Memasuki Ramadhan dengan Suka Cita
Maghfirah bukan sekadar ampunan, tetapi juga proses penyadaran. Ia mengajari kita rendah hati, sekaligus optimistis bahwa perubahan selalu mungkin.
Penulis: Muliadi Saleh Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran Sosial
PELAKITA.ID – Datang dengan hati yang sederhana, membawa harap yang mungkin tak selalu sempurna. Ada rindu yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan.
Rindu pada halte perjalanan, pada ketenangan, pada kesempatan memperbaiki diri. Ramadhan selalu terasa seperti rumah yang kembali terbuka setelah lama kita sibuk di luar sana.
Aku membayangkan engkau seperti sebuah bangunan indah penuh cahaya.
Pintu depanmu adalah rahmat. Setiap yang mengetukmu engkau sambut tanpa tanya. Perasaan diterima sebelum lidah bertutur. Siapapun boleh masuk.
Yang lelah, yang bersalah, yang sedang mencari arah. Rahmat itu menyejukkan, seperti hujan awal musim yang menenangkan tanah gersang hati.
Kasih sayang-Mu lebih terasa. Kesempatan berbuat baik dilipatgandakan, niat sederhana pun bernilai istimewa. Suka cita dan mahabbah bertaburan tak mengenal batas.
Memasuki pintu rahmat itu sering diawali dengan saling memaafkan. Kata “maaf” menjadi kunci. Ia membuka simpul yang lama mengeras. Ia menurunkan ego yang sering diam-diam membangun jarak.
Dalam saling memaafkan, hati terasa lebih lapang, dan ibadah menjadi lebih ringan. Kebahagiaan spiritual sering justru muncul dari kelapangan semacam itu.
Ruang tengahmu penuh maghfirah. Di sinilah manusia belajar jujur pada dirinya sendiri. Mengakui salah tanpa pembelaan berlebihan. Menyebut dosa tanpa menyalahkan keadaan.
Maghfirah bukan sekadar ampunan, tetapi juga proses penyadaran. Ia mengajari kita rendah hati, sekaligus optimistis bahwa perubahan selalu mungkin.
Di ruang maghfirah itu pula banyak orang kembali menautkan diri pada orang tua. Meminta doa, memohon restu, dan memastikan hubungan tetap hangat.
Di sini kesadaran tumbuh bahwa doa orang tua sering menjadi jalan terang menuju ridha-Nya. Ramadhan menghadirkan kepekaan untuk kembali merawatnya.
Sebagian lainnya menziarahi pusara keluarga. Bukan untuk larut dalam kesedihan, tetapi untuk mengingat batas hidup.
Ziarah menghadirkan perspektif bahwa ambisi dunia tidak selamanya penting, bahwa waktu terlalu berharga untuk konflik tak perlu, dan bahwa kembali kepadaNya adalah kepastian.
Dan ketika perjalanan spiritual itu terus dijalani, terbukalah bagian lain dari rumah Ramadhan.
Teras belakangmu yang indah adalah taman pembebasan dari neraka-Mu. Sebuah simbol harapan bahwa setiap usaha memperbaiki diri tidak sia-sia.
Puasa, doa, sedekah, dan kesabaran menjadi jalan pembebasan. Bukan hanya dari hukuman kelak, tetapi juga dari “neraka” batin saat ini: amarah, iri, gelisah, dan kekosongan makna.
Di taman harapan itu, suka cita Ramadhan mencapai kedalaman sebenarnya. Ia bukan kegembiraan yang riuh, melainkan ketenangan yang sunyi. Hati terasa lebih dekat dengan Tuhan, hubungan dengan sesama lebih hangat, dan hidup tampak lebih jernih arahnya.
Kini aku di pintumu, Ramadhan.
Masuk melalui rahmat, berjalan dalam maghfirah, dan berharap sampai ke taman pembebasan itu. Tidak dengan kesempurnaan, tetapi dengan kesungguhan.
Karena Ramadhan sejatinya bukan sekadar bulan ibadah. Ia adalah perjalanan pulang. Pulang ke hati yang lebih lembut, ke kesadaran yang lebih jernih, dan ke cinta Ilahi yang selalu terbuka bagi siapa saja yang mau mengetuk pintunya.
_____
Muliadi Saleh: “Menulis Makna Membangun Peradaban.”









