PELAKITA.ID – Seorang Pangeran muda dari Inggris Edward the First of England atau Pangeran Edward penuh ambisius hendak menaklukan Timur Tengah, kota suci dan peradaban Islam.
Dia bukan raja tetapi seorang ksatria yang sangat ambisius untuk melanjutkan misi pamannya Richard The Lionheart. Peristiwa pencobaan penakulan dari seorang ambisius ini berlangsung sangat singkat 1271 – 1272.
Mengapa singkat? Saat pertama kalinya Edward tiba di Pelabuhan Akre (Acre) pada 9 Mei 1271, dia kaget melihat kesultanan yang baru saja berdiri yang dipimpin oleh bekas budak, Sultan Mamlul Baibars.
Bermaksud menyerang tetapi justru sebaliknya! Edward tak menyangka jika sisa sisa pasukan pamannya bukan lagi pasukan penyerang tetapi pasukan yang cukup dengan bertahan hidup.
Pembaca yang baik. Sembari kita menanti beduk buka puasa di hari ketujuh Ramadan 1447, yuk lengkap literasi kita tentang Pangeran ambisius yang mencoba menusuk ke jantung peradaban Islam di Timur Tengah.
Setelah Raja Louis IX wafat di Tunisia pada tahun 1271 karena penyakit aneh dan cuaca yang panas, ambisi Eropa untuk menguasai tanah peradaban Islam belum benar benar padam.
Maka muncullah seorang kesatria muda yang bukan raja, dengan gagah berani menawarkan diri memimpin pasukan menuju Mesir hingga ke kota kota suci Islam.
Pangeran Edward membawa pasukan dalam jumlah kecil untuk terlibat dalam kancah peperangan pada masa itu. Hanya seribu pasukan itupun setelah pasukan Edward membangun aliansi dengan bangsa
Mongol (Ilkhanate) untuk melawan Sultan Baibars. Tercatat dalam sejarah peperangan masa lampau bahwa aliansi ini tidak cukup kuat untuk membalikkan keadaan. Pasukan Edward terlalu lemah dan terpecah, memaksa Edward menandatangani perjanjian damai selama 10 tahun dan mundur.
Saat tiba di kota Pelabuhan Akre, sebuah kota kecil di Yerusalem, Kstatria Edwar tak menyangka jika Dinasti Mamluk di bawah Sultan Baibars telah mendominasi dan menguasai sebagian besar wilayah Tripoli dan sisa sisa kerajaan Yerusalem.
Di sini Pangeran Edward bermaksud akan membantu sekutunya Pangeran Antiokhia dan Comte Tripoli.
Tetapi apa yang terjadi ? Sultan Mamluk sangatlah perkasa, dia menjelma menjadi mimpi buruk bagi Ksatria Edward berserta seribu pasukannya. Beberapa kota kota kecil pinggiran yang semula dikuasai oleh sekutu Edward justru telah ditaklukkan oleh Sultan Mamluk yang sangat perkasa.
Sadar akan kejayaan Sultan Mamluk, menyebabkan Edward menawarkan untuk gencatan senjata hingga sepuluh tahun lamanya. Akhirnya gencatan senjata pun ditandatangani pada Mei 1272.
Pada saat itu seluruh pasukan Eropa berkemas lalu meninggalkan kota suci dan pinggiran kota kota peradaban Islam.
Misi untuk menguasai kembali Mesir dan kerajaan lainnya pun bukan lagi kandas tetapi berakhir seiring pulangnya Edward the First of England ke Inggris. Kegagalan ini sekaligus akhir dari episode Perang Salib yang diawali pada 1096 hingga 1291.
Langkah mundur Edward dan pasukannya dari Akre tak membawa pulang kemenangan tetapi meninggalkan pelajaran abadi. Bahwa keberanian sejati bukan hanya berani berperang, melainkan berani membaca zaman.
Dan dunia hari ini yang menang bukan sekadar yang paling kuat tetapi pemimpin siapa yang mampu menyalakan harapan bagi masa depan.
Hari ketujuh puasa, semangat tetap tak pernah padam! Semoga Allah menerima ibadah kita, dan memberi kita kekuatan untuk terus berjuang. Tetap semangat, karena kita bukan hanya berpuasa, tapi juga membersihkan jiwa dan mendekatkan diri pada-Nya.
#Seri6
#Ramadan1447H
NarasiAno, Tenang Dibaca, Kuat Dirasakan









