Ia menegaskan satu hal yang radikal pada zamannya: perempuan dapat menjadi arsitek ilmu pengetahuan.
PELAKITA.ID – Sejarah sering kali tidak kejam karena kebohongan, tetapi karena kelupaan yang disengaja. Di antara lorong-lorong waktu abad ke-9, di tanah yang kini kita kenal sebagai Maroko, lahir seorang perempuan bernama Fatimah al-Fihri.
Ia bukan ratu. Bukan panglima perang. Bukan pula penakluk wilayah. Ia hanya seorang perempuan dengan warisan harta, kecerdasan, dan iman yang teguh pada ilmu.
Ia lahir sekitar tahun 800 Masehi. Pada masa ketika Eropa masih bergulat dalam fragmen-fragmen kegelapan intelektual pasca runtuhnya Romawi, ketika banyak wilayah dunia masih memandang perempuan sebatas penjaga rumah dan tradisi, Fatimah justru membangun masa depan. Ia tidak membangun istana.
Ia membangun peradaban.
Pada tahun 859 M, di kota Fez, berdirilah sebuah institusi yang kelak dikenal sebagai University of al-Qarawiyyin. Awalnya adalah masjid. Tetapi ia tumbuh menjadi pusat studi: teologi, hukum, matematika, astronomi, bahasa, dan filsafat. Di sana, diskusi tidak dibungkam. Pengetahuan tidak dicurigai. Ilmu menjadi cahaya yang dibagikan. Yang ia dirikan bukan sekadar bangunan batu. Ia merintis sistem.
Sistem kurikulum.
Sistem pengajaran berbasis halaqah.
Sistem ijazah sebagai tanda kelulusan.
Sistem otoritas keilmuan yang diakui.
Sebuah model universitas yang kelak mengalir, seperti sungai tak terlihat, menuju Eropa.
Ketika kemudian berdiri University of Oxford dan University of Cambridge, banyak struktur akademik yang telah lama hidup di Fez: tradisi pengajaran formal, pengakuan keilmuan, pengorganisasian fakultas.
Sejarah mencatat kemegahan Oxford dan Cambridge dengan tinta emas. Tetapi nama Fatimah jarang disebut di halaman awalnya.
Seolah-olah peradaban lahir tanpa ibu. Seolah-olah universitas muncul dari tanah Eropa begitu saja, tanpa akar yang lebih tua di selatan Mediterania.
Di sinilah sejarah menjadi cermin yang buram. Bukan karena Oxford dan Cambridge tidak besar. Mereka besar. Mereka agung. Mereka melahirkan ilmuwan, pemikir, negarawan. Tetapi kebesaran tidak boleh dibangun di atas penghapusan.
Mengakui akar bukan berarti mengecilkan cabang. Justru dengan mengenali akar, pohon peradaban menjadi utuh. Fatimah al-Fihri tidak hanya mendirikan lembaga pendidikan.
Ia menegaskan satu hal yang radikal pada zamannya: perempuan dapat menjadi arsitek ilmu pengetahuan.
Dan betapa ironisnya, dalam banyak buku sejarah modern, universitas sering disebut sebagai “penemuan Barat abad pertengahan”, seolah dunia Islam tidak pernah memiliki pusat studi terstruktur sebelumnya. Seolah Fez tidak pernah menjadi magnet intelektual. Seolah sistem ijazah tidak pernah lahir dari tradisi keilmuan Islam.
Mengapa nama itu tenggelam?
Barangkali karena sejarah ditulis oleh mereka yang memiliki kuasa atas narasi. Barangkali karena Eropa modern tumbuh dengan keyakinan bahwa Renaissance adalah kebangkitan yang murni internal, bukan kelanjutan dari dialog panjang dengan dunia Islam.
Atau mungkin, lebih sederhana dan lebih menyakitkan: karena ia perempuan, dan karena ia lahir di Afrika Utara.
Sejarah punya kecenderungan memilih siapa yang layak diingat. Tetapi kebenaran selalu menemukan jalannya kembali. Hari ini, UNESCO mengakui Al-Qarawiyyin sebagai universitas tertua yang masih beroperasi di dunia. Pengakuan itu seperti secercah cahaya yang menembus debu abad-abad panjang pengabaian. Namun pengakuan administratif tidak serta merta mengubah kesadaran kolektif. Kita masih lebih hafal Oxford daripada Fez.
Kita lebih cepat menyebut Cambridge daripada Al-Qarawiyyin.
Padahal sebelum menara-menara batu berdiri di Inggris, gema diskusi ilmiah telah lebih dahulu memenuhi ruang-ruang halaqah di Maroko.
Apa yang bisa kita pelajari dari Fatimah?
Pertama, bahwa peradaban dibangun oleh keberanian moral untuk berinvestasi pada ilmu, bukan pada simbol kekuasaan.
Kedua, bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap sejarah, melainkan penggeraknya.
Ketiga, bahwa sejarah global jauh lebih terhubung daripada yang sering diajarkan.
Jika universitas hari ini menjadi simbol modernitas, maka kita harus jujur pada akarnya. Universitas bukan lahir dari satu benua. Ia adalah hasil dialog panjang lintas budaya, lintas agama, lintas bahasa. Dan di antara simpul-simpul dialog itu, berdiri seorang perempuan dari Fez.
Fatimah al-Fihri tidak meminta patung. Ia tidak meninggalkan manifesto politik. Ia meninggalkan sistem. Ia meninggalkan lembaga yang bertahan lebih dari seribu tahun.
Ia meninggalkan warisan yang bahkan dipakai oleh mereka yang mungkin tidak pernah menyebut namanya.
Ironinya, dunia modern sering menggaungkan kesetaraan gender, inklusivitas, dan pengakuan sejarah. Namun pada saat yang sama, banyak masih belum menyadari bahwa universitas tertua di dunia didirikan oleh seorang perempuan Muslim pada abad ke-9.
Sejarah terkadang seperti buku yang halaman depannya diganti. Tetapi tinta asli tidak pernah benar-benar hilang.
Menulis kembali kisah Fatimah bukan hanya untuk bernostalgia. Ia adalah tindakan etis. Sebab peradaban yang dewasa adalah peradaban yang berani mengakui utangnya.
Dan jika hari ini kita berjalan di lorong universitas mana pun di dunia—mendengar debat ilmiah, melihat mahasiswa berdiskusi, menyaksikan universitas memberi ijazah, maka di sana, secara tak terlihat, ada jejak seorang perempuan dari Maroko abad ke-9.
Namanya mungkin tidak terukir di gerbang Oxford. Namanya mungkin tidak terpahat di aula Cambridge. Tetapi ia hidup dalam sistem yang mereka jalankan.
Fatimah al-Fihri.
Seorang ibu bagi universitas.
Seorang arsitek sunyi peradaban.
Dan sebuah nama yang terlalu lama ditunda untuk disebut dengan hormat.
___
Gerhana Alauddin, 4 Ramadhan 1447 H
