Jacobus K. Mayong Padang | Jauh dari Jerman Mengajar di Kereta

  • Whatsapp
Dua perempuan di atas kereta (lustrasi oleh AI)

PELAKITA.ID – Rabu, 18 Februari 2026, pagi saya beringsut pelan ke atas kereta dari Bogor yang memang sudah sesak.

Sebenarnya tidak adalagi yang kosong tetapi sebagai pelanggan sudah paham caranya; mengumpulkan energi, melangkah naik, langsung berbalik menghadap keluar lalu memadatkan badan untuk memberi ruang pintu kereta menutup.

Dan sesudah itu aman. Itu dilakukan siapapun laki-laki atau perempuan, muda atau tua.

Yah terpaksa sebab menunggu yang agak lowong bisa sejam bahkan lebih. Itu saat pagi dan terjadi di seluruh jalur kereta yang mengangkut entah berapa ratus ribu warga dari luar masuk Jakarta.

Saya naik di Stasiun Pasar Minggu Baru jadi pasti sesak setelah kereta membuka diri di 12 stasiun sebelumnya mulai dari Bogor.

Di Stasiun Manggarai saya berpindah ke kereta dari Bekasi ke arah Tanah Abang. Kondisinya tetap sama, penumpang dari Bekasi sudah padat.

DI stasiun Tanah Abang saya berpindah kereta yang sedang parkir dan akan mengangkut penumpang ke Jurusan Palmerah Kebayoran dan seterusnya sampai Rangkasbitung.

Keretanya kosong karena jurusan ini justru akan meninggalkan Jakarta. Jadi penumpang bebas memilih tempat.

Saya pilih berdiri karena akan turun di Palmerah.

Tidak lama seorang perempuan Eropa naik dan duduk di kursi tengah. Kereta tidak segera bergerak. Harus menunggu lebih banyak prnumpang yang mulai mengalir.

Kursi sudah penuh sehingga mulai banyak yang berdiri. Perempuan Eropa kemudian berdiri dan mempersilakan seorang ibu untuk duduk.

Ia bergeser memilih berdiri dekat lintu sambil tetap membaca buku yang memang sudah dibacànnya sejak dari tadi.

Mungkin saja sebelum naik kereta.

Ada sesuatu yang menggelitik batin saya. Saya bergeser ke arah tempat perempuan Eropa itu berdiri sekitar 10 m.

Saya tanya apakah bisa bahasa Indonesia. Ia menjawab dengan bahasa isyarat.

Caranya, ia mendekatkan telunjuknya ke ibu jarinya sehingga jaraknya sisa bisa dilewati tusuk gigi. Maksudnya sangat sedikit. Beberapa orang di sekitar kami mulai memperhatikan.

Dengan kemampuan bahasa Inggris yang sangat terbatas saya tanya asalnya dan ia jawab dengan singkat, Jerman.

Lalu saya tanya mengapa ia merelahkan tempat duduknya kepada orang lain? . Dengan tersenyum ia menjawab; oh itu sopan santun saja yang sudah diajarkan dari kecil.

Namanya Mitseilah, begitu kedengaran karena saya minta mengulanginya.

Saya tidak sempat meminta mengeja namanya, sudah dua minggu di Indobesia. Ia akan turun di Stasiun Rawa Buntu untuk menemui seorang temannya.

Kepada penumpang yang sedang memperhatikan kami, saya jelaskan ia tadi sudah enak duduk tetapi kemudian berdiri memberi kesempatan kepada yang lain.

Katanya itu sudah sopan santun yang diajarkan dari kecil.

“Jadi dia ini mengajari kita sopan santun. Bayangkan dia jauh-jauh dari Jerman mengajari kita,” jelas sàya disambut anggukan beberapa orang dan Mitseilah tersenyum memperhatikan kami walaupun tanpa paham apa yang saya jelaskan.

Jauh dari negaranya ia mengajari kita adat. Karena ibarat anak sekoĺah, dalam hal berkereta, bis kota atau aktifitas lainnya kita baru pada tingkat TK.

Bayangkan di setiap sudut gerbong kereta atau bis sudah tertulis; beri kesempatan kepada yang lebih butuh.

Selain itu juga diumumkan lewat pengeras suara. Tetapi petugas masih harus sibuk meminta penumpang yang muda untuk memberikan tempat kepada yang tua.

Memang di berbagài kesempatan sudah banyak yang langsung berdiri jika melihat ada yang lebih tua atau menggendong anak. Tetapi belum membudaya, kita masih harus belajar lebih banyak.

Terima kasih Mitseilah.

___
Jacobus K. Mayong Padang.

Kalibata, satusembilanduaduanolduaenam