Merawat Arah, Menjaga Nilai

  • Whatsapp
A smiling Rector by the sea at sunset

Perihal Kepemimpinan Akademik, Catatan Usai Percakapan dengan Prof JJ


PELAKITA.ID – Percakapan dengan sosok bernama lengkap Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc itu tidak berlangsung dalam suasana seremonial. Ia mengalir sebagai dialog yang tenang, reflektif, dan penuh jeda untuk berpikir.

Bukan tentang angka capaian semata, apalagi daftar penghargaan. Yang muncul justru pertanyaan-pertanyaan mendasar: untuk apa universitas ada, Rektor dipilih, Unhas Berdampak, dan ke mana ia hendak dibawa, dan nilai apa yang harus dijaga agar tidak larut dalam arus pragmatisme zaman.

Dalam percakapan itu, penulis menganggap Prof JJ, begitu sapaannya, bukan sebagai Rektor tetapi sebagai senior yang pernah me-ngospek di selasar Himatin dan Himagastika, dua organisasi mahasiswa Kelautan dan Perikanan Unhas di tahun 89.

Jadi, percakapan itu tidak bernuansa sebagai jabatan struktural, melainkan sebagai kerja nilai dan keinginan menguak jejak dan destinasi.

Di sinilah esensi kepemimpinan akademik menemukan maknanya—bukan sekadar mengelola institusi, tetapi merawat orientasi dan integritas universitas sebagai ruang pencarian kebenaran dan pengabdian pada kemanusiaan.

Prof JJ, menjabarkannya dengan teks, penulis menyimpannya dan mengelaborasi substansinya.

Esensi Kepemimpinan: Menjaga Arah di Tengah Kompleksitas

Kepemimpinan akademik hari ini berhadapan dengan tantangan yang tidak sederhana. Universitas dituntut adaptif terhadap perubahan global, kompetitif secara internasional, sekaligus tetap berpijak pada kebutuhan lokal.

Dalam konteks ini, esensi kepemimpinan bukanlah kecepatan bergerak mengikuti tren, melainkan keteguhan menentukan arah di tengah kompleksitas.

Prof. Jamaluddin Jompa memandang kepemimpinan sebagai kemampuan menyatukan nilai, pengetahuan, dan keberanian mengambil keputusan berbasis ilmu pengetahuan.

Bahwa kepemimpinan yang tegas pada aturan harus tetap terbuka pada inovasi; disiplin pada tata kelola, namun lentur dalam membaca konteks sosial dan ekologis. Model kepemimpinan semacam ini menuntut konsistensi moral sekaligus kepandaian strategis.

Perbincangan itu bermula saat kami menyinggung kekuatan Unhas dan asetnya. Intinya, bagaimana mengelola aset secara profesional, kampus sebagai ekosistem

Dari esensi kepemimpinan itulah lahir pendekatan pengelolaan aset yang profesional. Universitas tidak dipahami semata sebagai kumpulan gedung, lahan, dan fasilitas fisik, tetapi sebagai sebuah ekosistem pengetahuan yang hidup.

Aset kampus mencakup sumber daya manusia akademik, jejaring riset, reputasi ilmiah, data pengetahuan, hingga kepercayaan publik.

Dalam kerangka ini, pengelolaan aset bukanlah urusan administratif belaka, melainkan strategi jangka panjang untuk memastikan keberlanjutan institusi.

Aset yang dikelola dengan baik akan memperkuat daya saing universitas sekaligus memperluas kontribusinya bagi masyarakat. Profesionalisme menjadi prasyarat agar kampus tidak terjebak pada rutinitas birokrasi yang melemahkan daya inovasi.

Coastal Laboratories: Ilmu yang Bertumbuh di Lapangan

Sebagai universitas yang lahir dan tumbuh di kawasan pesisir, Unhas memiliki keunggulan sekaligus tanggung jawab historis. Penulis yang alumni Kelautan dan Prof JJ dari Jurusan Perikanan, bersisian di jejak pengalaman dan profesi.

