Refleksi Menjelang Fajar (7) | Sesudah Sulit Ada Mudah: Dialektika Ilahi dalam Kehidupan

  • Whatsapp
Ilustrasi

PELAKITA.ID – Di antara ayat-ayat yang paling sering diulang manusia ketika dadanya sempit adalah firman Allah dalam Surah Al-Insyirah ayat 5-6:

Fa inna ma‘al ‘usri yusrā. Inna ma‘al ‘usri yusrā.

“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

Secara psikologis, ayat ini membentuk optimisme spiritual. Kesulitan bukan lorong buntu.

Ia adalah rahim yang melahirkan kemungkinan. Bahkan lebih dalam lagi, ayat ini tidak mengatakan “setelah kesulitan ada kemudahan”, melainkan “bersama kesulitan ada kemudahan”. Artinya, pada saat gelap itu hadir, cahaya sudah menyertainya—meski belum kita lihat.

Dalam perspektif tasawuf, kesulitan adalah metode pendidikan Ilahi. Jalaluddin Rumi pernah menulis bahwa luka adalah tempat di mana cahaya masuk.

Ujian bukan tanda ditinggalkan, tetapi cara Tuhan memperkenalkan kapasitas terdalam diri manusia. Kesulitan memecah cangkang ego, agar jiwa mengenali ketergantungannya pada Yang Maha Kuasa.

Namun, kehidupan tidak berhenti pada satu sisi. Al-Qur’an juga mengingatkan:

Wa tilkal ayyāmu nudāwiluhā bayna an-nās.

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.”
(Ali Imran : 140)

Kemudahan pun bukan keadaan permanen. Ia bisa menjadi ujian yang lebih halus. Jika kesulitan menguji kesabaran, maka kelapangan menguji kesyukuran.

Jika kesempitan mendidik ketundukan, maka kelimpahan menguji kerendahan hati.

Sejarah peradaban menunjukkan pola yang sama. Bangsa yang terpuruk bisa bangkit ketika ia belajar dari luka. Tetapi bangsa yang lama berada dalam kemewahan sering terjatuh karena lupa diri.

Dialektika ini bukan kebetulan; ia adalah sunnatullah—hukum keseimbangan yang menjaga manusia agar tidak mabuk kuasa maupun putus asa.

Dalam konteks individual, ayat-ayat ini mengajarkan kedewasaan spiritual. Jangan sombong saat lapang, jangan hancur saat sempit. Hidup bukan garis lurus, melainkan gelombang. Dan gelombang itu selalu membawa pesan: segala keadaan bersifat sementara, kecuali Tuhan.

Maka ketika kita berada dalam kesulitan, jangan hanya bertanya, “Kapan ini berakhir?”

Tanyakan pula, “Kemudahan apa yang sedang tumbuh bersamanya?” Dan ketika kita berada dalam kemudahan, bertanyalah, “Apakah aku semakin dekat atau justru semakin lalai?”

Kesulitan dan kemudahan bukan dua kutub yang saling meniadakan. Ia adalah dua sayap yang membuat manusia terbang menuju kematangan.

Tanpa sulit, kita rapuh. Tanpa mudah, kita putus asa.

Di situlah Al-Qur’an menenangkan sekaligus mendewasakan kita. Bahwa hidup ini bukan tentang menghindari badai, tetapi memahami bahwa dalam setiap badai sudah tersimpan arah pulang.

Dan barangkali, iman yang matang bukanlah iman yang tak pernah goyah—melainkan iman yang tahu bahwa di balik setiap getir, Tuhan sedang menyiapkan manis yang tak terduga.

Penulis: Muliadi Saleh