PELAKITA.ID – Dalam rangka mendukung pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan di Papua Barat Daya, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian Kehutanan, dan mitra konsorsium yang terdiri dari Darwin Initiative, Fauna & Flora International (FFI) Indonesia, dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), menyelenggarakan rangkaian pertemuan serta kunjungan lapangan Proyek Darwin Initiative Extra – Ridge to Reef Conservation in Southwest Papua yang didukung oleh Pemerintah Inggris pada 13-15 Februari 2026.
Kegiatan yang dilaksanakan di Kota dan Kabupaten Sorong ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan terpadu dari darat hingga laut (ridge to reef), yang menghubungkan ekosistem darat, pesisir, dan laut.
Dari sisi pemerintah pusat, Kementerian Kelautan dan Perikanan menekankan bahwa efektivitas pengelolaan kawasan konservasi sangat bergantung pada sinergi yang kuat antara kebijakan nasional, kepemimpinan pemerintah daerah, dan keterlibatan aktif masyarakat.
“Kawasan konservasi akan efektif jika dikelola secara kolaboratif. Keterlibatan masyarakat, dukungan pemerintah daerah, serta mitra pembangunan menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan sumber daya laut, khususnya di wilayah dengan keanekaragaman hayati tinggi seperti di Bentang Laut Kepala Burung,” kata Direktur Konservasi Ekosistem KKP, Firdaus Agung.
“Pendekatan ridge to reef memungkinkan pemerintah provinsi menyelaraskan perlindungan lingkungan dengan perencanaan pembangunan. Konservasi bukanlah penghambat pembangunan, melainkan fondasi bagi kesejahteraan masyarakat Papua Barat Daya,” ujar Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Viktor Solossa.
Gubernur Elisa Kambu menambahkan bahwa pendekatan ini relevan bagi Provinsi Papua Barat Daya sebagai provinsi baru dengan keanekaragaman hayati yang luar biasa yang menjadikannya sebagai sumber kehidupan dan penghidupan bagi masyarakat setempat.
Kepala Bidang KSDA Wilayah I Sorong, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Papua Barat Daya, Nanang Hari Murdani, menyampaikan bahwa BBKSDA Papua Barat Daya dalam rangka menyelenggarakan konservasi di wilayah Papua Barat Daya dan Papua Barat dengan luas kawasan konservasi 1,7 juta hektare dan berbagai spesies tumbuhan dan satwa liar dilindungi di dalam maupun di luar kawasan konservasi tidak dapat bekerja sendiri, kolaborasi dan sinergi lintas sektor sangat dibutuhkan dalam mewujudkan keberhasilan konservasi untuk kesejahteraan masyarakat.
“Begitu luasnya ruang tugas dan wewenang kami, bekerja bersama dan berkolaborasi dengan mitra, baik FFI Indonesia dan YKAN adalah sebuah keniscayaan. Kami tidak sendiri dalam mengelola kawasan konservasi ini,” tambah Nanang.
Andrea Ledward, International Biodiversity and Climate Director UK Department for Environment, Food and Rural Affairs (UK DEFRA) yang mewakili Pemerintah Inggris dalam kunjungannya menyampaikan bahwa Provinsi Papua Barat Daya merupakan wilayah penting untuk penerapan pendekatan terpadu darat dan laut.

“Ini merupakan kunjugan pertama saya ke Provinsi Papua Barat Daya, rumah bagi berbagai ekosistem yang terjaga dengan hutjan hujan tropis, pesisir, laut, dan keanekaragaman hayati yang luar biasa. Melalui proyek Darwin Extra Ridge-to-Reef Conservation yang didukung oleh Pemerintah Inggris, kami bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia dan mitra lokal untuk memperkuat pengelolaan kawasan lindung di darat dan laut, sekaligus mendukung perluasan konservasi berbasis masyarakat. Pendekatan yang didorong oleh kepemimpinan di tingkat lokal ini menunjukkan bagaimana tata kelola konservasi yang efektif dan pembiayaan jangka panjang untuk alam dapat memberikan manfaat bagi keanekaragaman hayati dan mata pencaharian masyarakat lokal,” terang Andrea.
Pada 20 Januari, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto meluncurkan Kemitraan Strategis Indonesia-Inggris yang baru di London. Kerja sama kedua negara melalui proyek Darwin Extra Ridge-to-Reef Conservation merupakan wujud nyata Kemitraan Strategis tersebut, mewujudkan ambisi bersama menjadi dampak nyata dan berkelanjutan di lapangan.”
Rangkaian kegiatan diawali dengan pertemuan bersama Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya di Kota Sorong. Pertemuan tersebut membahas penyelarasan prioritas konservasi baik di darat dan laut dengan perencanaan pembangunan daerah, termasuk penguatan tata kelola dan integrasi pengelolaan darat-laut dalam kebijakan pembangunan.
