Kaji Ikan Malaja dan Tantangan Pengelolaannya, Peneliti Nypah Raih Gelar Magister Sains

  • Whatsapp
Fachril Muhajir pada ujian akhir tesis terkait ikan malaja (dok: Istimewa)

PELAKITA.ID – Di pesisir Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, ikan Malaja (Siganus canaliculatus) bukan sekadar penghuni laut biasa. Spesies herbivora ini adalah urat nadi ekonomi dan identitas budaya masyarakat lokal.

Di balik perannya yang vital, sebuah krisis sunyi sedang berlangsung di bawah permukaan air. Eksploitasi berlebihan dan degradasi habitat yang parah telah mendorong populasi ikan kebanggaan Luwu ini ke titik kritis.

Pertanyaannya kini: mampukah intervensi berbasis sains memulihkan kejayaan ekosistem pesisir kita sebelum terlambat?

Berdasarkan kajian Fachril Muhajir, atau biasa disapa Ophay, selama 20 tahun terakhir (2004–2024), wilayah pesisir di Kecamatan Bua telah menjadi saksi bisu penghancuran habitat yang sistematis.

Data satelit

Data satelit mengungkapkan angka yang sangat mengkhawatirkan: ekosistem mangrove, yang didominasi oleh Rhizophora mucronata, telah menyusut sebesar 22%.

Kondisi padang lamun, tempat bernaung Enhalus acroides, bahkan lebih tragis dengan tingkat kehilangan mencapai 28%.

Penurunan fungsi ekologis ini adalah hasil dari “pengabaian selama dua dekade” yang dipicu oleh tiga faktor utama.

Pertama karena konversi lahan: Alih fungsi hutan pesisir yang tidak terkendali.

Kedua, sedimentasi: Penumpukan material yang mengeruhkan perairan dan mencekik kehidupan bawah laut.

Ketiga, pembangunan pesisir: Ekspansi infrastruktur yang mengorbankan keseimbangan alam demi keuntungan jangka pendek.

Alarm Merah: Populasi yang Terjebak dalam ”Hutang Kepunahan”

”Kerusakan habitat ini mengirimkan sinyal bahaya bagi keberlanjutan hayati. Temuan lapangan menunjukkan bahwa populasi ikan Malaja saat ini sedang mengalami krisis regenerasi yang serius.,” ujar Ophay.

Populasi didominasi oleh ikan berusia muda (juvenile) dan remaja, dengan nisbah kelamin yang menunjukkan dominasi jantan secara nyata. Ketimpangan rasio kelamin ini memperkecil peluang terjadinya pemijahan yang sukses di alam liar.

Lebih mengkhawatirkan lagi, data kematangan gonad menunjukkan mayoritas sampel berada pada tahap TKG I dan TKG II. Ini adalah bukti nyata bahwa ikan-ikan yang ada saat ini tertangkap sebelum sempat masuk ke fase reproduksi.

”Secara biologis, kita sedang memaksa ikan Malaja ke arah kepunahan karena mereka tidak diberi kesempatan untuk melahirkan generasi penerus,” kata pria yang juga peneliti asal Nypah – salah satu LSM Kelautan berbasis di Makassar – yang terpanggil untuk melakukan riset di kawasan itu.

“Jika kita tidak segera mengamankan ‘ruang bernapas’ bagi ikan Malaja di Desa Karang-karangan, kita tidak hanya kehilangan komoditas bernilai tinggi, tetapi juga sedang meruntuhkan fondasi ekosistem pesisir Luwu secara keseluruhan,’ ujarnya.

Teknologi dalam Konservasi: Memetakan Harapan Baru

Untuk merumuskan rencana penyelamatan yang akurat, teknologi penginderaan jauh (Remote Sensing) melalui satelit Landsat digunakan untuk melacak perubahan selama dua dekade.

”Kami menggunakan algoritma NDVI untuk mengukur tingkat “kehijauan” dan kesehatan hutan mangrove dari langit, sementara algoritma Lyzenga memungkinkan kita “melihat” menembus kejernihan air untuk memetakan kondisi padang lamun di dasar laut secara presisi,” ucap Ophay yang dengan kajiannya ini telah mengantarnya meraih Magister Sains di FIKP Universitas Hasanuddin.

Menurut Ophay, data teknis ini bukan sekadar angka di atas kertas.

Melalui analisis multikriteria dan Sistem Informasi Geografis (SIG), teknologi ini memungkinkan kita untuk mengidentifikasi titik-titik koordinat yang masih memiliki potensi pemulihan tertinggi, menjembatani kesenjangan antara data satelit yang kompleks dengan langkah konservasi praktis di lapangan.

Zona 297,26 Hektar: Peluang Emas di Karang-karangan

Berdasarkan analisis mendalam yang dilakukan Ophay tersebut, solusi konkret telah dirumuskan: pembentukan kawasan lindung seluas 297,26 hektar di Desa Karang-karangan. Riset ini dibimbing oleh Prof. Dr Ir. Chair Rani, M.S dan Prof Dr. Ahmad Faizal, S.T, M.Si. 

Area ini dibagi menjadi dua zona strategis dengan potensi keberhasilan yang sangat menjanjikan.

Zona 1 dan Zona 2 memiliki tingkat kesesuaian ekologi masing-masing sebesar 78,4% dan angka fantastis 94%.

Dalam dunia konservasi, skor kesesuaian 94% adalah sebuah “tambang emas”—sebuah lokasi yang secara ilmiah hampir sempurna untuk menjadi benteng pertahanan terakhir bagi pemulihan populasi ikan Malaja.

Menetapkan kawasan ini sebagai zona lindung bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan mutlak jika kita ingin menyelamatkan ekonomi pesisir Luwu.

Dari Data Menuju Aksi Nyata

Menurut Ophay, kelangsungan hidup ikan Malaja kini berada di persimpangan jalan. Sains telah menyelesaikan tugasnya; kita telah mengidentifikasi penyebab kerusakan, memetakan lokasi perlindungan, dan membuktikan urgensi biologisnya melalui data TKG dan habitat.

”Sekarang, bola berada di tangan pemangku kebijakan dan masyarakat,” ujarnya.

Langkah teknis sudah tersedia, namun tanpa kemauan politik dan kesadaran kolektif, zona konservasi di Karang-karangan hanya akan menjadi garis di atas peta.

Mampukah kita mendahulukan keberlanjutan ekosistem di atas ambisi pembangunan sesaat demi memastikan anak cucu kita di Luwu masih bisa melihat ikan Malaja di masa depan?

___
Editor Denun