Antara Satu Sama – Tamarunang, Ada Maros, Sepasang Pacaran dan Siapa Terbaik

  • Whatsapp
Ilustrasi oleh AI

Perbincangan kami mengalir meski di luar air menggenang sepanjang Poros Paopao–Manggarupi. Inilah Gowa, tidak jauh dari jantung Sungguminasa. Saban hujan, selalu ada genangan dalam. Nyaris setinggi lutut.

PELAKITA.ID – Jalan Tun Abdul Razak arah Samata sedang didera hujan deras. Rencana naik ojek online urung. Waktu menunjuk pukul 21.30 WITA, waktu Paopao

Ini ujung perjalanan saya seharian dari Unhas. Pulang naik bus Trans Sulsel. Sayang sekali hujan tak kunjung reda, istri urung menjemput.

Sedari siang bersua Prof Ucu, Bro Icaq, Kak Ijal, dan daftar tes TOEFL di Lab Bahasa, lalu buka puasa dengan Keluarga Prodi S2 Administrasi Kebijakan FKM Unhas.

Sempat menikmati irisan kambing muda bersama Prof Amran dan Prof Sukri di lantai dasar Hotel Unhas and Convention sebelum tiba di batas kota Makassar dan Gowa. Tepatnya di Poros Tun Abdul Razak.

Pilihan berikutnya adalah mencegat mobil online. Order pertama batal, tak satu pun yang berminat. Coba sekali lagi, dapat.

***

Drivernya tampak tenang. Posturnya terlihat bak aparat keamanan.

Rambut cepak, logat khas Maros. Dia mengaku lahir dan besar di Maros, rumahnya sekitar sekilo ke timur dari perempatan Nurdin Sanrima.

Pria yang mengaku menghabiskan masa muda di perusahaan developer perumahan ini telah menjalani profesi sebagai driver online selama empat tahun.

Dia mengaku sebelumnya ada kompetisi usaha yang ketat di urusan real estate hingga dia merasa tak bisa bertahan lama di perusahaan sebelumnya sebagai mandor.

Usianya sekitar 40 tahun. Dia tinggal di Maros. Pria yang mengaku masih tinggal di rumah orang tuanya ini merasa nyaman sebagai driver.

“Kalau sudah dapat tiga ratus, seratus lima puluh untuk bensin, sisanya bisa untuk dibawa pulang,” ucapnya saat mobilnya masuk ke kawasan Paopao, Gowa.

Perbincangan kami mengalir meski di luar air menggenang sepanjang Poros Paopao–Manggarupi.

Inilah Gowa, tidak jauh dari jantung Sungguminasa. Saban hujan, selalu ada genangan dalam. Nyaris setinggi lutut.

Driver itu, kita sebut saja Ambo Masse—ini hanya rekaan, maaf kalau ada yang namanya sama.

“Menurut kita, apa yang menarik dengan kepemimpinan Chaidir Syam? Dua hari lalu kami baku WA,” pancingku.

“Bagus perhatiannya untuk olahraga,” balasnya pendek.

“Maksudnya bagaimana?” tanyaku lagi.

“Banyak prestasi, semua cabang olahraga diperhatikan,” jelasnya.

“Apanya?”

“Tidak tahumi juga, tapi banyak prestasi saya dengar. Orang cerita juga.”

***

“Btw, selama empat atau lima tahun bawa mobil online ada cerita menarik atau suka duka?” lanjutku.

“Weee banyaaak,” balasnya, masih dengan logat Marosnya.

“Misalnya?”

“Ada pria-pria pacaran di belakang, baku cippo lagi iya,” ungkapnya.

Kata dia, kedua pria itu tampak macho, berotot, tapi begitumi kedo-kedonya.

“Deh.”

“Terus?”

“Ada juga perempuan mabuk, diantar oleh temannya. Kata temannya antar ke kamarnya, sampai di tempat tidur,” lanjutnya.

“Sampai tempat tidur, Pak. Matanya terbuka tapi tidak bisami goyang,” tambahnya.

“Ambilmi uang di situ, ambilmaki saja. Begitu kata perempuan itu,” lanjutnya lagi.

“Ada juga laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki bilang ke perempuan di sampingnya, ‘adami dua hape saya curi, tapi nalihatka orangnya,’” ucapnya sambil tertawa.

“Pokoknya banyak, Pak,” imbuhnya.

Hujan makin deras di Tamarunang. Kami melewati Bukit Tamarunang, sebentar lagi berbelok ke rumah.

***

“Jadi menurut kita, penilaianta ke Hatta Rahman dan Chaidir Syam?” tanyaku memancing.

“Pak Hatta banyak bangun jalan, jalan beton. Meski tak sebanyak jalan dibangun Pak Hatta, Pak Chaidir bagus pendekatannya ke warga,” katanya.

“Wajar tawwa, kan kalau jalan sudah dibangun Pak Hatta, masa’ Chaidir lagi banguni jalan beton?” balasku bernada bercanda.

“Iya juga,” balasnya.

“Chaidir Syam pernah datang ke pesta pernikahan iparku di Jalan Ratulangi, Makassar. Jauhnya itu Maros–Ratulang,” ucapku lagi.

“Apamo, kalau ada pesta itu, diundangi atau dia lihat ada pesta, mampirki itu,” tambah sang driver.

“Jadi bagus mana ini?” tanyaku lagi.

“Ada semua bagusnya,” katanya sebelum saya bertanya berapa yang harus saya bayar untuk jarak Satu Sama–Tamarunang.

“Kita ikut memilih waktu PIlkada?”

“Tidak.”

Saya akhirnya sampai rumah. Hujan belum reda.

_
Denun, 23 Februari 2026

_ sejumlah kata telah dihaluskan