Ahmad A. Zulkifli | Alumni Ilmu Kelautan Unhas, dari Laboratorium ke Forum Dunia

  • Whatsapp
Ahmad Aufa Zulkifli (dok: Istimewa)

PELAKITA.ID – Di salah satu ruang di Gedung Rektorat Universitas Hasanuddin, tepatnya di Pusat Studi Perubahan Iklim, tersaji sebuah percakapan hangat tentang masa depan kelautan Indonesia.

Sosok yang menjadi perhatian adalah Ahmad Aufa Zulkifli, alumni Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin.

Ahmad—yang kini resmi menyandang gelar Sarjana Kelautan (S.Kel.) sejak Agustus 2025—menyelesaikan studinya tepat dalam empat tahun.

Ia masuk pada 1 Agustus 2021 dan menuntaskan ujian akhirnya pada Agustus 2025. Sebuah capaian akademik yang presisi, sekaligus mencerminkan komitmen dan konsistensinya selama menempuh pendidikan di Ilmu Kelautan Unhas.

Fokus pada Isu Pencemaran dan Terumbu Karang

Sejak awal, Ahmad menaruh minat besar pada isu lingkungan. Risetnya berfokus pada pencemaran laut (marine pollution), dengan objek penelitian pada ekosistem terumbu karang. Baginya, isu pencemaran bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga ekonomi.

“Pencemaran itu punya garis merah dengan ekonomi. Ikan atau udang yang tercemar pasti tidak akan dibeli. Jadi, dampaknya langsung terasa pada kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Di Departemen Ilmu Kelautan Unhas, mahasiswa tidak hanya belajar tentang laut sebagai ruang fisik, tetapi juga sebagai sistem sosial-ekologis yang terhubung dengan perubahan iklim, sumber daya alam, hingga ketahanan pangan global.

Isu climate change, stok karbon laut, mikroplastik, hingga kerusakan ekosistem terumbu karang menjadi tantangan besar yang kini dihadapi generasi muda kelautan.

Ilmu Kelautan: Lebih dari Sekadar Laut

Ahmad, alumni SMA Negeri 17 Makassar, mengaku awalnya tertarik pada ranah sosial-humaniora. Namun perjalanan akademiknya membawanya ke jurusan IPA dan akhirnya memilih Ilmu Kelautan. Keputusan itu diambil atas motivasi pribadi.

Baginya, ilmu kelautan menawarkan perspektif yang luas—dari “permukaan bumi hingga ke dasar lautan.”

Isu perubahan iklim yang menjadi perhatian global ternyata memiliki dampak nyata hingga ke kedalaman laut. Di sinilah peran ilmu kelautan menjadi strategis.

Selama kuliah, satu angkatan Ilmu Kelautan Unhas terdiri dari sekitar 120 mahasiswa yang terbagi dalam tiga kelas.

Dengan kombinasi kuliah teori, praktikum laboratorium, dan kerja lapangan, mahasiswa ditempa untuk memahami laut secara komprehensif—baik secara ilmiah maupun dalam konteks kebijakan dan pembangunan.

Menembus Forum Internasional

Salah satu hal yang membanggakan dari profil alumni Ilmu Kelautan Unhas adalah kiprah internasionalnya. Ahmad menjadi contoh bagaimana mahasiswa kelautan mampu bersaing di tingkat global.

Ia pernah mewakili Universitas Hasanuddin dalam kompetisi paduan suara mahasiswa di Portugal, tepatnya di Universitas Lisbon. Meski latar belakangnya sains kelautan, ia membuktikan bahwa mahasiswa Ilmu Kelautan juga dapat berprestasi di bidang seni.

Lebih jauh lagi, Ahmad dua kali berkesempatan ke Tiongkok. Salah satunya di Shanghai Ocean University, serta dalam kegiatan kolaboratif bersama Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO).

Dalam forum tersebut, ia terlibat dalam diskusi global mengenai pengelolaan perikanan, budidaya, dan manajemen sumber daya perairan untuk mendukung ketahanan pangan dunia.

Menariknya, program tersebut pada dasarnya diperuntukkan bagi mahasiswa doktoral (PhD) dan para profesional. Namun Ahmad berhasil beradaptasi dan menunjukkan kompetensinya sebagai mahasiswa sarjana dari Indonesia.

Meski sempat merasa minder, ia mampu membuktikan kapasitas akademik dan intelektualnya di forum internasional.

Tiga Pilar Kepedulian: Budaya, Lingkungan, dan Masa Depan

Sebagai alumni Ilmu Kelautan, Ahmad melihat tantangan terbesar sektor kelautan Indonesia bukan semata pada teknologi, tetapi pada kesadaran lingkungan, terutama di kalangan generasi muda.

Ia memperkenalkan gagasan “Three Cares”:

  • Care for the Culture

  • Care for the Environment

  • Care for the Future

Menurutnya, budaya maritim Indonesia sangat kuat, tetapi belum sepenuhnya diinternalisasi dalam kesadaran ekologis generasi muda. Melalui seni, karya, dan pendekatan kreatif, isu-isu kelautan dapat dikomunikasikan dengan lebih efektif.

Mahasiswa kelautan, katanya, tidak harus selalu tampil “tegang” atau eksklusif sebagai ilmuwan. Mereka tetap bisa aktif di seni, organisasi, dan berbagai ruang ekspresi, selama tetap membawa nilai kepedulian terhadap laut dan masa depan.

Tantangan dan Masa Depan Kelautan

Jika dibandingkan dengan negara seperti Portugal, Ahmad melihat adanya perbedaan signifikan dalam hal manajemen perikanan dan dukungan teknologi. Pengelolaan perikanan di Eropa cenderung lebih terintegrasi dan didukung sistem teknologi yang kuat.

Bagi Indonesia sebagai negara maritim, penguatan sektor kelautan memerlukan sinergi antara ilmu pengetahuan, kebijakan, teknologi, dan kesadaran masyarakat.

Tantangan ke depan mencakup perubahan iklim, peningkatan stok karbon biru, pengendalian mikroplastik, serta perlindungan ekosistem terumbu karang.

Ahmad sendiri berencana melanjutkan studi untuk memperdalam kajian tentang hubungan perubahan iklim dengan stok karbon dan mikroplastik di laut. Sebuah langkah yang relevan dengan kebutuhan global saat ini.

Ilmu Kelautan Unhas: Melahirkan Generasi Maritim Global

Profil Ahmad Aasiki Zulkifli mencerminkan wajah mahasiswa dan alumni Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin: adaptif, kompetitif, dan berpandangan global. Dari laboratorium di Makassar hingga forum ilmiah internasional, mereka hadir membawa perspektif Indonesia dalam diskursus kelautan dunia.

Di tengah tantangan perubahan iklim dan krisis lingkungan, optimisme terhadap masa depan maritim Indonesia tetap menyala—selama generasi mudanya terus peduli pada budaya, lingkungan, dan masa depan.

Ilmu Kelautan Unhas bukan sekadar tentang belajar menyelam atau meneliti laut, tetapi tentang membangun peradaban maritim yang berkelanjutan.