PELAKITA.ID – Tulisan saya berjudul “Mabuk Kuasa dan Kesadaran Ilahiah”—sebuah narasi sufistik atas QS. Ali ‘Imran ayat 26–27—mendapat tanggapan yang hangat dan menggembirakan.
Tulisan tersebut bahkan disempurnakan dengan catatan yang sangat dalam oleh seorang sahabat lama yang kini menapaki dua jalan sekaligus: tarekat dan dunia bisnis.
Ia adalah Zaqlul Mas’ud—pernah berkiprah di Negeri Sakura, Jepang, dan kini memilih jalan sunyi sebagai imam masjid. Dalam tanggapannya, ia menulis sebuah kalimat sederhana namun menghunjam:
“Hanya kadang kita terkecoh karena kita menggunakan nafsu dalam meresponnya…”
Kalimat itu terasa seperti anak kunci—kecil, tetapi mampu membuka pintu kesadaran yang lebih dalam.
Dalam tafsir sufistik Al-Qur’an, khususnya QS. Ali ‘Imran ayat 26–27, ditegaskan bahwa Dia-lah yang memberi dan mencabut kuasa, memuliakan dan menghinakan, menghidupkan dan mematikan.
Di tangan-Nya seluruh kebaikan beredar. Kekuasaan berpindah, musim berganti, nasib berayun. Namun ayat itu sejatinya tidak sedang berbicara tentang “politik langit”. Ia justru menata batin manusia agar tidak mabuk oleh peristiwa.
“Segala peristiwa sesungguhnya bebas nilai,” lanjut Zaqlul Mas’ud.
Peristiwa ibarat angin: ia tidak membawa label duka atau bahagia. Kitalah yang menuliskan makna di atasnya. Ketika nafsu menjadi hakim, ia segera memberi stempel—ini musibah, itu keberuntungan. Nafsu selalu tergesa, ingin menang, ingin nyaman. Maka saat sesuatu melukai ego, ia menyebutnya bencana. Ketika sesuatu memanjakan ego, ia menamakannya anugerah.
Padahal, sebuah kejadian menjadi baik atau buruk bergantung pada cara kita meresponsnya.
Musibah terasa menyakitkan ketika kita memeluknya dengan rasa tersakiti. Namun jika musibah itu kita pandang sebagai anugerah tersembunyi, siapa yang bisa melarangnya? Bahkan jika seluruh jagat menamainya petaka, kesadaran yang tercerahkan tak akan goyah dalam melihatnya sebagai rahmat yang menyamar.
Zaqlul Mas’ud mengingatkan: sering kali bukan peristiwanya yang keliru, melainkan cermin yang kita gunakan untuk menatapnya. Jika cermin itu bernama nafsu, bayangan akan tampak retak. Jika cermin itu bening oleh dzikir, realitas akan memantulkan cahaya yang lain.
Dalam kajian tasawuf yang lebih dalam, para ‘arifin memandang bahwa seluruh wujud—mikrokosmos diri dan makrokosmos semesta—berakar pada satu hakikat: cinta.
Segalanya bersumber dari Sang Maha Cinta. Maka bagaimana mungkin kita tergesa menilai bencana sebagai keburukan mutlak, sementara pandangan kita belum menembus kepada Zat yang menghadirkannya dengan hikmah yang melampaui akal terbatas?
Pada maqam ini, dikotomi mulai runtuh. Batu kerikil dan bongkahan emas kehilangan jaraknya. Keduanya sama-sama lahir dari Kehendak Yang Satu.
Yang membedakan hanyalah tafsir manusia, bukan hakikat keberadaannya. Kesadaran ilahiah memandang segala sesuatu sebagai ayat—tanda-tanda yang menuntun, bukan jebakan yang menjatuhkan.
Rabiatul Adawiyah menembus lapisan kesadaran ini dengan keberanian cinta yang radikal. Baginya, surga dan neraka bukan tujuan, melainkan selubung.
Ia menginginkan Tuhan bukan karena takut siksa, bukan pula karena berharap nikmat, melainkan karena cinta itu sendiri. Dalam cinta yang murni, dualitas pahala dan hukuman mencair. Yang tersisa hanyalah kehadiran.
Menariknya, kata Zaqlul Mas’ud, gema ajaran ini juga kita temukan dalam Injil Yohanes 4:8: “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.”
Kasih menjadi jalan epistemologis—cara mengenal Tuhan. Tanpa kasih, Tuhan tinggal konsep teologis. Dengan kasih, Ia menjelma pengalaman batin.
Maka sesungguhnya, segala persoalan di jagat raya ini berujung pada cinta—bukan cinta sentimental yang rapuh, melainkan mahabbah yang lahir dari kesadaran bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman-Nya.
Ketika kuasa tidak lagi memabukkan, ketika kehilangan tidak lagi menakutkan, ketika pujian dan celaan sama-sama kita terima sebagai kiriman dari Langit—di situlah kesadaran ilahiah bersemi.
Dan kita pun belajar, perlahan, melepaskan nafsu sebagai hakim, agar cinta kembali menjadi cahaya yang menilai segalanya.
Penulis: Muliadi Saleh









