Ketika Tulisan Menjadi Simpul Praktik Sosial dan Praksis Spiritual

  • Whatsapp
Muliadi Saleh: " Menulis Makna, Membangun Peradaban"

Oleh: Muliadi Saleh — Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran Sosial

PELAKITA.ID – Menjelang salat Jumat, sebuah telepon masuk. Suara di seberang terdengar hangat sekaligus terburu. “Sohib, afwan…” begitu ia membuka percakapan. Ia kemudian menjelaskan bahwa siang itu ia diminta mendadak menjadi khatib di sebuah masjid kompleks. Materi khotbah belum sempat disiapkan.

Dengan nada penuh harap ia berkata, “Saya mohon izin, kawan. Saya ingin memakai tulisanmu sebagai materi khotbah.”

Saya tersenyum. Tanpa ragu saya jawab, “Silakan. Dengan senang hati.”

Percakapan singkat itu selesai, tetapi resonansinya panjang. Ia mengingatkan bahwa tulisan, sekali dilepas ke ruang publik, memiliki kehidupan sendiri. Ia berjalan, berpindah tangan, menyeberangi pulau, bahkan mungkin menembus batas yang tak pernah kita bayangkan.

Di situlah saya merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Seakan-akan saya ikut berdiri di mimbar masjid yang bahkan tidak saya kenal lokasinya. Kata-kata yang lahir jadi tulisan  menjelma suara yang menggema di ruang ibadah.

Tulisan berubah fungsi. Dari refleksi personal menjadi konsumsi kolektif. Dari renungan sunyi menjadi pesan sosial.

Fenomena ini sesungguhnya bukan hal baru dalam tradisi intelektual Islam. Sejak abad klasik, karya para ulama beredar lintas wilayah tanpa kehadiran fisik penulisnya. Kitab menjadi “wakil suara”, pena menjadi perpanjangan lisan.

Tradisi sanad ilmu bahkan menunjukkan bahwa teks sering kali lebih panjang umurnya daripada pembicaranya. Dalam konteks modern, media digital hanya mempercepat proses itu. Tulisan dapat melintasi ruang dan waktu dalam hitungan detik.

Namun ada dimensi lain yang sering luput dibicarakan. Dimensi spiritualitas menulis. Ketika seseorang menulis dengan niat berbagi manfaat, tulisan itu tidak sekadar informasi, tetapi energi sosial. Ia membangun percakapan, memantik diskusi, bahkan kadang menuntun tindakan.

Seorang sahabat lain pernah berkata kepada saya bahwa ia rutin membaca tulisan-tulisan tersebut dan mendiskusikannya bersama komunitasnya. Saya membayangkan lingkaran-lingkaran kecil percakapan yang lahir dari teks sederhana. Dari sana, kesadaran sosial perlahan dirajut.

Di sinilah menulis menjadi praktik sosial sekaligus praksis spiritual. Ia bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga ibadah kultural.

Kata-kata menjadi sedekah pengetahuan; gagasan menjadi jembatan empati. Dalam perspektif sosiologi komunikasi, tulisan semacam ini membentuk apa yang disebut public sphere — ruang publik tempat ide dipertukarkan secara reflektif. Dalam perspektif sufistik, ia mendekati konsep amal jariyah. Sesuatu yang terus mengalir manfaatnya bahkan ketika penulisnya tak lagi hadir.

Tentu tidak semua tulisan memiliki daya seperti itu. Ada tulisan yang lahir dari ambisi popularitas, ada pula yang sekadar memenuhi algoritma media sosial. Tetapi tulisan yang lahir dari keikhlasan biasanya memiliki “ruh” yang berbeda. Ia terasa jujur, tidak memaksa, dan karenanya lebih mudah diterima.

Saya semakin percaya bahwa menulis bukan hanya soal teknik retorika atau kecakapan bahasa. Ia soal niat, konsistensi, dan keberanian merawat makna. Ketika tulisan diniatkan untuk berbagi manfaat, pembaca bukan sekadar audiens, melainkan mitra dialog. Di sana terjadi interaksi sunyi: penulis berbicara lewat teks, pembaca menjawab lewat pemaknaan.

Pada akhirnya, pengalaman kecil menjelang Jumat itu menjadi pengingat sederhana bahwa tulisan bisa menjadi pengisi mimbar. Ia tidak terlihat, tetapi suaranya sampai. Ia tidak bertatap muka, tetapi mampu menyentuh.

Maka menulislah. Menulislah dengan ikhlas. Sebarkan manfaat sejauh kata mampu melangkah. Karena bisa jadi, di suatu tempat yang tak kita ketahui, tulisan itu sedang dibacakan, didiskusikan, atau menguatkan hati seseorang. Dan di sanalah hidup menemukan makna yang sering tak kita rencanakan, tetapi selalu layak disyukuri.
____
Muliadi Saleh : “Menulis Makna, Membangun Peradaban”