Kerja Shift Malam Menggerus Daya Ingat Dokter Muda
dr. Yosfiah Asrizal Rewa, M.Biomed:
___
PELAKITA.ID – Bekerja hingga larut malam, kurang tidur, dan tekanan akademik yang tinggi sudah lama menjadi bagian dari kehidupan dokter muda.
Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa kondisi ini bukan sekadar melelahkan secara fisik, melainkan juga berpotensi menggerus kemampuan berpikir dan mengingat dalam jangka pendek.
Penelitian pada Program Studi Ilmu Biomedik Unhas yang dilakukan oleh Yosfiah Asrizal Rewa, dengan pembimbing Lelimiska Irmadani Syarif dan Nikmatia Latief, menyoroti bagaimana kerja shift malam memengaruhi kapasitas memori jangka pendek dokter muda yang sedang menjalani pendidikan klinik di RSUD Undata, Sulawesi Tengah.
Menurut Yosfiah, daya ingat jangka pendek—sering disebut working memory—memiliki peran krusial dalam dunia medis.
“Kemampuan ini memungkinkan dokter muda mengingat instruksi klinis, menganalisis kondisi pasien, serta mengambil keputusan cepat di tengah situasi yang kompleks dan penuh tekanan,” ucap Yosfiah yang juga merupakan Putra Asisten Ekonomi Pembangunan Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, H, Rustan Rewa.
Sayangnya, jelas Yosfiah, daya ingat ini sangat sensitif terhadap gangguan ritme biologis tubuh.
“Kerja malam, kurang tidur, dan jam kerja panjang dapat mengacaukan ritme sirkadian, sistem alami yang mengatur siklus tidur dan bangun manusia,” tambahnya.

Apa yang Diteliti?
Penelitian yang dilaksanakan Yosfiah ini melibatkan 68 dokter muda berusia 18–25 tahun yang sedang menjalani rotasi klinik.
Para peserta diminta mengisi kuesioner standar untuk menilai kualitas tidur, tingkat stres, dan kualitas hidup, serta menjalani tes khusus untuk mengukur kemampuan memori jangka pendek.
Para peneliti kemudian menganalisis hubungan antara berbagai faktor tersebut dengan performa daya ingat, menggunakan metode statistik yang ketat untuk memastikan hasil yang akurat dan dapat dipercaya.
Temuan Utama: Shift Malam Jadi Faktor Penentu
Hasil penelitian menunjukkan satu temuan yang menonjol: jumlah shift malam per minggu secara konsisten berkorelasi dengan penurunan kemampuan memori jangka pendek.
“Semakin sering dokter muda menjalani shift malam, semakin rendah skor tes daya ingat yang mereka peroleh,” sebut Yosfiah.
Menariknya, faktor lain yang sering dianggap berpengaruh—seperti kualitas tidur subjektif, tingkat stres, dan kualitas hidup—tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kemampuan memori jangka pendek dalam penelitian ini.
“Artinya, kerja shift malam tampil sebagai faktor paling dominan yang memengaruhi fungsi kognitif dokter muda,” ungkap Yosfiah.
Dampak Lebih Luas bagi Pendidikan Kedokteran
Temuan ini memiliki implikasi penting, bukan hanya bagi kesehatan dokter muda, tetapi juga bagi mutu pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien.
Dokter muda berada pada fase krusial pembentukan kompetensi klinis. Penurunan daya ingat jangka pendek dapat meningkatkan risiko kesalahan, memperlambat proses belajar, dan menurunkan kepercayaan diri.
Di tengah tuntutan pelayanan rumah sakit dan kebutuhan pendidikan klinik, penelitian ini mengingatkan bahwa kesehatan kognitif tenaga medis muda tidak boleh diabaikan.
Penelitian yang dilakukan dokter Yosfiah ini menegaskan pentingnya evaluasi ulang sistem penjadwalan kerja, khususnya terkait frekuensi shift malam.
“Pengaturan jadwal yang lebih manusiawi, disertai edukasi tentang manajemen tidur, dapat menjadi langkah strategis untuk menjaga performa kognitif dokter muda,” ucap Sang Dokter.
Menjaga kesehatan tenaga medis bukan hanya soal mencegah kelelahan fisik, tetapi juga melindungi kemampuan berpikir yang menjadi fondasi utama praktik kedokteran.
Dalam dunia kesehatan, kualitas keputusan sering kali sama pentingnya dengan kecepatan bertindak—dan keduanya bergantung pada daya ingat yang sehat.
Salamakki, dok!
___
Editor Denun









