Lulus Sarjana, Alergi Lumpur?

  • Whatsapp
Muliadi Saleh (dok: Istimewa)

Pertanyaan Reflektif tentang Arah Pendidikan dan Orientasi Profesi Pertanian

Oleh Muliadi Saleh — Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran Sosial

PELAKITA.ID – Ada ironi yang pelan-pelan tumbuh di dunia pertanian kita. Semakin banyak sarjana lahir dari fakultas pertanian, tetapi semakin sedikit yang benar-benar akrab dengan lumpur sawah, debu ladang, dan aroma tanah basah setelah hujan.

Kampus melahirkan gelar, namun realitas lapangan sering terasa asing. Seolah ada jarak tak kasatmata antara ilmu pertanian dan kehidupan agraria itu sendiri.

Padahal pertanian bukan sekadar disiplin akademik. Ia pengalaman inderawi. Merasakan tekstur tanah. Membaca arah angin. Bahkan memahami musim dari perubahan warna daun. Ilmu tanpa sentuhan langsung mudah berubah menjadi teori kering. Indah di makalah, tetapi gagap di lapangan.

Data bersama melalui Sensus Pertanian 2023 menghadirkan gambaran menarik sekaligus reflektif. Tercatat sekitar 6.183.009 petani milenial berusia 19–39 tahun, setara 21,93% dari total sekitar 28,19 juta petani nasional. Regulasi pemerintah bahkan mendefinisikan petani milenial bukan hanya soal usia, tetapi juga kemampuan adaptif terhadap teknologi digital. Mereka banyak bergerak di hortikultura, tanaman pangan, perkebunan, hingga peternakan—sektor yang relatif dinamis dan dekat dengan inovasi.

Namun angka itu menyimpan paradoks. Di satu sisi, generasi muda mulai masuk sektor pertanian dengan pendekatan teknologi. Di sisi lain, masih terasa jarak antara pendidikan tinggi pertanian dan praktik agraria sehari-hari. Adaptasi digital penting, tetapi kedekatan ekologis tetap tak tergantikan. Pertanian bukan hanya data dan sensor. Ia juga intuisi lapangan yang lahir dari pengalaman.

Fenomena “alergi lumpur” karenanya bukan sekadar persoalan mentalitas individu. Ia juga refleksi konstruksi sosial yang lama menempatkan profesi petani sebagai pilihan terakhir. Pendidikan tinggi kadang tanpa sadar memperkuat jarak itu—menekankan analisis, manajemen, dan teknologi, tetapi kurang memberi ruang pengalaman empirik yang membangun empati ekologis.

Padahal dunia pertanian sedang menghadapi tantangan besar. Perubahan iklim, degradasi tanah, krisis air, hingga volatilitas pasar global menuntut pendekatan baru. berulang kali menegaskan pentingnya sistem pangan berkelanjutan yang mengintegrasikan inovasi teknologi dengan kearifan lokal. Artinya, sarjana pertanian tidak cukup menjadi analis laboratorium; mereka perlu menjadi jembatan antara ilmu modern dan realitas ekologis.

Di negeri agraris seperti , tantangan ini terasa semakin nyata. Biodiversitas tropis, keragaman pangan lokal, dan tradisi agraria adalah modal besar. Namun tanpa generasi intelektual yang bersedia turun ke lapangan, modal itu berisiko terkikis oleh industrialisasi pertanian yang seragam dan kurang sensitif terhadap lingkungan.

Sarjana pertanian masa depan perlu merebut kembali makna profesinya. Teknologi digital, pertanian presisi, kecerdasan buatan, hingga inovasi pasar tetap penting. Tetapi teknologi seharusnya mendekatkan manusia pada tanah, bukan menjauhkannya. Sentuhan lumpur bukan simbol keterbelakangan; ia justru tanda kedekatan ekologis yang tak tergantikan.

Ada nilai pedagogis yang lahir ketika seorang sarjana berdiri di sawah, berdialog dengan petani, atau menanam bibit dengan tangannya sendiri. Di sana ilmu menemukan konteks, dan kesadaran ekologis tumbuh.

Tanpa pengalaman itu, pertanian mudah direduksi menjadi grafik produksi semata.

Pada akhirnya, pertanyaan “lulus sarjana, alergi lumpur?” bukan tudingan, melainkan undangan refleksi. Ia mengajak kita meninjau ulang arah pendidikan pertanian, orientasi profesi, dan makna kemajuan. Sebab kemajuan sejati bukan ketika manusia menjauh dari alam, melainkan ketika ilmu membuat hubungan itu semakin bijaksana.

Dan mungkin, lumpur sawah memang sederhana. Namun dari sanalah pangan lahir, kehidupan bertahan, dan peradaban menemukan akarnya. Jika sarjana pertanian berani kembali menyentuhnya, masa depan pangan yang lebih adil dan lestari bukan sekadar wacana—melainkan harapan yang mulai ditanam.
___
Muliadi Saleh : “Menulis Makna, Membangun Peradaban”