca, Kuat Dirasakan









