Penulis : Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran Sosial
PELAKITA.ID – Makan bukan sekadar aktivitas biologis. Ia adalah bahasa kebudayaan. Dari cara makanan disiapkan, disajikan, hingga dibawa pulang, sesungguhnya manusia sedang merajut identitas, solidaritas, bahkan spiritualitas kolektif.
Tradisi Mandar—terutama dalam acara aqiqah, maulid, peringatan hari kematian, hingga syukuran mendirikan rumah—menjadi cermin bagaimana makanan bekerja sebagai perekat sosial sekaligus simbol ekologi budaya.
Seorang sahabat pernah mengingatkan pada pemikiran Benedict Anderson tentang imagined communities—komunitas yang terbentuk bukan semata karena kedekatan fisik, tetapi karena kesadaran bersama yang dipelihara melalui simbol, ritus, dan pengalaman kolektif.
Dalam konteks Mandar, makan bersama bukan sekadar perjamuan. Ia adalah cara membuat komunitas terasa nyata. Orang mungkin datang dari kampung berbeda, profesi berbeda, bahkan status sosial berbeda, tetapi duduk dalam satu hamparan hidangan menjadikan mereka satu kesatuan rasa.
Mengapa Kita Harus Makan Bersama?
Dalam perspektif antropologi dan ekologi budaya, makan bersama adalah mekanisme menjaga keseimbangan sosial. Ia memastikan distribusi sumber daya berlangsung adil, memperkuat kohesi sosial, sekaligus menjadi ruang pertukaran nilai.
Di Mandar, acara peringatan hari kematian, mendirikan rumah, aqiqah, atau maulid bukan sekadar ritual agama. Ia adalah momentum redistribusi energi sosial. Masyarakat datang membawa doa, tenaga, dan kebersamaan. Tuan rumah menyiapkan hidangan sebagai wujud syukur sekaligus berbagi rezeki.
Di sana berlangsung sebuah siklus kehidupan yang terasa utuh dan saling melengkapi. Pangan tidak sekadar disajikan, tetapi dibagi dan dinikmati bersama, menghadirkan makna kebersamaan yang melampaui kebutuhan fisik semata. Pada saat yang sama, energi kolektif bergerak dalam kerja gotong royong.
Dari tangan-tangan yang memasak dengan sabar hingga langkah-langkah yang menata tempat dengan penuh kepedulian, semua menyatu dalam irama kebersamaan. Lalu dimensi spiritual mengalir tenang di atas semuanya .
Doa dipanjatkan, rasa syukur diteguhkan, dan relasi sosial diperhalus, seolah menegaskan bahwa kehidupan bukan hanya tentang yang tampak, tetapi juga tentang ikatan batin yang menumbuhkan makna.
“Barakka” : Berkah yang Dibawa Pulang
Bagian paling menyentuh dari tradisi Mandar justru terjadi saat acara selesai. Para tamu biasanya pulang membawa barakka—bungkusan makanan sebagai tanda berkah.
Isinya sederhana, biasanya sokkol (nasi ketan), tallo (telur), loka (pisang), dilengkapi kue-kue tradisional. Tapi maknanya tidak sederhana. Barakka itu semacam pesan diam-diam bahwa kebahagiaan harus ikut dibawa pulang, bahwa rezeki sebaiknya dibagi, dan doa tidak berhenti di tempat acara saja.
Sokkol melambangkan kebersamaan yang lengket, telur seperti harapan hidup baru, pisang tanda keberlanjutan, dan kue-kue jadi simbol kegembiraan. Semuanya sederhana, tapi terasa hangat.
Barakka membuat acara tidak selesai begitu saja. Ia seperti memperpanjang silaturahmi sampai ke rumah masing-masing.
Tradisi yang Menjaga Keseimbangan
Kalau direnungkan pelan-pelan, tradisi makan Mandar sebenarnya menjaga banyak hal sekaligus. Ia menjaga hubungan manusia dengan alam karena makanan berasal dari ternak, kebun, dan laut. Ia menjaga hubungan sosial karena makanan dibagi, bukan dimonopoli. Ia juga menjaga hubungan spiritual karena semua diawali niat ibadah dan syukur.
