Refleksi Menjelang Fajar (8) | Ekspresi Rindu itu Bernama Tarawih

  • Whatsapp
Ilustrasi by Pelakita

PELAKITA.ID – Ia bernama tarawih. Bukan salat wajib. Tidak ada ancaman bagi yang meninggalkannya. Justru karena itulah ia menjadi murni. Ia adalah ibadah yang dipilih, bukan dipaksakan.

Ia adalah perjalanan yang ditempuh dengan kesadaran, bukan sekadar kepatuhan. Dan setiap pilihan yang lahir dari kesadaran selalu berakar pada cinta.

Dalam sejarah Islam, salat malam di bulan Ramadan pernah dikerjakan bersama oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya.

Beliau kemudian tidak melanjutkannya secara terus-menerus dalam bentuk berjamaah karena khawatir menjadi kewajiban atas umatnya. Pada masa Umar bin Khattab, salat itu dihimpun kembali dalam satu jamaah yang teratur.

Dari peristiwa itu kita belajar bahwa tarawih tumbuh dari kerinduan kolektif, bukan dari tekanan hukum.

Siang Ramadan adalah madrasah pengendalian diri. Kita menahan lapar dan dahaga, menahan amarah dan keluh kesah. Namun malam adalah ruang perjumpaan.

Dalam berdiri yang panjang, dalam bacaan ayat-ayat yang mengalir seperti sungai cahaya, dalam sujud yang terasa lebih dalam dari biasanya, jiwa seakan pulang ke asalnya.

Tubuh mungkin letih. Betis mungkin bergetar. Namun ada ketenangan yang turun perlahan, seperti embun yang tak terlihat tetapi membasahi. Setiap takbir adalah pintu yang dibuka.

Setiap ayat adalah pelukan yang menenangkan. Setiap salam adalah bisikan harap agar esok kita masih diberi kesempatan untuk kembali berdiri.

Tarawih meruntuhkan batas-batas dunia. Di dalam saf, tak ada gelar dan tak ada jarak sosial. Yang kaya berdiri di samping yang sederhana. Yang tua sejajar dengan yang muda.

Semua menyatu dalam satu irama, satu arah, satu tujuan. Di hadapan Tuhan, kita hanyalah jiwa-jiwa yang ingin diterima.

Pertanyaan mendasar tetap menggema: apakah kita melangkah karena kebiasaan atau karena kerinduan? Apakah kita berdiri karena rutinitas atau karena cinta?

Rindu selalu menggerakkan. Ia membuat seseorang rela menunda istirahat, rela berdiri lebih lama, rela meneteskan air mata tanpa suara. Tarawih adalah bahasa rindu itu—bahasa yang tidak diucapkan dengan kata-kata, melainkan dengan gerak dan keheningan.

Ia bukan sekadar hitungan rakaat. Ia adalah kualitas kehadiran. Ia adalah pengakuan lirih bahwa kita rapuh, bahwa kita sering tersesat dalam hiruk-pikuk dunia, dan bahwa kita ingin kembali—meski hanya sejenak—ke dalam dekapan Ilahi.

Maka ketika malam kembali turun dan panggilan salat berkumandang, semoga langkah kita bukan sekadar tradisi tahunan yang berulang. Semoga ia menjadi langkah yang digerakkan oleh cinta—cinta yang ingin lebih dekat, cinta yang ingin lebih tenang, cinta yang ingin pulang.

Sebab ekspresi rindu itu bernama tarawih.

Dan dalam setiap sujudnya, ada jiwa yang berbisik pelan:

“Tuhan, izinkan aku tetap merindukan-Mu.”

___
Makassar, 26 Februari 2026