Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa kepemimpinan bukanlah tentang menduduki kursi kekuasaan, melainkan tentang seberapa jauh kita mampu melangkah untuk mendengar detak jantung rakyat kita sendiri. Satu tahun yang lalu, kami datang membawa janji. Hari ini, kami hadir membawa bukti.
PELAKITA.ID – Demikian pengantar Bupati H.A.S Chaidir Syam saat membacakan naskah refleksi setahun pemerintahannya bersama Wakil Bupati Andi Moetazim.
Menurut Chaidir, rahun 2025 bukanlah perjalanan yang mudah. Namun melalui semangat “Maros Sejuk” yang berakar pada nilai-nilai budaya Butta Salewangang, kami memilih untuk tidak sekadar memerintah dari balik meja.
“Kami memilih untuk turun ke lapangan, menyisir jalanan yang retak, menata ulang sungai hingga airnya dapat mengalir ke hulu tanpa hambatan, dan memastikan bahwa tidak ada satu pun suara aspirasi di media sosial yang luput dari perhatian kami,” ucapnya.
“Setiap penghargaan yang kita raih hari ini, mulai dari Opini WTP ke-13, UHC Award 2025 dari Menko Pemberdayaan Masyarakat RI, Financial Literacy Award 2025 dari OJK RI, pengakuan sebagai Kabupaten Maju oleh BRIN, hingga apresiasi atas kualitas kebijakan unggul dari LAN RI, bukanlah sekadar pajangan dinding,” kata dia.
“Penghargaan itu adalah cermin yang memantulkan sejauh mana kerja keras kami telah menyentuh sanubari masyarakat,” sebutnya.
Dikatakan Chaidir, keberhasilan Maors adalah menurunkan angka stunting dari 32,40% di tahun 2024 menjadi 22,40 pada tahun 2025, menurunkan angka pengangguran terbuka dari angka 4,34% pada tahun 2024 menjadi 4,13% di tahun 2025.
Lalu, menurunkan angka kemiskinan menjadi 32.670 jiwa di tahun 2025, berkurang sekitar 1.330 orang dibandingkan tahun 2024, merupakan capaian yang patut disyukuri bersama.
“Demikian pula dengan pembangunan Rumah Sakit Camba dan Dr. La-Palalloi, peresmian Jembatan Minasa Upa Bontoa dan Jembatan Arra–Damma di Tompobulu dengan nilai proyek kurang lebih 3,5 miliar, serta memastikan masyarakat dapat melewati jalan beton di pelosok-pelosok seperti pada poros Tompobalang–Bonto Matinggi, Damma–Bontosomba, dan Tanete Bulu sampai perbatasan Gowa dengan nilai kurang lebih 28 M. Semua itu adalah bentuk nyata dari pengabdian kami,” tambahnya.
“Namun kami tidak puas dengan itu semua. Di tengah pengetatan dana transfer dari pusat melalui kebijakan efisiensi, saya bersama Pak Wakil Bupati masih membangun dan merehabilitasi beberapa bangunan sekolah dari tingkatan PAUD, SD hingga SMP sebanyak 68 unit dengan nilai keseluruhan kurang lebih Rp 23 miliar,” sebutnya,
Tak hanya itu, pihaknya memberikan bantuan seragam sekolah kepada anak-anak SD dan SMP senilai Rp 3,92 M, serta di sektor kesehatan telah menyerahkan 6 unit ambulance Puskesmas.
“Termasuk 3 unit ambulance untuk RSUD Camba, dan 2 unit mobil PSC 119 berupa 1 unit mobil jenazah dan 1 unit ambulance di Dinas Kesehatan dengan nilai Rp 6 M rupiah untuk mendukung program unggulan pelayanan ambulance gratis,” sebutnya.
Selain itu, lanjut Chaidir, pihaknya juga menyerahkan 47 unit motor sebagai tahap awal untuk perawat dan bidan desa dalam mendukung program unggulan penempatan 1 perawat/bidan tiap desa/kelurahan senilai 1,125 miliar .
“Pada sektor pertanian, kami memberikan bantuan alsintan berupa traktor roda dua sebanyak 99 unit, traktor roda empat 101 unit, pompa air 36 unit, combaine hervester 18 unit, dan power tresher sebanyak 4 unit,” sebutnya.

Aktif mendukung program nasional
Chaidir menyebut, dalam periode satu tahun kepemimpinannya, pihaknya juga senantiasa mendukung Program Asta Cita Bapak Presiden dan Wakil Presiden.
“Alhamdulillah, kami telah memfasilitasi pembangunan 40 SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) untuk mengelola produksi dan distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam rangka melayani kurang lebih 97.000 penerima manfaat yang ada di Kabupaten Maros,” ungkapnya.
Termasuk memfasilitasi terbentuknya kepengurusan Koperasi Merah Putih pada 103 desa/kelurahan dengan fasilitasi terbangun sebanyak 31 unit.
“Untuk Program Sekolah Rakyat, Pemerintah Kabupaten Maros untuk sementara menyiapkan 3 titik lokasi rencana yang dipersiapkan, sambil menunggu persetujuan oleh Pemerintah Pusat,” kata Chaidir.
“Namun perjuangan belum usai. Sebuah rangkuman perjalanan satu tahun ini bukan untuk berbangga diri, melainkan sebagai bentuk laporan dan tanggung jawab kami kepada warga Maros, sebagai pemilik sejati Butta Salewangang,” sebutnya,
Bagi Chaidir dan Moetazim, refleksi hari ini bukan sekadar laporan angka-angka, melainkan cermin perjalanan bersama.
“Setiap kebijakan yang kami ambil lahir dari dialog, dari keluhan yang kami dengar langsung di lorong-lorong desa, dari tatapan para ibu yang berharap anaknya tumbuh sehat, dari suara petani yang ingin hasil panennya lebih bernilai, dan dari doa-doa yang dipanjatkan untuk Maros yang lebih baik,” tegasnya.
“Kami percaya bahwa pembangunan sejati adalah pembangunan yang menghadirkan harapan: harapan bagi anak-anak untuk bersekolah dengan fasilitas yang layak, harapan bagi generasi muda untuk mendapatkan peluang kerja, harapan bagi keluarga untuk merasakan layanan kesehatan tanpa rasa cemas, dan harapan bagi seluruh masyarakat bahwa pemerintahnya hadir, bekerja, dan berpihak,” kuncinya.
Editor Denun