Mungkin inilah kearifan sederhana yang kadang hilang di kehidupan modern. Mungkin kita makin sering makan sendiri, serba cepat, serba praktis. Padahal makan bersama itu bukan sekadar kebiasaan lama, tapi cara merawat rasa kebersamaan.
Menjaga Makna, Bukan Sekadar Bentuk
Tradisi tentu bisa berubah. Cara memasak bisa modern, tempat bisa lebih praktis. Tapi maknanya sebaiknya tetap dijaga: saling berbagi, saling menghormati, dan tetap merasa satu komunitas.
Mengapa Kepala Hewan Menjadi Representasi?
Dalam beberapa tradisi aqiqah atau syukuran Mandar, kepala hewan—kambing atau sapi—menjadi simbol penting. Ia disajikan khusus kepada Imam atau maraqdia sebagai figur moral dan adat. Kepala, sebagai pusat kendali tubuh, melambangkan kepemimpinan, kehormatan, sekaligus tanggung jawab.
Simbol ini mengandung pesan kuat bahwa pemimpin bukan sekadar dihormati, tetapi diingatkan akan amanahnya menjaga arah moral komunitas.
Mengonsumsi bagian kepala dalam konteks ritual bukan soal privilese semata, melainkan pengingat tanggung jawab spiritual dan sosial.
Dalam perspektif ekologi budaya, ini juga menegaskan relasi manusia dengan alam. Hewan yang dikorbankan bukan sekadar objek konsumsi, tetapi bagian dari siklus kehidupan yang harus dihormati. Ada kesadaran bahwa keberlangsungan manusia bertumpu pada harmoni dengan lingkungan.
Barakka sebagai Metafora Ekologi Sosial
Tradisi membawa pulang barakka sebenarnya adalah metafora ekologi sosial yang indah. Ia menegaskan bahwa rezeki tidak berhenti pada individu, tetapi harus mengalir. Sokkol melambangkan ketahanan pangan, telur simbol kehidupan baru, pisang simbol keberlanjutan, dan kue tradisional sebagai tanda kegembiraan kolektif.
Dengan cara itu, tradisi Mandar mengajarkan bahwa kesejahteraan bukan milik pribadi semata. Ia harus dibagikan agar tetap hidup. Barakka menjadi pengingat bahwa kebersamaan tidak selesai di meja makan; ia terus bergerak bersama langkah pulang setiap anggota komunitas.
Menjaga Makna di Tengah Perubahan
Modernitas memang membawa perubahan gaya hidup. Makan sering menjadi aktivitas cepat dan individual. Namun tradisi Mandar mengingatkan bahwa kebersamaan adalah fondasi kesehatan sosial.
Esensi yang perlu dijaga bukan bentuk luarnya semata, melainkan ruhnya: solidaritas, penghormatan, tanggung jawab moral, dan kesadaran ekologis.
Tradisi makan bersama, kepala hewan sebagai simbol amanah, dan barakka sebagai distribusi berkah—semuanya adalah cara masyarakat merawat keseimbangan hidup.
Pada akhirnya, makan bersama dalam tradisi Mandar adalah pelajaran peradaban. Ia mengajarkan bahwa manusia hidup dalam jejaring: alam memberi pangan, komunitas memberi dukungan, spiritualitas memberi makna.
Dan ketika seseorang pulang membawa barakka di tangannya, sebenarnya ia sedang membawa lebih dari sekadar makanan. Ia membawa pesan bahwa hidup harus saling menopang, bahwa berkah tumbuh ketika dibagi, dan bahwa kebudayaan hidup selama kita terus merawat kebersamaan.
Barangkali di situlah inti tradisi bahwa bukan hanya apa yang kita makan, tetapi bagaimana makanan itu membuat kita tetap merasa satu— dalam ekologi kehidupan yang sama.
_____
Muliadi Saleh: ” Menulis Makna, Membangun Peradaban”