Diskusi menekankan pentingnya pendekatan ridge to reef sebagai kerangka pengelolaan komprehensif yang menghubungkan daratan, pesisir, dan laut secara terpadu.
Melestarikan Hutan, Menjaga Warisan Leluhur, Bentang Alam Kepala Burung Papua
Kunjungan DEFRA dan Kedutaan Besar Inggris menunjukkan komitmen kuat untuk melihat langsung bagaimana kolaborasi di tingkat tapak antara Kementerian Kehutanan dalam hal ini BBKSDA Papua Barat Daya, Pemerintah Daerah, FFI, dan YKAN, melalui program Darwin Extra mendukung konservasi spesies sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Country Director FFI Indonesia, Cahyo Nugroho, mengapresiasi masyarakat yang menjaga hutan dan spesies kunci. Dalam kunjungan lapangan di Klalik, rombongan juga berkesempatan melihat echidna atau babi duri (Zaglossus bruijnii) secara langsung dalam ekspedisi di malam hari.
“Kita pun bisa melihat bagaimana masyarakat bekerja bergotong royong. Mulai dari mama-mama yang menyiapkan makanan, tim survei yang membuka jalur untuk menemukan echidna, hingga pemandu wisata yang menjelaskan keanekaragaman reptil, serangga, jamur, dan hayati lainnya sepanjang perjalanan. Ekowisata telah menjadi jalan hidup masyarakat untuk menjaga hutan dan biodiversitas sekaligus memberikan penghasilan,” ujarnya.
Ketua KTH Klafli Kampung Megame, Ari Lagu, mengapresiasi kunjungan Andrea Ledward bersama pemangku kepentingan, FFI Indonesia, dan YKAN.
Ia menyatakan bahwa dukungan berbagai lembaga tersebut membantu masyarakat memulihkan harmoni dengan alam serta menekan aktivitas merusak seperti perburuan liar dan illegal logging. Saat ini, fokus utama beralih pada penguatan kearifan lokal dan pelestarian warisan leluhur.
“Fokus kami sementara adalah edukasi, khususnya kepada generasi-generasi muda kami, dan juga masyarakat tentang pentingnya alam, baik hutan maupun laut bagi kehidupan kami.”
Menjaga Laut, Merawat Bentang Laut Kepala Burung
Pada aspek kelautan, program telah berjalan sejak 2022 dengan dukungan terhadap penguatan kawasan konservasi, pengelolaan berbasis masyarakat, serta integrasi konservasi dalam perencanaan pembangunan daerah. Salah satu lokasi kerja program ini adalah di Kampung Malaumkarta, Kabupaten Sorong.
Di Kampung Malaumkarta, delegasi berdialog langsung dengan Masyarakat Hukum Adat (MHA) Malaumkarta dan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Funuwai Tasik. Diskusi membahas praktik pengelolaan laut berbasis kearifan lokal, peran pengawasan masyarakat dalam menjaga wilayah perairan adat, serta tantangan dan peluang keberlanjutan pengelolaan ke depan.
Selain itu, delegasi juga mengunjungi Pulau Um, salah satu lokasi penting peneluran penyu di wilayah tersebut. Kegiatan perlindungan pesisir Pulau Um menegaskan tingginya kesadaran Masyarakat mengenai keterhubungan antara perlindungan habitat kritis, pengelolaan kawasan konservasi perairan, dan kesejahteraanmasyarakat pesisir.
“Laut ini bukan hanya sumber hidup kami, tapi warisan untuk anak cucu. Dengan dukungan pemerintah dan mitra pembangunan internasional seperti Pemerintah Inggris melaui program konservasi Darwin Initiative dan YKAN, kami merasa tidak berjalan sendiri dalam menjaganya,” kata Spenyer Malasamuk, tokoh adat di Kampung Malaumkarta.
YKAN sebagai mitra pelaksana program untuk bidang kelautan, menegaskan pentingnya peran masyarakat sebagai aktor utama konservasi.
“YKAN menjembatani antara kebijakan, sains, dan praktik di lapangan. Di Malaumkarta, kami mendampingi masyarakat sehingga dapat menggunakan sistem adat mereka, yang disebut egek dalam merancang zonasi perlindungan dan pemanfaatan laut, dan menerapkannya secara efektif. Di sini, masyarakat adat menjadi tokoh sentral penjaga laut, dengan dukungan pemerintah dan mitra pembangunan,” terang Direktur Eksekutif YKAN, Herlina Hartanto.
Kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, masyarakat adat, serta mitra pembangunan ini menjadi contoh nyata bahwa konservasi yang berbasis kemitraan mampu memberikan manfaat ekologis sekaligus sosial ekonomi bagi masyarakat di Provinsi Papua Barat Daya.









