Ia dikenal sebagai peneliti pertama di Indonesia yang aktif mendorong implementasi konsep Kota Sehat di beberapa wilayah, berperan aktif dalam mendorong kabupaten/kota di Indonesia menuju akreditasi sehat melalui indikator Swasti Saba Padapa dan verifikasi nasional.
PELAKITA.ID – Prof. Sukri Palutturi, SKM, M.Kes., MSc.PH, Ph.D, lahir di Tanatoa, Sulawesi Selatan, pada 29 Mei 1972, dan merupakan salah satu tokoh utama dalam pengembangan kebijakan kesehatan publik di Indonesia.
Saat ini ia menjabat sebagai Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas), institusi terakreditasi “A” yang menjadi pusat pendidikan dan penelitian kesehatan masyarakat di kawasan timur Indonesia.
Profil akademiknya yang kuat dan pengalaman profesionalnya yang luas menjadikan Prof. Sukri Palutturi sebagai salah satu pakar terkemuka dalam bidang kebijakan dan politik kesehatan, penerapan konsep Healthy Settings, serta pengembangan Kota Sehat di Indonesia dan Asia Tenggara.
Pendidikan Prof. Sukri Palutturi menempuh jalur yang sistematis dan komprehensif. Ia menyelesaikan gelar sarjana (S1, SKM) dan magister (M.Kes.) di Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, FKM Unhas, pada tahun 1998 dan 2002.
Ia kemudian memperluas wawasan internasionalnya dengan menempuh program Master of Science in Public Health (MSc.PH) dan doktoral (Ph.D) di Center for Environment and Population Health, Griffith University, Australia, pada tahun 2009 dan 2013.
Selain itu, Prof. Sukri juga mengikuti Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXIII di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Republik Indonesia pada 2022, yang memperkuat kapasitasnya dalam kepemimpinan strategis di bidang kesehatan masyarakat dan kebijakan publik.
Dalam perjalanan karir akademiknya, Prof. Sukri Palutturi menempuh jenjang kepangkatan yang konsisten, dimulai sebagai CPNS pada 2001 hingga mencapai pembina utama madya (Golongan IV/d) pada 2020, termasuk di antaranya meraih gelar Guru Besar pada 2017, sekaligus menjadi salah satu dari lima profesor termuda di Unhas pada tahun tersebut.
Ia memulai karier akademiknya sebagai dosen tetap di Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, FKM Unhas sejak 2001 dan terus menempati berbagai posisi strategis, antara lain Sekretaris Departemen (2006–2008), Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni serta Kerjasama/Kemitraan (2014–2022), hingga akhirnya menjabat Dekan sejak 2022 hingga 2026.
Kepakaran Prof. Sukri mencakup kebijakan dan politik kesehatan, pengembangan Healthy Settings, dan implementasi konsep Healthy Cities, yang menjadi bidang unggulannya di Indonesia.
Ia dikenal sebagai peneliti pertama di Indonesia yang mengimplementasikan konsep Kota Sehat, serta berperan aktif dalam mendorong kabupaten/kota di Indonesia menuju akreditasi sehat melalui indikator Swasti Saba Padapa dan verifikasi nasional.
Konsep Healthy Cities yang dikembangkan Prof. Sukri tidak hanya berfokus pada aspek kesehatan fisik, tetapi juga menyentuh kesejahteraan sosial, lingkungan, serta partisipasi masyarakat dalam membangun lingkungan hidup yang mendukung kesehatan publik.
Sebagai akademisi yang produktif, Prof. Sukri memiliki H-indeks 12 di Scopus dengan lebih dari 2.100 sitasi, serta H-indeks 25 di Google Scholar.
Selama lima tahun terakhir, publikasinya mencakup studi tentang motivasi komunitas dalam membayar iuran jaminan kesehatan nasional, peningkatan keterampilan bidan, pengelolaan stunting, kualitas layanan kesehatan primer, kesehatan lingkungan, dan penerapan filosofi lokal Bugis dalam pelayanan rumah sakit.
