Tren dan Tips Rekrutmen Mahasiswa Prodi S2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan FKM Unhas

  • Whatsapp
Prof Amran Razak, S.E, M.Sc, Ketua Prodi S2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan FKM Unhas (dok: Pelakita.ID)

PELAKITA.ID – Tantangan rekrutmen mahasiswa pascasarjana kini menjadi isu serius di banyak perguruan tinggi.

Perubahan preferensi calon mahasiswa, persaingan antar kampus, hingga keterbatasan promosi membuat sejumlah program studi kesulitan menjaga keberlanjutan kelas.

Ada pengalaman menarik dari Program Studi S2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan (AKK) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin yang justru menunjukkan pola berbeda: rekrutmen tetap terjaga, bahkan relatif tinggi, berkat strategi jejaring dan kerja sama kelembagaan.

Hal itu mengemuka dalam Workshop Rencana Kerja Prodi S2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan yang digelar belum lama ini.

Kaprodi Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Unhas, Prof Amran Razak, S.E, M.Sc di tengah tenaga pengajar dan staf Profi pada Workshop Renstra 2025-2029 mereka (dok: Istimewa)

Dalam forum tersebut, Ketua Prodi S2 AKK FKM Unhas, Prof Amran Razak, S.E, M.Sc yang membagikan pengalaman sekaligus tips praktis bagi pengelola program studi, departemen, hingga fakultas yang menghadapi kendala dalam menjaring mahasiswa Strata 1 dan Strata 2.

Pernyataan itu ia sampaikan saat diwawancarai Pelakita.ID, dengan didampingi Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas, Sukri Palutturi.

Menurut Prof Amran, secara ideal Program Studi S2 AKK mampu menerima sekitar 35 mahasiswa setiap angkatan sementara UKT untuk Prodi S2 seperti Administrasi dan Kebijakan Kesehatan ini sebesar Rp9 juta per semester.

Saat ini, capaian tersebut relatif terpenuhi melalui skema kerja sama strategis dengan pemerintah daerah. Ini buah dari komunikasi Prodi S2 dan tentu atas dukungan Dekanat FKM Unhas yang aktif melobby sejumlah pihak.

Salah satunya adalah kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Maluku melalui Dinas Kesehatan. Dari kerja sama tersebut, tercatat sebanyak 25 aparatur sipil negara dari Maluku plus 17 reguler mengikuti pendidikan magister di Prodi S2 AKK.

“Mereka bukan hanya mahasiswa, tetapi juga terlibat aktif dalam mengurus proses perkuliahan dan administrasinya,” ujar Prof Amran.

Dari sisi metode pembelajaran, Dekan FKM Unhas, Prof Sukri Palutturi, menjelaskan bahwa perkuliahan S2 AKK sebagian besar dilakukan secara luring dengan sistem blocking class.

Dalam skema ini, jadwal disepakati sejak awal sehingga mahasiswa datang mengikuti perkuliahan secara intensif dalam periode tertentu.

Lokasi perkuliahan pun fleksibel—bisa diselenggarakan di Makassar maupun di daerah mitra seperti Maluku. Namun demikian, Prof Sukri menekankan pentingnya pengalaman kampus bagi mahasiswa.

“Mahasiswa harus tahu kondisi kampusnya, tahu di mana FKM Unhas, agar terbangun kedekatan emosional dengan almamater,” katanya.

Menariknya, Prof Amran mengungkapkan bahwa capaian jumlah mahasiswa tersebut diraih tanpa promosi masif melalui jejaring alumni seperti IKA Unhas atau komunitas profesi.

Menurutnya, jika sosialisasi dilakukan secara lebih terstruktur dan intens, jumlah mahasiswa berpotensi jauh lebih besar. Hal ini menunjukkan bahwa kunci rekrutmen bukan semata iklan atau brosur, melainkan pendekatan institusional yang tepat sasaran.

Selain Maluku, Prodi S2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan juga pernah menjalin kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, khususnya pada masa pemerintahan Gubernur Zainal Arifin Paliwang.

Pengalaman ini menguatkan keyakinan Prof Amran bahwa untuk memassifkan program S1, S2, bahkan S3, pendekatan kepada pemerintah daerah menjadi strategi yang tidak terhindarkan.

“Tidak bisa tidak, harus ada approach ke pemda, termasuk lobby di level tinggi,” tegasnya.

Ia menambahkan, kerja sama bisa dirancang secara tematik sesuai kebutuhan daerah, misalnya membuka kelas khusus di bidang kesehatan, kelautan, atau perikanan.

Dalam konteks ini, jejaring personal pengelola fakultas atau guru besar menjadi modal penting.

“Pengalaman kerja, relasi profesional, dan komunikasi dengan kepala daerah bisa dimanfaatkan secara etis untuk membangun kerja sama pendidikan,” ujar Guru Besar yang juga pernah menjadi tenaga ahli di Kementerian Kelautan dan Perikanan tersebut.

Pengalaman Prodi S2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan FKM Unhas menunjukkan bahwa rekrutmen mahasiswa pascasarjana tidak semata soal promosi, tetapi tentang membaca kebutuhan daerah, membangun kepercayaan institusi, dan menghadirkan skema pembelajaran yang relevan.

Di tengah persaingan pendidikan tinggi yang semakin ketat, strategi berbasis kolaborasi dan jejaring ini menjadi tren yang layak dipertimbangkan oleh program studi lain di Indonesia.

Redaksi