PELAKITA.ID – Upaya menjaga ingatan kolektif terhadap sejarah dan identitas lokal kini menghadapi tantangan serius di tengah arus modernisasi.
Ketika generasi muda kian berjarak dengan asal-usul daerahnya, inisiatif untuk mendokumentasikan sejarah dan potensi desa menjadi semakin penting agar nilai-nilai lokal tidak hilang ditelan waktu.
Desa Liya Togo, yang berada di kawasan Benteng Keraton Liya, merupakan salah satu wilayah yang hingga kini tetap berkembang tanpa melepaskan jati diri budayanya.
Sejarah, tradisi, dan adat istiadat masih hidup dan menyatu dalam keseharian masyarakat. Namun, tantangan terbesar yang dihadapi adalah bagaimana pengetahuan yang selama ini diwariskan secara lisan dapat diterjemahkan ke dalam bentuk yang lebih sistematis dan mudah diakses oleh masyarakat luas, khususnya generasi muda dan wisatawan.
Menjawab tantangan tersebut, sebuah program kerja bertajuk “Digitalisasi Potensi Desa Berbasis GIS (Geographic Information System) dalam Peningkatan Informasi Titik Wisata” dilaksanakan di Desa Liya Togo.
Program ini dirancang oleh Risya Nur Awwalunnisa, mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Hasanuddin, Jurusan Geofisika.
Melalui program ini, sejarah dan potensi Benteng Keraton Liya yang sebelumnya hanya tersimpan dalam ingatan kolektif masyarakat kini diwujudkan dalam bentuk Peta Wisata Desa Liya Togo.
Peta tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penunjuk lokasi, tetapi juga sebagai media edukasi yang memperkenalkan struktur, nilai sejarah, dan kekayaan budaya Benteng Keraton Liya kepada masyarakat dan pengunjung.
Dalam peta tersebut ditampilkan tiga lapisan utama Benteng Keraton Liya yang selama ini jarang diketahui secara luas. Setiap lapisan ditandai dengan keberadaan Lawa (dibaca Lava) yang merupakan pos keamanan tradisional di setiap bagian benteng yang merepresentasikan sistem pertahanan dan tata ruang khas masyarakat Liya di masa lalu. Keberadaan peta ini sekaligus menegaskan jati diri autentik Benteng Keraton Liya sebagai kawasan bersejarah.
Selain itu, peta wisata ini juga memuat sejumlah titik ikonik, seperti Masjid Mubarok dan Rumah Kamali Lakina Liya, yang dikenal sebagai bangunan tertua dan masih bertahan hingga saat ini. Beberapa mata air yang disebut Uwe serta titik-titik UMKM lokal turut dicantumkan sebagai bagian dari penopang kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Desa Liya Togo.

Meski demikian, penyusunan peta ini belum sepenuhnya mencakup seluruh potensi yang ada. Masih terdapat sejumlah titik Lawa dan mata air yang belum terpetakan dan membutuhkan waktu eksplorasi lebih lanjut.
Hal ini menjadi pekerjaan rumah bersama bagi masyarakat, pemerintah desa, dan generasi muda untuk terus menyempurnakan dokumentasi jati diri Benteng Keraton Liya di masa mendatang.
Keberhasilan program ini tidak lepas dari keterlibatan aktif masyarakat setempat. Pelaksana program menyampaikan terimakasih yang takkan pudar kepada para local heroes Desa Liya Togo yang telah mendukung penuh setiap tahapan kegiatan.
Pada tahapan ekspedisi, terimakasih untuk Kak Orca (Wakatobi Dolphin). Kak Rahmat (Degris) dan Kak Arsyad ( La Ida) dan tim eksesukusi kayu peta yang di mandora oleh Pak Samsuri dengan anggotanya yakni Hendry, Adil, Ilmu, Mely dan Caripu.
Terimakasih juga kepada rekan KKN saya yang turut menenmani dalam ekspedisi yakni Baso Arisal (Ekonomi 22) dan Haenah Hasrat (Ilkom 22).
Respons positif dari masyarakat menjadi penguat tersendiri atas kebermanfaatan program ini. Salah satu warga, Degris, menyampaikan apresiasinya dengan mengatakan bahwa peta tersebut merupakan bentuk kerja nyata yang jarang ditemui dalam kegiatan KKN.
Apresiasi serupa juga datang dari warga lainnya yang menilai peta wisata tersebut sangat membantu dan informatif.
Digitalisasi potensi desa berbasis GIS ini menjadi bukti bahwa teknologi dapat berjalan beriringan dengan nilai-nilai lokal.
Lebih dari sekadar peta, program ini menghadirkan ruang pertemuan antara sejarah, masyarakat, dan masa depan. Dengan dokumentasi yang terus dikembangkan, Benteng Keraton Liya tidak hanya akan dikenang sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai identitas hidup yang terus diwariskan dan dikenali oleh generasi mendatang.
___
Penulis: Risya Nur Awwalunnisa, mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Hasanuddin, Jurusan Geofisika.









