Lukisan, Persahabatan, dan Kesetiaan Demokrasi

  • Whatsapp
Ilustrasi foto Ni;matullah (dok: Pribadi)
  • Seni menghadirkan kepekaan; politik memerlukan kebijakan. Seni mengajarkan kesabaran pada detail; politik menuntut ketegasan pada keputusan. Ketika keduanya bertemu, lahirlah kepemimpinan yang tidak sekadar efektif, tetapi juga empatik.
  • Sebagai kader Demokrat sejati dari Sulawesi Selatan, perjalanan Ni’­matullah ditandai oleh kesetiaan pada garis perjuangan Partai Demokrat. Ia dikenal dekat dengan basis, tekun membangun organisasi, dan piawai merajut dialog lintas kalangan.

PELAKITA.ID – Sebuah lukisan berukuran besar berdiri tegak di balik kursi tempat Ni’­matullah Rahim Bone duduk. Kanvas itu menampilkan sosok dengan busana putih krem, kedua tangan terkatup di dada—gestur hormat yang tenang, bersahaja, sekaligus penuh makna.

Bagi Ni’­matullah, Ketua DPD Partai Demokrat Sulawesi Selatan, lukisan tersebut bukan sekadar karya seni.

Ia adalah penanda persahabatan, pengakuan nilai, dan ikatan batin dengan sang perupa: Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Republik Indonesia dua periode yang juga dikenal luas sebagai seniman lintas medium.

SBY—demikian ia akrab disapa—menemukan ruang kontemplatifnya dalam seni.

Melukis menjadi salah satu cara ia merawat keheningan, merangkum pengalaman kepemimpinan, dan mengekspresikan gagasan tentang Indonesia. Dalam sejumlah pameran dan publikasi, karya-karyanya kerap menampilkan lanskap alam, potret figur, dan simbol-simbol keteduhan: warna-warna hangat, sapuan yang tenang, serta komposisi yang mengundang perenungan.

Bagi SBY, seni bukan pelarian dari politik, melainkan jembatan kemanusiaan yang menghubungkan nilai, rasa, dan harapan.

Tak hanya lukisan, SBY juga produktif dalam musik. Puluhan lagu ciptaannya telah dinyanyikan oleh berbagai musisi, menghadirkan tema cinta tanah air, kebajikan, dan refleksi personal.

Musik baginya adalah bahasa universal—cara lain untuk berbagi cerita dan menyentuh emosi publik tanpa sekat ideologi.

Di ranah sastra, kepedulian SBY pada kesusasteraan tampak dari esai, puisi, dan dukungannya terhadap kegiatan literasi. Ia percaya, kebudayaan adalah fondasi peradaban; tanpa sastra, bangsa kehilangan cermin untuk bercermin dan kompas untuk melangkah.

Lukisan yang kini berada di ruang Ni’­matullah menyatukan semua dimensi itu. Gestur tangan terkatup menyiratkan rasa syukur, penghormatan, dan ketulusan—nilai-nilai yang juga dijunjung dalam kehidupan politik yang beradab.

Warna-warna hangat mengesankan kedamaian, seolah mengajak penikmatnya berhenti sejenak dari hiruk-pikuk, lalu kembali pada niat awal berpolitik: melayani.

Bagi Ni’­matullah, makna itu terasa personal. Ia melihat lukisan tersebut sebagai pesan kepercayaan—sebuah titipan nilai dari seorang negarawan kepada kader yang setia merawat etika dan konsistensi.

Sebagai kader Demokrat sejati dari Sulawesi Selatan, perjalanan Ni’­matullah ditandai oleh kesetiaan pada garis perjuangan Partai Demokrat. Ia dikenal dekat dengan basis, tekun membangun organisasi, dan piawai merajut dialog lintas kalangan.

Persahabatannya dengan Agus Harimurti Yudhoyono—Ketua Umum DPP Partai Demokrat—bukan semata hubungan struktural, melainkan pertemanan yang tumbuh dari nilai bersama: integritas, profesionalisme, dan komitmen kebangsaan.

alam konteks itulah, lukisan SBY menjadi simbol kontinuitas: estafet nilai dari generasi pendiri kepada generasi penerus, dari pusat ke daerah, dari gagasan ke praktik.

Menariknya, lukisan ini juga mempertemukan dua dunia yang kerap dianggap berjauhan: seni dan politik. Di ruang Ni’­matullah, keduanya berjumpa tanpa saling meniadakan.

Seni menghadirkan kepekaan; politik memerlukan kebijakan. Seni mengajarkan kesabaran pada detail; politik menuntut ketegasan pada keputusan. Ketika keduanya bertemu, lahirlah kepemimpinan yang tidak sekadar efektif, tetapi juga empatik.

Bagi Sulawesi Selatan, keberadaan karya ini menyampaikan pesan kebudayaan: daerah bukan sekadar objek kebijakan, melainkan subjek peradaban. Bahwa ikatan pusat-daerah dapat dirawat melalui bahasa yang paling manusiawi—seni.

Bagi Ni’­matullah pribadi, lukisan tersebut adalah pengingat harian untuk menjaga kesederhanaan niat dan keluhuran sikap.

Ia duduk di hadapannya bukan untuk dipuja, melainkan untuk diingatkan: bahwa politik, pada akhirnya, adalah kerja sunyi yang membutuhkan kejernihan batin.

Dalam satu bingkai, lukisan itu merangkum banyak hal: persahabatan, kesetiaan, dan harapan.

Saya membayangkan, dari tangan seorang presiden yang gemar melukis, ia berlabuh di ruang seorang kader yang setia bekerja. Di sanalah seni menemukan rumahnya—bukan hanya di galeri, tetapi di ruang-ruang pengabdian, tempat nilai-nilai diuji dan diwariskan.

_
Daeng Nuntung di Tamarunang
21 Februari 2026