Muhammad Burhanuddin | Galesong dan Jati Diri Maritim Nusantara

  • Whatsapp
Ketua DPP Garuda Astacita Nusantara, Muhammad Burhanuddin (dok: Istimewa)

Ketua DPP Garuda Astacita Nusantara

PELAKITA.ID – Galesong bukan sekadar wilayah pesisir di selatan Sulawesi Selatan. Ia adalah simpul penting dalam sejarah dan kebudayaan maritim Nusantara. Di Galesong, laut bukan batas, melainkan ruang hidup; bukan pemisah, tetapi penghubung.

Ilustrasi kegiatan oleh Pelakita.ID

Tradisi, pengetahuan, dan keberanian masyarakatnya tumbuh dari interaksi panjang dengan laut, pulau, dan pergerakan manusia yang tidak pernah diam. Inilah identitas maritim yang sesungguhnya—hidup, bergerak, dan terus beradaptasi.

Salah satu ciri paling kuat dari tradisi maritim Galesong adalah keberadaan papekang—para pemancing dan pelaut yang berpindah-pindah dari laut ke laut, dari pulau ke pulau.

Papekang bukan hanya profesi, melainkan cara hidup. Mobilitas mereka mencerminkan pengetahuan ekologis yang mendalam, kemampuan membaca angin, arus, dan musim, sekaligus membangun jejaring sosial lintas wilayah. Dalam tradisi ini, laut dipahami sebagai ruang bersama yang harus dijaga, bukan dieksploitasi secara serakah.

Budaya papekang mengajarkan nilai kemandirian, solidaritas, dan keberanian mengambil risiko.

Para papekang Galesong sejak lama terbiasa hidup dalam ketidakpastian alam, namun tetap teguh pada etika berbagi hasil dan saling membantu.

Nilai-nilai inilah yang sejatinya menjadi fondasi karakter bangsa maritim: tangguh, adaptif, dan berorientasi pada keberlanjutan.

Sayangnya, dalam arus modernisasi dan pembangunan yang sering berorientasi darat, tradisi ini kerap terpinggirkan dan kurang mendapat pengakuan yang layak.

Selain tradisi hidup para papekang, Galesong juga menyimpan simbol kebudayaan yang tak kalah penting, yakni Rumah Adat Balla Lompoa.

Balla Lompoa bukan sekadar bangunan fisik, tetapi pusat nilai dan memori kolektif masyarakat. Di sanalah prinsip-prinsip kepemimpinan, musyawarah, dan kehormatan diwariskan lintas generasi.

Arsitekturnya yang kokoh namun selaras dengan lingkungan mencerminkan filosofi hidup orang Galesong: kuat menghadapi tantangan, tetapi tetap menghormati alam.

Keberadaan Balla Lompoa menegaskan bahwa budaya maritim tidak berdiri sendiri sebagai praktik ekonomi, melainkan terikat erat dengan sistem sosial dan politik lokal.

Rumah adat ini menjadi ruang di mana identitas maritim Galesong dirawat dan dimaknai ulang, terutama di tengah perubahan zaman. Ia adalah jangkar budaya yang menjaga masyarakat agar tidak tercerabut dari akar sejarahnya.

Simbol lain yang memperkuat semangat maritim Galesong adalah Bungung Barania di Kampung Bayowa. Bungung Barania—yang secara harfiah bermakna “sumur keberanian”—bukan sekadar penanda geografis atau warisan budaya. Ia adalah simbol dan bekal perlawanan, keberanian, dan harga diri.

Pejuang-pejuang asal Galesong membawa bekal perjalanan dari sumur yang sudah berusia ratusan tahun ini.

Dari Bayowa, semangat juang masyarakat Galesong pernah menyala dalam berbagai fase sejarah, baik melawan penindasan maupun mempertahankan ruang hidup mereka.

Semangat Bungung Barania relevan hingga hari ini. Dalam konteks tantangan global—mulai dari krisis iklim, eksploitasi sumber daya laut, hingga marginalisasi komunitas pesisir—keberanian masyarakat Galesong untuk bersuara dan mempertahankan identitasnya menjadi pelajaran penting.

Keberanian ini bukan keberanian yang destruktif, melainkan keberanian untuk bertahan, beradaptasi, dan memperjuangkan masa depan yang adil.

Sebagai Ketua DPP Garuda Astacita Nusantara, saya memandang Galesong sebagai contoh nyata bagaimana tradisi budaya maritim dapat menjadi kekuatan strategis bangsa.

Papekang, Balla Lompoa, dan Bungung Barania adalah tiga pilar yang saling terhubung: praktik hidup, institusi budaya, dan semangat juang.

Ketiganya membentuk ekosistem nilai yang jika dirawat dengan baik, dapat menjadi modal sosial dan kultural bagi pembangunan maritim Indonesia yang berkeadilan.

Sudah saatnya kita berhenti melihat wilayah pesisir seperti Galesong sebagai pinggiran. Justru dari tempat-tempat inilah kita dapat belajar tentang ketahanan, keberlanjutan, dan identitas bangsa.

Merawat tradisi maritim Galesong berarti merawat ingatan kolektif kita sebagai bangsa bahari. Dan tanpa ingatan itu, Indonesia berisiko kehilangan arah di tengah samudra perubahan global.

Selamat ber-seminar Menyusuri Jejak Sejarah Galesong!

___
Jakarta, 4 Februari 2026