Penulis pernah bekerja sebagai fasilitator desa di Selayar dan JJ sebagai Sekretaris Eksekutif proyek besar bernama the Coral Reef Rehabilitatoon dan Management Project di pertengahan 2000-an.

Dalam percakapan tersebut, gagasan tentang coastal laboratories muncul sebagai simbol kepemimpinan yang membawa kampus keluar dari menara gading di urusan maritim.

Tiba-tiba dalam perbincangan, mencuat Marine Station Barrang Lompo, Tambak Edukasi di Bojo dan juga tantangan kemaritiman kontekstual yang semakin kompleks.

Bagi JJ, laboratorium tidak hanya berada di ruang tertutup, tetapi juga di laut, pulau-pulau kecil, pesisir, dan komunitas yang hidup di dalamnya.

Mestinya, Coastal Laboratories dimaknai sebagai ruang pembelajaran nyata, tempat teori diuji oleh realitas dan ilmu pengetahuan berjumpa dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Di sinilah riset, pendidikan, dan pengabdian bertemu dalam satu kesatuan praksis.

Pendekatan ini menegaskan bahwa kepemimpinan akademik yang kuat adalah kepemimpinan yang berani menempatkan ilmu pengetahuan dalam konteks sosial dan ekologis yang sesungguhnya. SDM Fakultas ditagih untuk responsif pada situasi itu.

Kami menganggap bahwa tantangan pembangunan hari ini bersifat kompleks dan saling terkait. Perubahan iklim, krisis pangan, kesehatan publik, dan ketimpangan sosial tidak bisa dijawab oleh satu disiplin ilmu.

Karena itu, kepemimpinan akademik perlu mendorong inovasi interdisipliner sebagai cara berpikir baru dalam menyelesaikan persoalan lama dengan mengajak semakin banyak pihak terlibat, mahasiswa, alumni dan private sector untuk urunan pengalaman, dan solusi.

Prof JJ menekankan pentingnya kolaborasi lintas fakultas, lintas disiplin, bahkan lintas aktor—antara akademisi, pembuat kebijakan, komunitas lokal, dan dunia usaha.

Inovasi tidak selalu berwujud teknologi mutakhir, tetapi sering kali lahir dari kemampuan menyilangkan pengetahuan dan merajut perspektif yang beragam. Universitas masa depan adalah universitas yang mampu memfasilitasi dialog pengetahuan, bukan mengkotakkannya.

Kepemimpinan sebagai Arsitektur Jangka Panjang

Jika dirangkai, esensi kepemimpinan, pengelolaan aset profesional, coastal laboratories, dan inovasi interdisipliner membentuk satu arsitektur kepemimpinan yang utuh.

Kepemimpinan tidak dipahami sebagai kerja sesaat atau pencapaian jangka pendek, melainkan sebagai upaya membangun fondasi yang kokoh bagi keberlanjutan institusi.

Dalam kerangka ini, kepemimpinan akademik adalah proses merawat nilai, membangun sistem, dan menyiapkan ruang bagi generasi berikutnya untuk tumbuh. Warisan terpenting dari seorang pemimpin bukanlah program, tetapi budaya—cara berpikir, cara bekerja, dan cara memaknai peran universitas di tengah masyarakat.

Percakapan dengan Prof. Jamaluddin Jompa meninggalkan satu kesan kuat: kepemimpinan sejati tidak banyak bicara tentang diri sendiri, tetapi tentang institusi dan masa depan yang hendak disiapkan.

Tantangan ke depan tentu tidak lebih ringan, tetapi nilai-nilai yang dirawat dengan konsisten akan menjadi penuntun di tengah ketidakpastian.

Universitas hanya akan tetap relevan jika ia mampu menjaga keseimbangan antara keunggulan akademik, keberpihakan sosial, dan tanggung jawab ekologis.

Di titik inilah kepemimpinan menemukan maknanya yang paling dalam—sebagai ikhtiar yang menyiapkan arah, bahkan ketika sorotan telah bergeser ke tempat lain.

___
Penulis Kamaruddin Azis
Tamarunang, 10 Februari 2026