Kisah di Balik Puang Mengga: Ingatan Mursalim Thahir tentang Ayahnya dan Masa di Polmas

  • Whatsapp
Kiri, ayah Mursalim, Muhammad Thahir, tengah Pak Masdar, ayahanda Ali Bal Masdar, ujung kanan M.Amin, Ayahanda Arniaty Amin, foto tahun 1981 (dok: Mursalim Tahir)

“Tunjuk mako tanah di sini yang mana kau maumi, bangun rumah,” demikian kalimat Puang Mengga yang terus diingat dan diceritakan kembali oleh keluarga Mursalim.

PELAKITA.ID – Ingatan tentang masa lalu sering kali hidup bukan dalam arsip resmi, melainkan dalam cerita keluarga yang diwariskan dari mulut ke mulut.

Dari sanalah Mursalim Thahir, jurnalis Kabarika.ID mengenang satu fase penting dalam hidup ayahnya—dan sekaligus sepotong kisah tentang Puang Mengga, tokoh kuat yang pernah memimpin Polewali Mandar (Polmas) pada masanya.

Ayah Mursalim bertugas di Polmas sejak sekitar tahun 1976 hingga 1985. Dalam rentang hampir satu dekade itu, ia menjadi saksi sekaligus bagian dari dinamika kekuasaan, relasi personal, dan kebudayaan politik yang khas di wilayah tersebut.

“Ini kisah yang sering saya dengar dari Mama saya,” ujar Mursalim kepada Denun dari Pelakita.ID, Rabu, 3 Februari 2026.

Dia menegaskan bahwa apa yang ia ceritakan adalah ingatan keluarga yang tumbuh dari pengalaman langsung, percakapan, dan cerita rumah.

Pada masa itu, kata Calim – begitu sapannya, Polmas masih berada dalam bayang figur Puang Mengga—tokoh yang dikenal luas, disegani, sekaligus ditakuti.

Banyak kisah beredar tentang kehidupan pribadinya, termasuk tentang para istri yang kemudian menjadi bagian dari cerita rakyat setempat.

Salah satu yang paling sering disebut berdarah Tionghoa, yang kelak dikenal sebagai first lady ketika Puang Mengga menjabat sebagai bupati.

Dalam cerita yang hidup di tengah masyarakat Polmas kala itu, sosok Puang Mengga digambarkan sebagai figur dengan kuasa besar.

Ada kisah-kisah kontroversial tentang relasi rumah tangga yang dibangun dalam suasana kekuasaan, kisah yang oleh orang-orang Polmas sendiri sering diceritakan dengan nada bercampur antara kagum hingga humor getir.

Di tengah semua itu, ayah Mursalim menempati posisi yang unik. Ia bukan tentara, melainkan sipil, dengan jabatan sebagai Kepala Penerangan. Namun relasinya dengan Puang Mengga melampaui hubungan struktural semata.

Pernah suatu kali, dalam sebuah kunjungan ke salah satu daerah, rombongan Pak Mengga harus terhenti karena sebuah jembatan rusak dan kendaraan yang mereka tumpangi terhalang oleh mobil lain.

Dalam situasi itu, emosi Pak Mengga sempat memuncak.

“Ia berkata kepada ayah kami, bahwa seandainya tidak sedang bersama beliau, mungkin ia sudah turun tangan menghadapi orang-orang di lokasi tersebut. Ayah kami segera menenangkannya dengan halus, memintanya untuk bersabar dan tidak terpancing suasana,” kenang Calim.

“Bapak saya itu penasehat agamanya Puang Mengga,” kenang Mursalim sambil tertawa kecil, menggambarkan bagaimana ayahnya kerap diminta memberi nasihat keagamaan kepada sang penguasa yang, menurut cerita keluarga, memiliki hubungan yang tidak selalu rapi dengan praktik keagamaannya.

Kedekatan itu membuat ayah Mursalim dikenal sebagai “anak buah kesayangan” Puang Mengga.

Relasi mereka tidak hanya diikat oleh pekerjaan, tetapi juga oleh kepercayaan personal. Hal ini terlihat jelas menjelang masa pensiun sang ayah.

Saat hendak pamit untuk kembali ke Palopo, ia menghadap Puang Mengga untuk menyampaikan niatnya.

Respons Puang Mengga, sebagaimana diceritakan ulang dalam keluarga, sangat khas. Ia meminta sang ayah untuk tetap tinggal di Polmas dan menghabiskan masa tua di sana.

“Tunjuk mako tanah di sini yang mana kau maumi, bangun rumah,” demikian kalimat Puang Mengga yang terus diingat dan diceritakan kembali oleh keluarga Mursalim.

Namun tawaran itu ditolak dengan halus. Ayah Mursalim memilih kembali ke Palopo, dengan niat mengisi masa pensiunnya sebagai pengajar di ST Sospol Palopo—perguruan tinggi yang ikut ia rintis.

Pilihan itu menunjukkan sisi lain dari dirinya: seorang birokrat yang tetap setia pada dunia pendidikan dan pengabdian intelektual.

Bagi Mursalim, kisah ini bukan sekadar nostalgia. Ia juga mengenang kehidupan sehari-hari di Polmas, bertetangga dengan keluarga-keluarga yang kelak dikenal luas, seperti Pak Hasan Mangga—ayah dari Yusuf Manggabarani—di kawasan Jalan Kemakmuran, dekat Lapangan Gaspol.

Detail-detail kecil ini memperlihatkan bagaimana sejarah besar sering kali berkelindan dengan kehidupan kampung, rumah, dan relasi antarwarga.

Kisah tentang ayah Mursalim dan Puang Mengga, dengan segala keunikan dan kontroversinya, adalah potret sebuah zaman.

Zaman ketika kekuasaan begitu personal, relasi begitu dekat, dan cerita-cerita tentang pemimpin hidup lebih lama di ingatan masyarakat daripada di buku sejarah.

Ia mengingatkan kita bahwa sejarah lokal tidak selalu hitam-putih—melainkan penuh lapisan, seperti manusia-manusia yang menjalaninya.

Editor Denun