PELAKITA.ID – Siapa sangka, di balik keganasan tentara Mongol yang meluluhlantakkan peradaban Islam, kehancuran Kekaisaran Mongol justru dipicu oleh perang saudara di antara mereka sendiri—bukan oleh bangsa-bangsa yang mereka taklukkan, termasuk penduduk Baghdad.
Bahkan sebelum Hulagu Khan melanjutkan ambisi ekspansinya ke Mesir, fondasi Kekaisaran Mongol telah mulai runtuh dari dalam.
Sembari menanti sahur, inilah kisahnya.
Cerita bermula dari bangsa Mongol, keturunan Jenghis Khan, penguasa besar dengan pasukan yang terkenal kejam dan tak terhentikan.
Salah satu cucunya, Hulagu Khan, mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai jenderal yang memimpin penaklukan paling menghancurkan dalam dunia Islam.
Pada tahun 1258, Hulagu membumihanguskan Baghdad—jantung peradaban dunia pada masanya. Kota yang menjadi pusat kekuasaan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan itu luluh lantak di bawah derap kuda Mongol.
Di saat Eropa dan sebagian Asia masih terperosok dalam kegelapan intelektual, Baghdad justru bersinar sebagai mercusuar ilmu pengetahuan dunia.
Di kota itulah berdiri megah Bait al-Hikmah, pusat intelektual dan perpustakaan besar yang didirikan oleh Kekhalifahan Abbasiyah. Ribuan manuskrip dari berbagai disiplin ilmu—astronomi, filsafat, kedokteran, matematika—menjadi rujukan dunia. Namun semua itu berakhir tragis.
Buku-buku dibuang ke Sungai Tigris hingga airnya dikisahkan menghitam oleh tinta ilmu yang tenggelam.
Hulagu tidak hanya menghancurkan kota, tetapi juga menawan khalifah terakhir Abbasiyah, Al-Mu‘tasim. Ia tidak memenggal sang khalifah karena kepercayaannya bahwa darah bangsawan tidak boleh menyentuh tanah.
Maka khalifah pun wafat dengan cara yang kejam namun “ritual” menurut kepercayaan Mongol.
Dunia Islam berkabung. Banyak yang merasa kiamat telah tiba. Peradaban Islam seakan berakhir. Siapa lagi yang sanggup melawan keganasan pasukan Mongol?
Namun takdir berkata lain.
Di wilayah utara, tepatnya kawasan Rusia dan stepa Eurasia, berdiri seorang sepupu Hulagu: Berke Khan, juga cucu Jenghis Khan, pemimpin Kekhanan Mongol bagian utara. Berke bukan hanya seorang penguasa, tetapi juga seorang pencari makna.
Dalam perjalanannya, Berke bertemu dengan seorang sufi bernama Syekh Saifuddin al-Bakharzi. Dari pertemuan itulah jiwanya terguncang. Ia terpesona oleh ketenangan, kedalaman spiritual, dan ajaran tauhid.
Hingga akhirnya, Berke Khan mengucapkan dua kalimat syahadat—menjadikannya penguasa Mongol pertama yang memeluk Islam.
Kabar ini mengguncang seluruh Kekaisaran Mongol, dan tentu saja sampai ke telinga Hulagu Khan, sang penghancur Baghdad.
Berke tak bisa menerima apa yang dilakukan sepupunya. Dengan suara tenang namun penuh keteguhan, ia menyatakan tekadnya:
“Hulagu telah memusnahkan kota-kota umat Islam dan membunuh khalifah tanpa alasan. Dengan pertolongan Allah, aku akan menuntut balas atas darah orang-orang tak berdosa.”
Maka pecahlah perang saudara Mongol pada awal 1260-an. Berke Khan bersekutu dengan Kesultanan Mamluk di Mesir—musuh utama Hulagu.
Serangkaian pertempuran pun terjadi, termasuk pertempuran penting di Sungai Terek (1262), di mana pasukan Hulagu dikalahkan oleh Nogai Khan, jenderal kepercayaan Berke.
Puncaknya terjadi di Kaukasus pada 1263. Hulagu mengalami kekalahan besar. Perang ini menandai retaknya kesatuan Kekaisaran Mongol untuk selamanya. Konflik internal tersebut secara tidak langsung menyelamatkan Suriah dan Mesir dari invasi lanjutan Mongol.
Meski Hulagu wafat pada 1265, permusuhan antar-kekhanan Mongol terus berlanjut lintas generasi. Namun sejarah mencatat satu hal penting: dunia Islam terselamatkan bukan karena kekuatan militer semata, melainkan karena konflik batin, iman, dan perang saudara di tubuh Mongol sendiri.
Inilah momen langka dalam sejarah—ketika bangsa Mongol berperang melawan bangsanya sendiri, dan dari konflik itulah peradaban Islam terhindar dari kehancuran total.
Selamat menjalankan ibadah Ramadan 1447 H.
Jaga semangat, luruskan niat, agar puasa tetap bernuansa ibadah.
#Seri3
#Ramadan1447H
Narasi Ano
Tenang Dibaca, Kuat Dirasakan