Penelitian-penelitian ini tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga berbasis praktik dan relevan bagi pengambilan kebijakan kesehatan di Indonesia.
Karyta tulis buku
Selain publikasi ilmiah, Prof. Sukri juga telah menulis sejumlah buku yang menjadi referensi penting dalam bidang kesehatan masyarakat dan kebijakan kesehatan di Indonesia.
Beberapa di antaranya adalah Kesehatan itu Politik (2010), Public Health Leadership (2014), Health Politics: Teori dan Praktek (2015), Healthy Cities: Konsep Global, Implementasi Lokal untuk Indonesia (2017), Politik Kesehatan di Indonesia (2019), Indonesia Perang Melawan Covid-19 (2022), dan Pengembangan Healthy Traditional Market (2022).
Buku-buku ini memperlihatkan kepeduliannya dalam menjembatani teori dan praktik, serta memandu pengembangan kebijakan kesehatan yang berbasis bukti.
Prof. Sukri aktif mengikuti pelatihan profesional dan konferensi internasional, memperluas jejaring dan wawasan globalnya.
Di antara pelatihan internasional yang diikuti adalah Short Course on Health Policy Development (Australia, 2010), Healthy Cities (Adelaide, 2012), Universal National Health Insurance (Mahidol University, Thailand, 2014), Urban Governance for Health and Wellbeing (Geneva, 2023), dan Mayor’s Meeting Strengthening Healthy Setting under Age-Friendly Cities (Malaysia, 2025).
Keikutsertaannya dalam forum internasional ini memperkuat kontribusinya dalam merumuskan strategi kesehatan kota, kesehatan publik perkotaan, dan pembangunan masyarakat sehat berbasis bukti.
Kontribusi Prof. Sukri terhadap kebijakan kesehatan publik di Indonesia sangat signifikan. Ia terlibat sebagai fasilitator dan narasumber dalam berbagai kegiatan, mulai dari penyusunan indikator Kota Sehat, pelatihan tenaga kesehatan dan bidan, pendampingan pengembangan lorong sehat, hingga seminar nasional tentang politik kesehatan dan implementasi GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat).
Prof. Sukri juga berperan aktif dalam mendukung kebijakan jaminan kesehatan nasional (JKN), peningkatan kualitas pelayanan puskesmas, dan pemberdayaan komunitas untuk kesehatan preventif dan promotif.
Keterlibatan ini mencakup tingkat kota, kabupaten, dan provinsi, serta berinteraksi dengan lembaga pemerintah, organisasi internasional, dan akademisi di berbagai konferensi global.
Secara internasional, Prof. Sukri juga telah berkontribusi dalam pengembangan kesehatan perkotaan melalui pelatihan dan seminar di Asia dan Eropa.
Ia menyampaikan presentasi oral dan workshop di Malaysia, Thailand, Nepal, Tunisia, Swiss, dan Bangkok, dengan fokus pada penguatan kapasitas pemerintah kota, pengembangan profil kesehatan kota, dan implementasi konsep Healthy Cities di negara berkembang.
Pendekatan ini menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, partisipasi komunitas, dan penggunaan data sebagai dasar kebijakan.
Secara keseluruhan, Prof. Sukri Palutturi adalah sosok akademisi dan praktisi kesehatan masyarakat yang menonjol di Indonesia.
Dengan pengalaman lebih dari dua dekade di pendidikan tinggi, penelitian, dan pengembangan kebijakan, ia telah membangun jejak rekam yang kuat dalam memajukan kesehatan publik, mengembangkan konsep Healthy Cities, dan memperkuat kapasitas tenaga kesehatan serta masyarakat.
Kontribusinya tidak hanya meningkatkan kualitas hidup warga Indonesia, tetapi juga menjadi referensi penting bagi praktik kesehatan publik di tingkat regional dan global.
Prof. Sukri tetap menjadi inspirasi bagi generasi akademisi dan praktisi kesehatan dalam merumuskan kebijakan inovatif yang berbasis bukti, kontekstual, dan berdampak luas bagi masyarakat.









