Nasib PLTS Pulau Sabangko Setelah Eksis 8 Tahun

  • Whatsapp
Kompleks PLTS di Pulau Sabangko (dok: Pelakita.ID)

PELAKITA.ID – Makassar sedang hujan saat saya dan tiga kolega berangkat dari Hotel Santika, Makassar, Kamis, 5 Februari 2026.

Perjalanan lancar via tol sebelum berbelok ke arah Maros-Pangkep.

”Kami tunggu di Dermaga Maccini Baji, pak,” balas Ilham, warga Pulau Saugi yang janji menjemput.

Kami tiba sekitar pukul 9 pagi. Cuaca cerah. Sudah banyak pengunjung di dermaga ini. Ilham datang bersama seorang warga lainnya. ”Lama baru ketemu lagi ya pak,” ucapnya saat kami bersalaman.

Ilham adalah operator PLTS di Desa Saugi saat saya bekerja untuk GIZ dalam proyek bernama ENACTING. Kurang lebih berkaitan dengan pemanfaatan energi listrik PLTS untuk pengembagan mata pencaharian.

Saya naik kapal fiber yang dibawa Ilham, disusun tiga kolega lainnya. Perjalanan lancar. Meski terasa agak lama sebab biasanya kami naik di Dermaga Kassi Kebo untuk sampai ke Pulau Sabangko, destinasi pertama.

Perahu kami tertambat di dermaga Sabangko. Dermaga yang dikiri-kanan telah dipasangi wadah jemur untuk rumput laut. Warga di sini selain sebagai melayan rajungan juga pembudidaya rumput laut.

“Sudah dua tahun tidak berfungsi,” kata Risman, operator PLTS Sabangko saat menjumpai kami. Tidak ada yang nampak baru di pulau ini kecuali wadah penjemuran rumput laut yang semakin banyak itu.

Kami menyusuri jalan setapak untuk sampai ke lokasi PLTS Sabangko. Di jalan itu, kami singgah di rumah sepasang suami istri yang bekerja membereskan rumput laut. Sang Suami merapikan tali rumput laut, sementara istri Hasnah, melepas rumput laut dari temali. Nampak terhampar rumput laut kering jenis Euchema.

Dari situ kami diantar Risman ke lokasi PLTS. PLTS ini tak lagi beroperasi sejak 2 tahun lalu. Kapasitasnya 20 Kwp, atau Kilowatt Peak, dan selama ini melayani rumah warga dengan kapasitas terpasang 600 watt atau cukup untuk penerangan. ”Warga membayar iuran 30 ribu saat mulai beroperasi pada 2017,” kata Risman.

Di dalam bangunan nampak inverter yang masih menyala lampu indikatornya meski battere sudah tak menampung lagi. ”Ini butuh dana sekurangnya 200 juta untuk bisa peroleh batere,” kata Risman.

Menurut Risman, layanan PLTS sebelum mati total beroperasi hanya malam hari. Untuk melayani 63 rumah. Beterei tersedia ada 92 meski selama ini yang digunakan hanya 70-an. Sisanya untuk cadangan. Sekarang semua tidak berfungsi.

Pembaca sekalian, untuk pulau seperti Sabangko, daya tahan warga yang bisa menghasilkan uang dari usaha perikanan, seperti rajungan, rumput laut hingga ikan-ikan ekonomis, tersedianya listrik adalah kemudahan untuk mereka bisa memberi nilai tambah ekonomi.

Mestinya bisa buat es, buat beroperasi mesin blender dan tentu perbaikan mutu produk olahan mereka. Tanpa itu, mereka pasti akan kesulitan.

Bukan hanya untuk kepentingan ekonomi produktif tetapi juga untuk kegiatan sosial keagamaan.

”Kalau bisa ada yang membantu supaya listrik PLTS di Sabangko tetap bisa beroperasi, menyambut ramadan,” ucap Risman kepada kami sebelum pamit ke Pulau Saugi.