Mengapa Kita Bersahur: Hikmah Ibadah dan Perspektif Ilmu

  • Whatsapp
Menikmati sahur di sepanjang perjalanan (dok: Iluustrasi oleh AI)

Penulis: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

Sahur adalah jembatan kebutuhan tubuh dan kesadaran ruhani. Ia adalah media dialog antara tubuh, jiwa, dan Tuhan.

PELAKITA.ID – Al-Qur’an memberi isyarat jelas tentang momentum ini: “Makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar” (QS. Al-Baqarah: 187). Ini bukan sekadar petunjuk waktu, tetapi simbol keseimbangan.

Islam tidak memutus hubungan manusia dengan kebutuhan biologisnya. Justru mengajarkan pengelolaan yang sadar, terukur, dan bermakna.

Nabi Muhammad SAW menegaskan, “Bersahurlah kalian, karena dalam sahur terdapat keberkahan.”

Keberkahan di sini tidak selalu identik dengan banyaknya makanan, melainkan kualitas manfaatnya berupa energi yang cukup, ketenangan batin, kesiapan mental, serta keberlanjutan ibadah sepanjang hari. Dari sahur, puasa tidak terasa sebagai beban, melainkan perjalanan sadar menuju ketakwaan.

Dalam perspektif tasawuf, sahur sering dimaknai sebagai latihan keterjagaan spiritual. Ulama sufi mengingatkan bahwa waktu menjelang subuh adalah saat jiwa lebih tenang dan bening.

Lebih mudah terhubung dengan Tuhan. Jalaluddin Rumi pernah mengisyaratkan bahwa fajar adalah saat langit membisikkan rahasia kepada hati yang terjaga. Maka sahur menjadi momentum bukan hanya makan, tetapi juga berdoa, berzikir, dan memperbarui niat.

Sahur, memiliki posisi strategis dalam ibadah puasa. Secara fikih, puasa tetap sah tanpa sahur, tetapi ia sunnah yang sangat dianjurkan. Ia seperti fondasi tak terlihat dari bangunan besar bernama puasa.

Tanpa fondasi kuat, bangunan bisa berdiri, tetapi tidak kokoh. Dengan sahur, puasa lebih stabil—fisik terjaga, psikis siap, spiritual hidup.

Ilmu pengetahuan modern memberi perspektif menarik. Tubuh manusia memiliki ritme biologis yang mengatur energi, hormon, dan metabolisme. Asupan nutrisi menjelang fajar membantu menjaga kadar gula darah lebih stabil selama puasa.

Karbohidrat kompleks, protein, serat, dan cairan cukup membuat energi dilepas perlahan, sehingga rasa lapar datang lebih terkendali.

Dari sisi kesehatan, sahur juga membantu mencegah dehidrasi berlebihan, menjaga fungsi otak, dan meningkatkan konsentrasi. Orang yang bersahur umumnya lebih produktif dan tidak mudah lelah.

Dalam psikologi perilaku, ritual sahur bahkan memperkuat komitmen berpuasa karena ada proses persiapan mental yang sadar.

Lebih jauh lagi, sahur memiliki dimensi sosial. Ia menghadirkan kebersamaan keluarga, solidaritas tetangga, hingga tradisi saling membangunkan.

Dari meja sahur sederhana sering lahir percakapan hangat, doa bersama, dan kesadaran bahwa puasa bukan perjalanan individual semata, melainkan pengalaman kolektif umat.

Di sinilah sahur diam-diam berkontribusi pada peradaban. Ia melatih disiplin waktu, kesederhanaan konsumsi, empati terhadap yang lapar, serta kesadaran spiritual yang lebih dalam.

Peradaban besar selalu lahir dari manusia yang mampu mengelola diri—dan sahur adalah salah satu sarana ke arah itu.

Sahur juga mengingatkan bahwa keseimbangan adalah inti ajaran Islam. Tidak berlebihan dalam makan, tidak pula menolak kebutuhan tubuh.

Tidak tenggelam dalam kenikmatan dunia, tetapi juga tidak mengabaikannya. Dari keseimbangan inilah lahir ketahanan pribadi dan harmoni sosial.

Pada akhirnya, sahur bukan sekadar santap sebelum fajar. Ia adalah ruang kontemplatif. Tempat menata niat, menjaga tubuh, menenangkan jiwa, dan menumbuhkan empati.

Ia sunyi, tetapi justru dari kesunyian itulah kesadaran tumbuh. Dari kesadaran itu pula peradaban yang lebih beradab bisa lahir.

Karena itu, ketika kita bersahur, sesungguhnya kita sedang mempersiapkan lebih dari sekadar puasa sehari.

Kita sedang menyiapkan diri menjadi manusia yang lebih utuh—fisiknya kuat, pikirannya jernih, hatinya lembut, dan spiritualitasnya hidup. Di situlah hikmah sahur menemukan maknanya yang paling dalam.

_____
Muliadi Saleh Menulis : “Makna, Membangun Peradaban”.