Guru Besar Filsafat FIB Unhas: Galesong, Metropolitan Tempo Dulu yang Menunggu Dipanggil Kembali

  • Whatsapp
Guru Besar Bahasa dan Filsafat FIB Unhas, Prof. Dr. Mardi Adi Armin, M.Hum (kanan)

Saya sebenarnya sedang berada di sebuah acara Persaudaraan Muslimin Indonesia ketika kabar tentang pertemuan di Galesong sampai ke telinga. Ada semacam panggilan batin yang sulit diabaikan. Saya pamit kepada panitia—wajib hukumnya bagi saya untuk naik ke Galesong hari itu.  Dengan kehadiran para akademisi, doktor, dan tokoh yang memiliki kompetensi sejarah dan kebudayaan luar biasa, saya merasa cukup “mengulangi” sebagian kegelisahan yang selama ini tersimpan tentang Galesong.

PELAKITA.ID – Demikian pernyataan Guru Besar Bahasa dan Filsafat Prof D Mardi Adi Armin, .M.Hum terkait posisi dan urgensi Galesong dalam linimasa percakapan.

“Bagi saya, Galesong—adalah metropolitan tempo dulu. Sebuah kawasan modern pada masanya, dengan sumber daya manusia yang kuat dan peran ekonomi yang strategis,” ucap Prof Mardi.

Bahkan, lanjutnya, dalam lintasan sejarah awal, Galesong bisa dikatakan lebih jaya dibanding Goa. Ia telah berfungsi sebagai wilayah modern yang menyuplai bahan pangan, menjadi hub atau titik pengumpan utama bagi Makassar dari sisi selatan.

Pada fase itu, istilah “Kerajaan Gowa” bahkan belum dikenal seperti kemudian hari; yang ada adalah Makassar dan Galesong—dua entitas yang tumbuh beriringan.

Dikatakan, secara geografis dan politis, posisi Galesong sangat strategis. Ia adalah simpul perlintasan, titik singgah, dan pusat distribusi. Itulah sebabnya saya menyebutnya metropolitan—bukan dalam pengertian gedung tinggi, tetapi dalam makna fungsional dan peradaban.

Namun, seiring menguatnya peran Makassar dan naiknya Gowa—terutama setelah klaim-klaim kolonial Belanda yang menjadikan Goa semacam “kerajaan boneka”—perlahan cahaya Galesong mulai meredup.

“Pertanyaan pentingnya: sejak kapan dan mengapa Galesong kehilangan peran sebagai hub? Faktor-faktornya tentu berlapis. Secara sosial ekonomi, peran penyuplai mulai bergeser. Sayur-mayur tidak lagi datang dari Galesong, melainkan dari Malino,” ucapnya.

Disebutkan, jalur distribusi berubah. Infrastruktur dibangun di sisi timur. Jalan besar dibuka di wilayah yang dianggap lebih efisien. Galesong pun berubah menjadi jalur sekunder—penghubung antarkabupaten yang tak lagi dilalui arus utama.

Di balik itu, ada dimensi politik kebijakan yang tak bisa diabaikan. Pusat-pusat pemerintahan dipindahkan, kantor-kantor dibangun menjauh dari pesisir barat.

“Seperti banyak kota lain, yang awalnya tumbuh di tepi laut lalu “ditinggalkan” demi orientasi baru ke daratan timur. Kebijakan eksekutif semacam ini berdampak langsung pada aura dan posisi Galesong dalam peta pembangunan. Namun sejarah Galesong bukan hanya tentang kemunduran ekonomi. Ia juga tentang karakter. Sejarah mencatat satria-satria Galesong sebagai pribadi-pribadi dengan komitmen kuat pada jiwa bebas, mandiri, dan sulit dikekang,” paparnya.

Mereka, sebut Prof Mardi, lebih memilih menjadi oposan ketimbang tunduk pada kekuasaan yang dianggap tak sejalan dengan prinsip. Dari sini pula terjadi migrasi besar-besaran keluarga Galesong—sebuah diaspora yang lahir dari kesetiaan pada nilai, bukan sekadar tekanan politik.

Galesong, sebagai nama dan makna, sejatinya sejajar dengan Makassar, Wajo, Toraja, dan Mandar. Ia bukan nama kecil dalam sejarah Sulawesi Selatan. Bahkan istilah “Takalar” sendiri adalah produk sejarah dan makna linguistik yang lahir dari dinamika panjang kawasan ini.

“Lalu bagaimana memanggil kembali kejayaan itu hari ini? Jawabannya mungkin bukan dengan benturan politik kekuasaan. Bukan pula dengan proyek besar yang kerap tersendat. Jalan masuknya bisa lebih halus, lebih kultural, dan justru lebih mengakar: gastronomi. Politik kuliner,” tambahnya.

Mulai dari yang paling dekat dengan ingatan dan lidah: palekko, coto, kuliner otentik Takalar. Orisinalitas rasa, cerita di balik hidangan, dan jejak sejarahnya dapat menjadi pintu masuk kesadaran publik. Orang datang untuk makan, lalu perlahan menyadari bahwa tempat ini pernah jaya.

Bahwa ada peradaban yang hidup di sini. Inilah strategi revitalisasi melalui seni gastronomi—bukan politik astronomi, apalagi konflik.

“Melalui kuliner, seni, dan narasi budaya, Galesong bisa kembali diperkenalkan tanpa menegasikan wilayah lain. Sebuah kebangkitan yang pelan, sadar, dan berakar. Bukan sekadar nostalgia, melainkan upaya menghidupkan kembali makna,” sebut Prof Mardi.

Galesong, kata Prof Mardi, adalah kata kota lama yang sejajar dengan Makassar, Wajo, Toraja hingga Mandar.

“Mungkin memang sudah waktunya kebijakan kembali melirik ke barat. Kembali ke Galesong. Bukan untuk mengulang masa lalu, tetapi untuk menjemput masa depan dengan ingatan yang utuh,” sambut moderator, Rusdin Tompo.

Redaksi