Mustamin Raga | Diam

  • Whatsapp
Ilustrasi

PELAKITA.ID – Ada sebuah pepatah yang sering kita dengar sejak kecil: diam itu emas. Indah terdengar, mulia maksudnya. Tetapi, seperti semua pepatah yang diwariskan dari zaman ke zaman, ia menyimpan jebakan yang tak selalu disadari bahwa tidak semua diam adalah kemuliaan, dan tidak semua emas itu murni.

Kadang ia hanya kuning tembaga yang disepuh rapi agar tampak berharga. Sebab diam punya wajah yang banyak dan tidak semuanya suci.

Ada diam yang lahir dari ketakutan. Diam yang bersembunyi di balik dinding kehati-hatian karena takut kehilangan kenyamanan, jabatan, atau status sosial yang sudah susah payah dipertahankan.

Diam yang mengikat lidah seseorang ketika keburukan terjadi di depan mata, tetapi ia memilih menundukkan kepala seolah-olah tidak melihat apa-apa. Diam jenis ini bukan emas ia lebih menyerupai karat yang merusak keberanian manusia perlahan-lahan.

Ada pula diam yang tumbuh dari ketidakpedulian. Diam yang lahir dari hati yang dingin, dari jiwa yang merasa dunia bukan urusannya, dari pikiran yang telah lama berhenti memikirkan nasib sesama.

Diam semacam ini seperti pintu yang tertutup rapat saat tetangga mengetuk minta tolong karena rumahnya terbakar. Tidak jahat, tetapi tidak pula baik. Ia adalah ruang kosong yang bisu dan tak berguna. Lalu ada diam yang lebih halus yakni diam yang hadir karena tidak adanya kepentingan pribadi.

Ketika suatu persoalan tidak mengusik dompetnya, tidak mengganggu keluarganya, tidak menyentuh posisinya, maka ia memilih bungkam. Sedikit saja kena, ia akan bersuara lantang. Tetapi selama angin masih bertiup sesuai arah yang nyaman baginya, ia memilih diam, menunggu, membiarkan keadaan berjalan tanpa kehadiran nuraninya.

Namun diam tidak selalu buruk. Ada diam yang justru menjadi cahaya.Ada diam yang merupakan wujud kesabaran. Diam yang menjaga seseorang dari kata-kata yang menyakitkan, yang menahan amarah, yang merawat kedewasaan.

Diam seperti ini adalah ibadah. Ia menahan luka agar tidak membesar, menahan lidah agar tidak melukai, menahan ego agar tidak merusak persaudaraan.

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Di titik ini diam memang emas. Ia indah karena disertai akhlak dan kebijaksanaan. Tetapi persoalan muncul ketika diam dipindahkan ke medan lain: Diam di tengah kekacauan, diam di tengah kebimbangan umat, diam di tengah ketidakadilan yang merayap dari satu sudut ruang ke sudut lainnya.

Diam seperti ini bukan lagi emas. Ia adalah lumpur yang menenggelamkan nurani.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa umat yang terbaik bukanlah umat yang hanya berdoa dan berdiam diri, tetapi umat yang menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Allah berfirman:

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar…”
(QS. Ali ‘Imran: 110)

Ayat ini seolah menggenggam kerah kita sambil berkata: Kamu tidak boleh diam saat keburukan dibiarkan berjalan. Diam ketika kebatilan menjadi panglima bukan tanda ketenangan, melainkan tanda menyerah

Diam ketika korupsi dianggap kebiasaan bukan tanda kesabaran, melainkan keberpihakan yang diam-diam.Diam ketika rakyat resah, ketika keputusan publik dipermain-mainkan, ketika kekisruhan mengambil alih nalar, itu bukan emas. Itu noda yang menempel di jiwa.

Rasulullah SAW juga menegaskan kaidah tegas tentang sikap ketika berhadapan dengan kemungkaran: “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu maka dengan lisannya; jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.”
(HR. Muslim)

Hadis ini tidak memberi ruang bagi “diam total”. Minimal, hati harus gelisah. Minimal, jiwa harus resah. Minimal, ada perlawanan batin meskipun bibir tak bisa berkata-kata.

Diam itu emas tetapi emas yang mana?

Emas yang menjaga diri, atau emas palsu yang menutupi pengecut?

Emas yang menentramkan hati, atau emas karatan yang menutupi keberpihakan pada keburukan?

Ketika umat gelisah, ketika suara kebenaran dipelintir, ketika kepentingan publik ditindas oleh pemilik kekuasaan, maka diam bukan lagi kemuliaan. Ia adalah kekurangan. Ia adalah kegagalan moral.

Sebab, dalam kehidupan ini, orang yang benar-benar peduli tidak pernah diam terlalu lama.

Mereka mungkin hening sejenak untuk menimbang, untuk memaknai, untuk menenangkan diri. Tetapi begitu waktunya tiba, suara mereka keluar, jernih, tegas, dan memihak yang lemah. Dan mungkin di sinilah kita, manusia yang hidup dalam zaman penuh suara tetapi miskin keberanian, perlu berhenti sejenak lalu bertanya pada diri sendiri:

Diamku selama ini emas atau hanya alasan?

___
Gerhana Alauddin, 17 Februari 2026